Dark
Light
Dark
Light

Sang Alkemis: Bayaran Sebuah Mimpi

Sang Alkemis: Bayaran Sebuah Mimpi

Enam tahun lalu yakni pada 2019 adalah awal perjumpaan saya dengan The Alchemist (Gm, 2009). Buku ini datang lewat tangan seorang dosen yang bermurah hati pada para mahasiswanya agar senang bergumul dengan buku. Saya menerimanya dengan senang digenapi rasa penasaran, apa yang menarik dari The Alchemist?  Konon buku ini menjadi bacaan terbaik dunia.

Buku garapan Paulo Coelho ini menjadi salah satu pengantar saya mencintai buku. Lewat cerita yang penulis tuturkan saya merasa menapakkan kaki di gurun berpasir yang panas dan penuh misteri. Saya seperti ditarik dalam dunia yang sebelumnya tak pernah saya kenal bahkan pikirkan. Dialognya sangat sufistik dengan konflik-konflik yang tak terduga.

The Alchemist mengisahkan perjalanan seorang pemuda bernama Santiago, bocah laki-laki penggembala dari Andalusia. Ia bermimpi menemukan harta karun di Piramida Mesir. Dalam pencariannya, ia bertemu dengan berbagai tokoh yang membimbingnya menuju impian: seorang raja misterius bernama Melchizedek, seorang pedagang kristal, dan seorang alkemis yang bijaksana.

Sepanjang perjalanan, Santiago belajar tentang pentingnya mengikuti "kata hati”, kompas yang membimbing manusia menuju bahasa dunia. Sepanjang kisah, Santiago menghadapi berbagai tantangan, termasuk  ditipu, kehilangan uang, dan harus bekerja keras untuk melanjutkan petualangannya. Novel ini mengajarkan tentang keberanian, intuisi, dan bagaimana alam semesta membantu mereka yang berusaha mewujudkan impian.

Kutipan bijak tumpah ruah di setiap halaman. Saya hampir selalu dibuat terdiam merenungkan nasihat-nasihat yang dilontarkan penulis. Salah satu penggalan paragraf yang menarik:

Hatinya berkata, “Meski kadang aku suka mengeluh, itu karena aku ini hati manusia, dan hati manusia memang seperti itu. Orang-orang takut mengejar impian-impian mereka yang paling berharga, sebab mereka merasa tidak layak mendapatkannya, atau tidak akan pernah bisa mewujudkannya. Kami, hati manusia, menjadi takut kalau memikirkan orang-orang tercinta yang pergi selamanya, atau saat-saat yang mestinya indah tapi ternyata tidak, atau harta karun yang mungkin bisa ditemukan tapi justru terkubur selamanya. Sebab, kalau hal-hal itu terjadi, kami sangat menderita.”

Paulo mengkritik cara hidup orang dewasa yang hidupnya habis dalam rutinitas dan ketakutan. Ia berupaya mengingatkan pembaca pada mimpi-mimpi yang tertanam subur saat masa anak-anak dan memudar seiring menginjak usia dewasa. Di pertengahan novel, Paulo menulis: “Kami, hati manusia, jarang banyak bersuara mengenai harta itu, sebab orang-orang tidak lagi hendak mencarinya. Hanya kepada anak-anak kami bicara…”

Anak-anak punya hati sejernih air hujan. Mereka semurni air susu ibu. Hidup mereka tak dipenuhi ketakutan akan masa lalu dan masa depan. Hidup bagi anak-anak adalah hari ini yang berarti kebahagiaan. Tak heran, jika bertanya pada para bocah apa cita-cita mereka? Tanpa takut dan ragu mereka akan menjawab dengan semangat dan rasa optimis.

Lalu, kemana impian itu pergi ketika usia makin bertambah? Sebuah novel bertajuk Momo yang terbit pertama kali tahun 1972 menceritakan asal muasal kehilangan mimpi dan kebahagiaan di fase dewasa. Michael Ende lewat bukunya itu menyoroti standar, aturan, formalitas, dan keseragaman yang menghimpit hidup manusia. Pola itu yang terus digulirkan dan membuat hidup manusia makin jauh dari mimpi-mimpi yang sudah ditakdirkan untuknya.

Gadis Pemimpi
Santiago, tokoh utama dalam novel Al Chemist mengingatkan saya pada biografi seorang perempuan Jawa yang hatinya dipenuhi mimpi. Sepanjang hidupnya, gadis itu memupuk mimpi-mimpi yang dipersembahkan untuk masyarakat, bangsa, dan seluruh umat manusia.

Ia paham mimpi selalu meminta bayaran. Mimpi selalu menyertakan ‘ujian’ yang tak jarang mengandung rasa sakit. Seperti halnya Santiago yang harus menghadapi tipuan, rasa putus asa, khawatir, dan ancaman kematian, Gadis itu mengerti konsekuensi bertahan dengan mimpi-mimpinya.

Dalam surat yang ia tulis tanggal 25 Mei, 1899, ia berujar: “… adat kebiasaan yang sudah berabad-abad itu, ada yang tak mudah merombaknya itu, membelenggu dalam genggamannya yang amat teguh. Suatu ketika akan terlepas jua kami dari genggaman itu, akan tetapi masa itu masih jauh lagi bukan main! Akan tiba juga masa itu, itu saya tahu tetapi tiga empat keturunan lagi.”

Di surat yang lain, tanggal 23 Agustus, 1900, ia kembali menulis: “Ingin hatiku hendak beranak, laki-laki dan perempuan, yang akan kudidik, kubentuk jadi manusia sepadan dengan kehendak hatiku. Anakku, laki-laki maupun perempuan, akan aku ajar, supaya menghargai dan pandang memandang sama rata, makhluk yang sama, dan didikannya akan kusamakan benar; yakni tentu saja masing-masing menurut kodrat kecakapannya.”

Pandangan sinis, penolakan, dan larang dari berbagai pihak tidak memadamkan impiannya menarik masyarakat dari kubangan kebodohan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Gadis itu sadar waktu perjuangan akan lama tapi ia tetap bertaruh menitipkan impian-impiannya di pena dan kertas yang kemudian abadi menjadi kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang.

Seabad kelahiran gadis itu, sebuah kumpulan tulisan bertajuk Satu Abad Kartini (1979) terbit. Buku ini membuktikan impian gadis pemimpi itu mulai terwujud. Perempuan perlahan punya kesempatan dan kemampuan yang setara dengan laki-laki. Diskriminasi, peminggiran, dan stereotip mulai tergeser dengan zaman yang lebih terang.

Siti Soemintha, salah satu penulis dalam buku Satu Abad Kartini (1979) turut memberikan kesaksian ketika diamanahi tanggung jawab untuk mengajar kadet-kadet Akademi Angkatan Udara yang akan dipersiapkan belajar di luar negeri. Mula-mula ia gugup dan merasa kecil dihadapan murid-murid yang semuanya laki-laki, namun perasaan itu segera bisa ditepis.

Ia menuliskan pengalamannya: “…Lalu aku teringat Ibu Kartini. Beliau berjuang mati-matian untuk belajar seperti laki-laki. Sekarang aku berdiri menggurui laki-laki. Bahkan tentara laki-laki. Dan tak seorang pun menentang hakku. Aku seperti mendapat dorongan. Diam-diam kuucapkan terima kasih kepada Ibu Kartini yang telah memungkinkan semua ini terjadi.”

Gadis pemimpi itu bernama Kartini, seorang gadis Jawa yang secara tradisi telah didefinisikan menjadi Raden Ayu, namun bermaklumat dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar: “Panggil aku Kartini saja, itulah namaku.” Ia hidup dalam mimpi yang memungkinkan perempuan di zamannya dan sesudahnya mencicipi arti kesetaraan dan keadilan. Mimpi itu terwujud dengan bayaran beragam ujian. 
 
 
 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo