Dark
Light
Dark
Light

Tarawih Dua Sesi dan Satu Jus di Masjid Ash Shiddiq Banjarnegara Jawa Tengah

Tarawih Dua Sesi dan Satu Jus di Masjid Ash Shiddiq Banjarnegara Jawa Tengah

Suasana masjid dan musala terasa lebih hangat dan semarak di Bulan Ramadhan. Umat Islam beribadah penuh semangat. Usai azan Isya berkumandang, saf-saf segera dirapatkan. Mereka menunaikan salat tarawih. Kadang dilanjutkan pengajian, tadarus, juga itikaf.

Salat tarawih menjadi ibadah yang dirindukan di bulan suci. Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan tarawih sebagai bagian dari qiyam Ramadhan. “Barangsiapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” demikian riwayat yang kerap dikutip para khatib. 

Ghirah ibadah tarawih dengan ragam jumlah rakaat menjaga malam Ramadhan selalu hidup. Secara umum, umat Islam di Indonesia mengenal dua pola jumlah rakaat tarawih yakni 11 rakaat (8 tarawih dan 3 witir) serta 23 rakaat (20 tarawih dan 3 witir). Keduanya memiliki landasan dan pedoman yang kuat. Masyarakat pun telah bijak memahami tuntunan tersebut, sehingga keduanya dapat berjalan dengan harmonis.

Di sejumlah tempat, tarawih dikerjakan dengan bacaan surat-surat pendek. Sementara di beberapa tempat lainnya, bacaan diperpanjang hingga satu juz dalam satu malam, dengan menargetkan khatam Al-Quran selama Ramadhan.

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, ibadah salat tarawih satu juz bukan hal baru. Beberapa masjid dan pesantren menggelarnya secara konsisten. Di Masjid Al Kautsar Gotong Royong, jamaah telah lama terbiasa dengan suratan panjang dalam tarawih. Masjid yang ada di pusat kota ini dikenal paling awal melakukan tarawih metode 1 juz. 

Demikian juga di Pesantren Jegongan Manfaat, Desa Bantarwaru Kecamatan Madukara. Di pondok yang menggabungkan tradisi pesantren dengan partisipasi masyarakat ini, jamaahnya bahkan datang dari beberapa desa sekitar. Mereka menyiapkan diri dengan stamina dan niat yang kuat, karena tarawih dengan 1 jus ini bisa selesai tengah malam.

Perhatian masyarakat juga tertuju pada Masjid Ash Shiddiq yang ada di Jalan Raya Desa Pucang Kecamatan Bawang. Di bulan suci tahun ini, panitia amaliah ramadhan masjid itu kembali menyelenggarakan tarawih dalam dua sesi. 

Menurut seorang jemaah masjid Masjid Ash Shiddiq, Rusli, menjelaskan pembagian dua sesi tarawih itu dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat, serta meyediakan pilihan bagi jamaah yang ingin lebih maksimal dalam menjalankan badahnya.
“Tarawih sesi pertama biasa disebut reguler. Dilaksanakan ba’da Isya. Delapan rakaat tarawih dan tiga witir, dengan bacaan surat-surat yang lazim dibaca di banyak masjid,” kata Rusli, yang berasal dari Jawa Barat dan telah lama menetap di Banjarnegara.

Sedang tarawih sesi kedua dimulai sekitar pukul 21.00. Jumlah rakaatnya sama, 8 tarawih dan 3 witir, namun dengan metode satu juz tiap malamnya. Artinya, dalam 30 malam Ramadhan, jamaah akan mengkhatamkan 30 juz Al Quran dalam salat tarawih.

Imam salat tarawih pada sesi kedua dengan 1 juz adalah Ustaz Aziz Fikri MA dari Banjarmangu. Bacaannya dilantunkan dengan tartil dan tempo yang terjaga. Imam salat terasa berupaya menjaga keseimbangan, sehingga jamaah bisa mengikuti dengan nyaman.

Menariknya, tarawih satu juz ini tidak hanya diikuti anak muda. Saf putra biasanya terisi sekitar 25 hingga 35 orang. Saf putri sekitar 10 jamaah. Ada pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga jamaah sepuh yang tetap setia berdiri dalam rakaat panjang.

Rusli sendiri termasuk jamaah sepuh yang rutin mengikuti sesi satu juz. Baginya, tarawih dengan bacaan panjang menghadirkan kekhusyukan tersendiri.

“Kalau sudah masuk rakaat ketiga atau keempat, rasanya hati lebih tenang. Bacaan yang panjang seperti membawa pelan-pelan masuk ke dalam makna ayat,” ujarnya. Ia mengakui, pada awalnya tubuh terasa lelah. Namun setelah beberapa malam, ritme ibadah terbentuk dengan sendirinya. “Yang penting niat dan dijaga kesehatannya.”

Salah satu jamaah muda, Fajar (23), mengaku bersemangat mengikuti tarawih satu juz sebagai latihan disiplin diri. 

“Awalnya khawatir tidak kuat berdiri lama. Tapi ternyata saya kuat dan bisa menjalani dengan baik,” ungkapnya.

Ia berbagi kiat sederhana, yakni menjaga pola makan saat berbuka, tidak berlebihan mengonsumsi gorengan, cukup minum air putih, dan tidur sejenak pada siang hari. 

“Kalau badan fit, insya Allah kuat. Yang berat itu justru melawan rasa malas,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut Fajar, suasana tarawih satu juz menghadirkan kebersamaan yang hangat. Jamaah merasa seperti menjalani pengalaman ibadah yang mengesankan.

“Kami saling menyemangati. Kalau lihat bapak-bapak yang lebih sepuh tetap kuat berdiri, kami jadi termotivasi. Masa kami yang muda kalah?” ujarnya terkekeh.

Masjid Ash Shiddiq berdiri di atas tanah wakaf dari Mardiredja, Soemarhan, dan ibu Warsiti. Diserahkan pada 3 Februari 1989 kepada pimpinan cabang Muhammadiyah Pucang Banjarnegara. di sini tersedia fasilitas wifi, kopi dan teh gratis untuk para jamaah. Tempat wudhu dan toiletnya pun bersih, mukenanya rapi dan wangi.

Sejumlah tokoh juga pernah singgah di Masjid Ash Shiddiq Pucang dalam momentum tabligh akbar, pengajian Ramadhan, dan peringatan hari besar Islam. Salah seorang pesohor yang cukup dikenang jamaah adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal anak muda sebagai Noe Letto. Putra Cak Nun pernah tampil sebagai pembicara pengajian di masjid ini.

Tradisi tarawih dengan target khatam bukanlah hal baru dalam khazanah Islam. Media NU Online dalam beberapa tulisannya menyebutkan bahwa tarawih dengan bacaan panjang hingga khatam merupakan bagian dari ijtihad ulama dan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat. Selama dilakukan dengan menjaga kekhusyukan dan tidak memberatkan secara berlebihan, praktik tersebut sah dan bernilai ibadah.

Sejumlah tokoh NU juga mengingatkan, perbedaan jumlah rakaat maupun panjang bacaan hendaknya tidak menjadi sumber perdebatan. Yang utama adalah semangat qiyam Ramadhan dan keikhlasan dalam beribadah. Ada yang memilih tarawih 11 rakaat dengan bacaan pendek, ada yang 23 rakaat, dan ada pula yang menempuh satu juz setiap malam. Yang terpenting, ibadah tarawih adalah sarana melatih kesabaran dan ketahanan untuk meningkatkan kualitas diri, serta iman dan Islam.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo