Saat masih anak-anak, saya sering mendengar keagungan Nabi Sulaiman. Setiap menyimak beragam kisah tentang beliau, saya merasa seperti menyaksikan peristiwa luar biasa layaknya film-film Disney. Kisah yang paling teringat ketika Nabi Sulaiman bicara dengan pemimpin semut. Wah, dalam cerita itu hewan ditempatkan pada derajat hampir serupa manusia. Mereka tidak dipandang sebatas pelengkap atau pemanis bumi. Semut diberikan kesempatan untuk bernegosiasi.
Di banyak film, salah satunya berjudul A Bug’s Life (John Lasseter, 1998) semut ditampilkan amat detail dan apik. Serangga itu digambarkan hidup layaknya manusia yang memiliki kebudayaan dan strata sosial. Flik, semut golongan pekerja dikisahkan menjadi tokoh utama yang menggerakkan arah kehidupan koloni semut. Lewat petualangan dan konflik yang seru, Flik beserta teman-temannya berhasil menyusun strategi untuk membebaskan koloninya dari penindasan yang dilakukan belalang. Penonton diajak berbahagia, tegang, dan berpikir kritis.
Saya pikir, kehidupan semut yang begitu meriah dan unik hanya ada di film, ternyata tidak. Di kehidupan nyata pun demikian. Ensiklopedia IPTEK (Lentera Abadi, 2007), terjemahan buku The Kingfisher Science Encyclopedia, memaparkan bahwa serangga adalah makhluk sosial yang mengerti peran, termasuk semut.
Semut, rayap, dan lebah dicatat sebagai serangga sosial. Mereka hidup dalam suatu koloni. Di dalam koloni ada pembagian peran-peran. Pusat kehidupan koloni ada pada seekor ratu petelur, sementara pejantan hanya bertugas membuahi ratu-ratu baru yang terbang ke tempat lain untuk mendirikan koloni-koloni baru. Setelah kawin, pejantan akan mati.
Serangga pekerja melaksanakan tugas untuk kelangsungan hidup koloni. Serangga golongan ini dibagi menjadi beberapa kasta atau tingkatan, tergantung jenis pekerjaan masing-masing. Misalnya semut tentara akan otomatis memahami tugasnya sebagai pelindung koloni.
Serangga sosial bertugas membangun struktur rumah yang rumit. Tawon membuat semacam sarang kertas dari bahan kunyahan tumbuhan. Lebah membangun sarang madu geometris yang dibuat dari sel-sel lilin. Sedangkan semut dan rayap membuat sarang dari tanah.
Serangga sosial seperti semut hidup sebagai koloni yang beranggotakan ratusan atau ribuan individu. Setiap individu berperan sebagai anggota komunitas yang bertugas membela dan memberi makan ratu dan anak-anaknya. Pada hewan tingkat tinggi, hidup dalam kelompok lebih memberi jaminan keamanan.
Saya menjadi teringat film Divergent (2014) garapan Neil Burger. Film ini menggambarkan pembagian peran dalam kehidupan manusia, layaknya seperti serangga. Berlatar di masa depan, sinema Divergent membagi masyarakat menjadi lima faksi berdasarkan sifat dominan mereka: Candor (jujur), Erudite (cerdas), Amity (cinta damai), Dauntless (pemberani), Abnegation (tidak mementingkan diri sendiri), Factionless, (tidak memiliki fraksi karena gagal dalam proses seleksi), dan Divergent (memiliki lebih dari satu sifat dominan sehingga tidak cocok berada dalam satu faksi tertentu). Semua orang yang masuk dalam faksi memahami perannya masing-masing dan saling bekerja sama seperti sebuah koloni.
Sebenarnya manusia atau serangga yang hadir terlebih dahulu di bumi? Jika serangga, barangkali sistem kehidupan manusia sebenarnya banyak mengadopsi pola hidup yang dibangun para hewan. Atau mungkin semesta memiliki pola yang sama pada tiap-tiap makhluk hidup
Bicara mengenai serangga, saya juga teringat pada kupu-kupu. Hewan cantik pemilik sayap indah. Kehidupan kita tentu lekat dengan hewan hasil metamorfosis ulat ini. Beragam film, lagu, buku, hingga logo banyak dialamatkan pada hewan tersebut. Misalnya film Mama (2013) garapan Andreas Muschietti, lagu Kupu-kupu Malam (1991) gubahan Titiek Puspa, dan buku Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006) karya Puthut EA.
Semua mata takjub menatap dan berimajinasi dihadapan sayap-sayapnya. Namun sayang, di balik keindahan itu kehidupan kupu-kupu mendekati garis kritis. Hewan ini terancam hilang. Kerusakan habitat, perubahan iklim, dan perburuan menjadi penyumbang masalah kepunahan.
Tulisan bertajuk Penangkap Kupu-kupu dalam National Geographic Indonesia (2018), melaporkan perburuan kupu-kupu yang terjadi di Sulawesi. Dalam penutup tulisan, penulis memberikan kesimpulan akhir penyebab maraknya perburuan kupu-kupu di seluruh dunia: “Saya menduga daya tarik yang terus bertahan terletak dalam kehidupan singkat mereka. Seperti blumei yang dicubit Aris dengan lembut di puncak gunung Sulawesi, mereka tampaknya ada di ujung ketiadaaan, melayang di sepanjang garis batas fana. Mereka sangat rapuh, sulit direngkuh saat hidup, dan tidak cukup memuaskan saat kehilangan nyawa.”
Setelah persoalan kepunahan yang menghantui kupu-kupu, kepala saya melompat pada tema sejarah. Indonesia berhutang pada kupu-kupu. Bukan hewan, melainkan kupu-kupu malam yang disepakati sebagai metafora pekerja seks. Sejarah Indonesia tidak lepas dari peran para kupu-kupu malam yang ikut membangun jalan menuju kemerdekaan. National Geographic (17/8/2024) menuliskan bahwa ketika Bung Karno mendirikan PNI, beliau turut mengajak para pekerja seks (PS) untuk bergabung.
Di Bandung, ada 670 PS yang ikut terlibat. Bung Karno meyakini bahwa PS adalah mata-mata terbaik dalam menggali informasi penting dari para petinggi kolonial. “Tak satu pun laki-laki anggota partai yang terhormat dan sopan itu dapat mengerjakan tugas ini untukku," ujar Soekarno yang juga menyampaikan para PS bukan saja penyumbang yang menyenangkan, tetapi juga penyumbang yang besar dalam revolusi Indonesia.
Editor: Kendi Setiawan


