Hamka (1908-1981) mengisahkan babak-babak biografis dalam buku berjudul Kenang-Kenangan Hidup (1951). Ia tak sodorkan fiksi tapi pengalaman dan pemaknaan diri, sejak bocah sampai dewasa. Ia tampil sebagai sosok tak luput dari salah dan dosa dalam beragam urusan: agama, keluarga, sekolah, pekerjaan, asmara, dan lain-lain. Ia mengenang pengalaman saat bocah: "Pada umur tudjuh tahun dia disuruh sembahjang, tetapi puasa belum diperintahkan. Terhadap puasa tidaklah dikerasi. Melainkan apabila satu kali telah ditjobanja puasa dan dia tahan sampai petang tidak lepas, barulah datang perintah bahwa puasa itu tidak boleh ditinggalkan lagi."
Berpuasa itu berat. Bocah itu mendapat godaan berpusat makanan. Hasrat makan susah ditahan. Hamka dalam nafsu makan: "Segala perbukaan ajahnja, serikaja, roti, nasi lemak, lemang, gado-gado, tapai dan lain-lain, habis disikatnja. Minta tambah lagi.” Ia mengalami pesta kenikmatan. Pada suatu hari, Hamka kecil itu terjerat lagi nafsu makan saat diajak teman-teman ke surau: “Dia diberi lemang dan tapai, tebu dan gado-gado. Semuanja dimakannja pula. Sampai lewat dari kenjang. Setelah selesai diapun pulang. Sampai di rumah, orang-orang tua telah selesai makan dan minum. Dia pun pergi ke tempat orang jang berbuka. Bertemu pula makan buah-buahan jang enak: djeruk manis, sawo manila, rambutan, langsat.” Semua diajak masuk ke perut. Si bocah merasa sakti dan meraih puncak kenikmatan pangan.
Bocah belum menggunakan pikiran bijak dan kesopanan. Detik-detik berlalu dengan kemenangan besar dalam makan. Hamka perlahan merasakan pergolakan di perut. Tapai sedang menjadi “kepala pemberontak” minta keluar akibat kedatangan beragam makanan. Perut bisa “meledak”. Hamka membahasakan: “Tapai mengerahkan segenap pradjuritnja keluar, tempat terlalu sempit.” Si bocah pun muntah. Segala makanan keluar “berkeping-keping”. Hamka muntah sampai pingsan.
Ingatan masa bocah berlatar awal abad XX itu membuktikan pengalaman berpuasa tak mutlak indah. Bocah sadar godaan makanan. Bocah mendapat ganjaran. Hamka jujur menulis diri saat bocah. Ia mungkin ingin mengabarkan tentang bocah dan puasa dalam kemenangan dan kekalahan.
Pengalaman berbeda dimiliki Azyumardi Azra (1955-2022). Cendekiawan tenar (2013) itu memiliki pengalaman panjang saat menikmati puasa. Kita membaca kesederhanaan, sejak bocah sampai tua: “Sejak dulu sampai sekarang, makanan untuk berbuka puasa di keluarga saya tidak ada yang aneh-aneh atau berlebihan, malah sangat sederhana. Yang sering disediakan – dan semua orang di dalam keluarga menyukainya – adalah gorengan buatan sendiri. Kami bahkan jarang membuat kolak. Saat berbuka, kami hanya makan bakwan dan minum cendol.” Kita mungkin menganggap itu kecukupan, bukan “sangat sederhana”.
Perbandingan dengan bocah-bocah abad XXI. Ramadhan biasa menjadikan mereka “dimanjakan” oleh keluarga atau pengurus masjid. Pada setiap sore, masjid-masjid ramai kehadiran bocah-bocah. Selama bulan Ramadhan, mereka ke masjid untuk belajar membaca Al Quran dan buka puasa bersama. Pihak pengurus masjid sering menggunakan anggaran besar agar makanan dan minuman untuk bocah-bocah itu memuaskan. Pemberian menu buka puasa bersama kadang ditanggung jamaah secara bergilir. Mereka bersukacita mengadakan beragam menu sadar pahala dan ikhtiar membahagiakan bocah-bocah. Konon, pikat pangan itu kodrat bagi bocah. Di masjid, bocah-bocah itu “menjawab” lapar seharian dengan kenikmatan makanan dan minuman, ditambah berbagi cerita dan canda.
Kita beralih membaca ingatan As’ad Sa’id Ali (2013) mengenai masa bocah dan Ramadhan. Ia mengungkapkan: “Terkait dengan pengalaman berpuasa, sejauh yang saya ingat, saya mulai berpuasa sejak umur 5 tahun, meskipun tidak penuh 30 hari. Saya baru bisa berpuasa penuh ketika berumur 10 tahun. Saya akan merasa sangat malu kalau tidak berpuasa penuh. Ibu selalu mengawasi saya dengan sangat ketat karena beliau adalah guru ngaji. Demikian juga ayah, yang secara detail mengamati tingkah laku saya saban hari selama bulan Ramadhan.” Ia sadar dampak-dampak pengawasan orangtua pengalaman beragama.
Si bocah tetap mendapat kegembiraan selama Ramadhan. Kegembiraan terpenting tentu makanan. Ia memiliki anggapan: “Setahun penuh orang-orang mengumpulkan uang seolah hanya untuk menyambut datangnya bulan suci itu.” Kenangan pangan dan bocah itu turut membentuk pemaknaan diri beragama. Kewajiban beribadah puasa mendapat tebusan-tebusan kenikmatan.
Kini, pengalaman itu bertambah rumit saat bocah-bocah ketagihan jajanan-jajanan kemasan. Ramadhan dimengerti oleh perusahaan-perusahaan makanan dengan menghadirkan jajanan kemasan menggiurkan disokong iklan-iklan mengajak bocah-bocah bersukacita. Iklan menganjurkan bocah-bocah tak cukup bersantap suguhan buka puasa di rumah atau masjid. Mereka masih bernafsu membeli jajanan-jajanan kemasan berharap seperti kenikmatan “tercipta” dalam iklan-iklan.
Situasi pangan dan Ramadhan tiap zaman menampilkan perbedaan wujud dan derajat kenikmatan. Bocah-bocah abad XXI perlahan mengaku bosan dengan makanan-makanan dimasak di rumah atau tersaji dalam acara-acara buka puasa bersama. Mereka “terbujuk” jajanan-jajanan dengan nama-nama unik dan asing. Nafsu mereka bereferensi iklan-iklan rajin bermunculan di televisi dan media sosial. Ramadhan justru menjadi “pameran” iklan makanan.
Kita insaf situasi zaman tak lagi seperti dialami Hamka. Ramadhan dimengerti bocah bukan sekadar buka puasa bersama di rumah atau masjid. Mereka merasa “sempurna” bila telah jajan dan menikmati beragam jajanan. Bocah-bocah sadar bulan berlimpahan makanan. Ramadhan itu makan(an).
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


