Dark
Light
Dark
Light

Muazin, Rumi dan Bayazid

Muazin, Rumi dan Bayazid

Syahdan, di sebuah kampung kecil di negeri para bedebah, seorang muazin melantang panggilan sholat. Suaranya sangat jelek untuk dapat disebut berasal dari alam malakut yang sakral. Tidak ada kekuatan sentuhan apalagi menggugah. Jangankan berkirim ketukan ke dalam dada para bedebah, membuat mereka yang beriman beranjak menuju masjid saja, azan itu tak bisa. Sejumlah kaum Muslimin memintanya berhenti melantunkan azan. 

Mereka cemas akan keselamatannya. Tindakannya memaksa terus azan di lingkungan "kafir", dikhawairkan bisa mengancam harmoni kampung. "Sudahlah! Jangan lagi kamu azan untuk memanggil orang-orang sholat. Kita tinggal di kampung kecil, di negeri besar yang penduduknya para bedebah. Ratusan tahun kaum itu tidak mau mendengar firman Tuhan yang indah apalagi suaramu yang jelek," saran jamaah tetangga masjid. 

Arkian, demikian Rumi melanjutkan kisahnya dalam Kitab Matsnawi, sang muazin menolak saran. Ia merasa sedang mengemban tugas profetik; kewajiban menyampaikan pesan ketuhanan. Ia masih ingat benar kata-kata "qulil haqqa walau kana murran--katakan yang haq meski itu akan tarasa pahit." Ia yakin nasib agama ini sedang ada di pundaknya. Sedikit saja ia mundur, masa depan risalah Tuhan akan lenyap ditelan negeri bedebah. 

 

Ia menganggap saran para jamaah sebagai pelecut dan penambah pahala. Keberatan orang-orang atas girahnya azan, lewat begitu saja. Masuk dari telinga kiri dan melintas di telinga kanan. Agama ini, desahnya, datang dalam keadaan terasing dan akan kembali kepada Tuhan juga dalam keterasingan. Ia tak mengapa diasingkan. Dengan tangan terkepal dan suara batinnya yang bertenaga, ia berseru, "fatuubaa lil ghurobaa--maka berbahagilah, hai para legiun asing!"

Saat ketegangan kian merayap dalam diri kaum Muslimin, seorang kafir tiba di masjid. Ia menemui mereka dengan penuh persahabatan. Ia menyapa satu-satu. Ia memberi tiap orang di masjid itu satu senyuman. Ia membawa lilin, jubah dan manisan. Dengan suaranya yang lembut, ia bertanya di mana dia yang rutin lima kali sehari semalam melantang azan. Ia merasa harus segera dapat bertemu dengan muazin. 

"Tolong sebutkan nama dia untuk saya! Katakan di mana orang yang telah berkirim rasa bahagia ke dalam hati kami. Suara orang itu telah memecah kesempitan hidup kami." Jamaah tercekat. Mereka saling pandang. Kebahagiaan macam apa yang dia dapat dari suara jelek yang telah membuat tegang kaum Musilmin itu. "Suaranya yang melengking, menyibak malam, memecah kegelapan dan menembus ke dalam gereja," katanya. 

Ia melanjutkan, "Saya dan anak-anak tinggal di kanisah; gereja kami. Anak gadis saya sangat cantik. Akhlaknya mulia. Ia tekun mempelajari agama-agama agar dapat menguatkan iman. Ia memiliki hasrat yang besar agar bisa menikah dengan lelaki beriman. Dan tampaknya ia akan memilih lelaki Muslim sebagai suaminya. Saya tidak dapat mencegahnya saat dia menyatakan akan meninggalkan agama kami dan akan segera menganut agama Islam."

"Kecintaannya kepada iman, tumbuh berakar dalam dirinya. Semakin kuat iman itu tumbuh, semakin kuat pula resah gelisahku menancap di hati. Saya tahu tidak akan ada penawar bagi "penyakitnya" ini selain lelaki beriman yang sekufu dengannya. Pilihannya kepada Islam, seperti pilihan Tuhan kepada Musa, Ibrahim, dan Nuh. Hingga akhirnya ia mendengar suara itu. Suara yang menggedor dadanya! Suara yang menembus dinding gereja."

Dengan sengit dan penuh geram, ia bertanya kepada adik perempuannya. "Suara apa itu, Dik? Sungguh jelek. Tidak pantas masuk ke dalam gereja kita dan ke rumah-rumah ibadah lain." Si ayah, yang tak lain adalah pendeta di gereja itu, merasa seperti mendapat bisikan firman yang tremendum. Dia merasa ada wahyu turun dari langit. Ini dia, katanya membisiki diri sendiri. Jalan keluar dari kesempitan hidup yang dikirimkan Tuhan. "Puji Tuhan!" 

 

"Itu namanya azan, Kak. Panggilan sholat bagi umat Islam." Mendengar itu, wajahnya pucat. Ia lantas meminta ayahnya membantu menjawab. Begitu tak ada penjelasan lain kecuali bahwa itu adalah suara azan, perlahan-lahan mendung kebencian menggelayut dalam dirinya. Rasa tidak suka menggeser benih iman yang selama ini tumbuh di hatinya. "Itulah malam di mana saya bisa tidur nyenyak dalam balutan kasih dan sayang Tuhan." Jamaah masjid kaget. 

"Sungguh tiada terbilang rasa syukur dan terima kasihku kepada muazin itu," desah pendeta. Saat akhirnya ia bertemu dengan pelantang azan bersuara jelek, pendeta memberinya hadiah. Jubah, lilin dan manisan. "Terimalah, hai penyelamat dan pelindungku. Andai saja memiliki kekayaan lebih dari itu, tentu dengan senang hati aku akan mengisi mulutmu dengan gayungan emas dan perak. Amboooi! Engkaulah muazin juru selamatku!" 

*** 

Pesan Rumi, properti agama, seperti azan sekalin pun, jika diperlakukan buruk hanya akan memberi kita buah yang buruk pula. Parodi muazin, suara buruk dan pendeta, menggambarkan soal dua jenis kesalehan. Kasalehan dalam beragama. "Keimanan kamu, hai Muslim, adalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti tentang ajakan azan itu, yang alih-alih membawa orang pada hidayah malah membuat orang jauh dari yang haq--kebenaran."

"Betapa banyak penyesalan masuk ke dalam hatiku dan betapa besar iman dan ketulusan menempati ruang dalam hati Bayazid Bisthami," bisik Rumi. Bayazid yang dimaksud adalah bintang sufi yang merintis jalan-jalan kesucian dan menyerahkan kepada Tuhan semua ketulusan imannya. Bersama Bayazid terdapat banyak nama besar, bukan saja sejak tabiin tetapi sudah dirintis sejak era ahlus shafa di sudut-sudut Masjid Nabawi. 

Kedua jenis keberagamaan itu adalah, pertama; kesalehan artifisial alias buatan alias polesan. Sangat mementingkan lahir dan mengabaikan batin. Meletakkan kemuliaan ke dalam ritual dan gerak namun menjauhkan substansi ibadah dalam laku dan tindakan. Azan yang syariat tapi diamalkan secara buruk, bukannya mengajak orang bersegera salat tapi justeru membuat pendeta dan anak perempuannya meninggalkan iman yang sudah tertanam di hati. 

Jenis kedua adalah kasalehan yang meletakkan kemuliaan pesan ibadah lebih utama dari pada lahiriyahnya. Meletakkan pesan fascinosum azan dari pada tampilan suaranya. Tentang Bayazid, Rumi bersyair, "Setetes saja dari iman Bayazid masuk ke dalam lautan, seluruh lautan akan tenggelam dalam tetesan iman." Maka, semua alat kebergamaan harus tetap diletakkan sebagaia alat, bukan tujuan dari disyariatkannya ibadah dimaksud!

Wallaahu A'lam Bish Showaab...

Ishaq Zubaedi Raqib adalah jurnalis arina.id.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ishaq Zubaedi Raqib
Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi (LTN) PBNU


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo