Di pergantian tahun, kita berimajinasi demokrasi dan kitab suci di kota terpenting di dunia. Kita belum melupa semua kejadian dan tokoh berlatar 2025. Kini, kita membuat lembaran-lembaran baru. Januari sedang mengalir dengan sekian berita dan tafsir. Kita pun mendapatkan tokoh menguak masa lalu Amerika Serikat. Di Indonesia, kita sedang murung gara-gara demokrasi mengandung seribu dusta. Di New York, Amerika Serikat, kita digoda agar tetap memihak demokrasi.
Kabar tersiar dari sana tak sekadar demokrasi. Publik di Indonesia dan dunia melihat sosok penggerak demokrasi dan kitab suci dalam pengucapan sumpah. Adegan disorot kamera, mendapat jutaan penonton di pelbagai negara.
Di cuaca dingin, Zohran Mamdani berdiri dalam “ritual” demokrasi. Penonton pun melihat Al-Qur'an. Peristiwa mengesahkan demokrasi “unik” telah terwujud di New York. Demokrasi berkitab suci. Sosok beragama Islam menunaikan tugas-tugas besar di kota keseringan menjadi referensi dunia. Ia berdiri atas nama demokrasi, bukan berkhotbah atas nama agama. Di New York demokrasi masih tegak meski “kedinginan”.
Di buku berjudul Mengenal Masyarakat dan Budaya Amerika Serikat (1994) dengan editor Luther Luedike, kita menemukan artikel-artikel buatan para pakar dalam membahas sejarah dan perkembangan “roman akbar” di negara besar. Beragam masalah bermunculan sejak babak awal pembentukan negara, bergerak dengan pelbagai polemik dan mufakat.
Dulu, agama itu sumber “sengketa” saat Amerika Serikat ingin tampil sebagai “negara demokratis”. Pada abad-abad berlalu, para pendiri negara sadar konflik dan keselarasan dalam membuat pijakan-pijakan negara. Sejarah itu terus terbaca saat Amerika Serikat makin berkuasa di dunia.
“Hampir tidak ada orang meragukan bahwa agama merupakan unsur penting dalam membentuk karakter dan peradaban,” anggapan Martin EM. Ia menaruh kalimat itu berkepentingan menilik agama-agama di Amerika Serikat, dari masa ke masa. Ia pun menjelaskan berlatar abad XX:
“Paduan pemandangan Amerika Serikat dengan manusia-manusia selalu baru, agama-agama lama dan baru, serta putusan politis tampak cukup kebetulan dalam terang cahaya sejarah dunia… Sebagian besar menemukan alasan untuk bersyukur tentang yang telah mereka warisi dan (setelah berdebat tidak berkeputusan) bergabung dalam suatu konsensus yang mengilhami mereka untuk melanjutkannya.”
Kita membaca kalimat-kalimat itu sambil berusaha mengerti posisi Zohran Mamdani dan keluarga di Amerika Serikat. Mereka datang pada abad mendegungkan demokrasi. Kedatangan sebagai imigran. Pada abad XXI, Zohran Mamdani perlahan menjadi pengisah demokrasi dan membuka ulang penasfiran Islam di Amerika Serikat.
Masa lalu terbaca lagi melalui buku berjudul Kaleidoskop Amerika: Ras, Etnik, dan Budaya (1994) susunan Lawrence H Fuchs. Di situ, terbaca silam: “Bisa saja imigran disambut sebagai pekerja. Namun, lain lagi jika mereka harus disambut hangat sebagai warga negara. Thomas Jefferson menyangsikan tidak lama setelah revolusi, apakah negara baru ini dapat menerima imigran dalam jumlah besar dan tetap mempertahankan prinsip-prinsip republiknya setelah revolusi.” Kita diingatkan tokoh besar bertaut demokrasi dan kitab suci di Amerika Serikat abad XXI. Keluarga Zohran Mamdani itu imigran dalam tatanan hidup berbeda dari masa Thomas Jefferson.
Kini, kita ingin mempertemukan Thomas Jefferson dan Zohran Mamdani merujuk kitab suci. Buku penting terbaca lagi berjudul Kontroversi Al Quran Thomas Jefferson (2014) garapan Denise A Spilberg. Penerbitan buku sudah meramalkan kemunculan tokoh-tokoh beragama Islam atau bersumpah dengan Al-Qur'an dalam alkon demokrasi Amerika Serikat abad XXI. Pada 2007, Keith Ellison menjadi anggota kongres. Ia beragama Islam. Keith Ellison memilih mengucap sumpah menggunakan Al-Qur'an milik Thomas Jefferson.
Kita mengenang tokoh, kitab suci, dan Amerika Serikat. Denise berkisah:
“Suatu pagi yang hujan pada April 2011, saya memesan Al Quran (milik) Thomas Jefferson dari Ruang Buku Langka di Perpustakaan Kongres. Di luar, bunga tulip menyala merah terang di sekeliling Gedung Capitol… Dua edisi Al Quran tiba di meja saya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Saya duduk terkagum-kagum. Segepok harta karun negara menjadi “milik” saya untuk saya baca dengan teliti. Sebagai seorang sejarawan dan warga negara, saya sudah memikirkan selama bertahun-tahun tentang kemungkinan makna dari Al Quran milik Thomas Jefferson. Kini, tiba-tiba, saya bisa menyentuh jilidan kulit cokelatnya dan mendengarkan gemerisik lirih saat saya membalik-balik halaman-halamannya yang menguning.” Ia dalam ketakjuban, mengenang tokoh dan melihat sejarah. Di hitungan menit, ia bergerak jauh dalam usaha turut mendefinisikan Amerika Serikat.
Pengalaman terlalu istimewa: “Bagi saya, halaman-halaman Al-Qur'an milik Thomas Jefferson mewakili bukti sejarah yang sakral, bukan tentang kebenaran Islam, tetapi tentang kapasitas dan keinginan beberapa orang Amerika Serikat awal untuk mempelajari agama Islam.” Kitab suci di Amerika Serikat itu menjadi bukti selebrasi kemerdekaan dan demokrasi. Jejak unik jarang mendapat perhatian di pergantian abad XX dan XXI.
Pada masa lalu, Thomas Jefferson berimajinasi muslim sebagai warga negara. Keterangan disampaikan Denise: “Keterlibatannya dengan agama Islam berawal dengan pembelian sebuah Al Quran, sebelas tahun sebelum Thomas Jefferson menulis Deklarasi Kemerdekaan (1776). Al-Qur'an milik Thomas Jefferson masih bertahan hingga sekarang di Perpustakaan Kongres, berguna sebagai simbol atas hubungan kompleks dirinya dan Amerika Serikat awal dengan Islam dan para penganutnya. Hubungan itu tetap menjadi pertanda penting hingga hari ini.” Kita mengingat kitab suci dan gejolak pembentukan negara berlatar abad XVIII dan XIX. Kitab suci hadir dalam perumusan demokrasi untuk bertumbuh di Amerika Serikat.
Pada 2026, kita melihat Zohran Mamdani bersumpah untuk mengurusi New York. Ia meletakkan tangan di kitab suci. Istri (Rama Duwaji) mendampingi dengan memegang dua Al-Qur'an: koleksi Mamdani berasal dari kakek dan koleksi Perpustakaan Umum New York berasal dari abad XVIII. Jutaan orang di dunia melihat selebrasi demokrasi dan kitab suci. New York menjadi tempat “terindah” untuk memikirkan lagi demokrasi dengan tafsir berbeda atas Islam di Amerika Serikat.
Di Indonesia, kita cuma penonton. Kita belum perlu berpikir serius dampak kitab suci dalam arus demokrasi mutakhir di New York (Amerika Serikat). Pada saat menonton peristiwa penting di New York, kita justru sedang bimbang akibat demokrasi di Indonesia. Kita mungkin ingin menekuni halaman-halaman Al-Qur'an agar sadar ulah para pejabat. Dulu, mereka pun bersumpah dan memamerkan kitab suci tapi memberi lakon demokrasi bergelimang ilusi. Di Indonesia, kita biasa melihat Al-Qur'an berada di atas kepala saat bersumpah. Pemandangan berbeda dengan tata cara Zohran Mamdani di New York. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


