Sebulan lalu, saya mengunjungi Omah Petroek, Yogyakarta. Tempat ini sering disebut-sebut sebagai rumah budaya. Konon, pendirinya RM. Sindhunata. Para pengunjung bisa menemukan banyak patung, lukisan, buku, dan benda-benda bersejarah lainnya. Menarik! Rasanya seperti dikelilingi narasi kebudayaan lokal dalam bentuk miniatur. Dari semua benda yang saya lihat, ada satu yang paling unik, sampai sekarang saya masih memikirkannya dan menjadi pendorong saya untuk membuat tulisan ini. Benda itu berupa patung Spiderman sedang dikerokin.
Kerokan dikenal sebagai pengobatan tradisional Jawa untuk “masuk angin” dengan menggosokkan benda tumpul (koin, batu giok) pada kulit yang diolesi minyak atau balsam. Bagi orang Indonesia, kerokan menjadi hal yang lazim. Tapi, melihat Spiderman dikerokin, meski hanya sebuah patung bagi saya tak lazim dan menarik untuk ditafsir. Spiderman bukan dari Indonesia, ia lahir dari Stan Lee (penulis) dan Steve Ditko (seniman). Tokoh fiktif dari Marvel Comics ini pertama kali muncul di komik Amazing Fantasy #15 pada 1962. Spiderman made in New York, Amerika.
Di Omah Petroek, Spiderman tidak ditampilkan seperti layaknya di pusat perbelanjaan atau bioskop yang rajin memajang tokoh fiktif ini sedang berpose keren sembari mengeluarkan jaring laba-laba dari pergelangan tangannya. Di rumah budaya itu, Spiderman diajak untuk melokal, ikut pada budaya setempat. Ia tetap mengenakan kostumnya tapi disandingkan dengan Petroek yang mengerokinya dari belakang. Saya pikir, bukankah memang demikian semestinya? Kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia tak sekadar diterima begitu saja lalu pelan-pelan menggerogoti budaya lokal, tetapi didudukkan dengan budaya setempat agar pelestarian budaya tetap terjadi tanpa antipati dengan dunia luar.
Tak bisa seolah menutup mata, invasi kultural terus menggeliat cepat di Indonesia. Pelan-pelan kebudayaan lokal dan tradisional di tanah air kian melemah karena didominasi budaya global. Proses ini pertama-tama melalui jalur ekonomi, industri hiburan, dan komoditas modern. Invasi ini secara perlahan mempengaruhi sikap dan pandangan hidup.
Di dalam barang-barang komoditas modern dan tren yang turut di bawa, memuat di dalamnya sikap dan perilaku global, yang terbuka dan bersifat massal. Artinya, barang-barang itu dengan sendirinya akan turut merubah gaya hidup, pemikiran, sikap moral, dan relasi-relasi sosial. Dan semua itu erat kaitannya dengan kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat (1974) kebudayaan berarti mencakup ide-ide (pemikiran), kebiasaan (perilaku) maupun barang-barang material (artefak).
Benda-benda asing yang masuk di Indonesia cepat mendapatkan panggung karena kemasan dan muatan teknologi. Barang-barang itu dipoles menjadi komoditas menarik, biasanya dengan iming-iming menawarkan gaya hidup yang ringan, enak, nyaman, dan instan bagai siapa pun yang menerimanya. Pola ini menandai zaman yang disebut konsumerisme.
Ambil contoh kehadiran smartphone dan media sosial. Sejak awal 2000-an, merek global seperti Nokia, Samsung, Apple, hingga Xiaomi merajai pasar. Hampir semua lapisan masyarakat kini memiliki smartphone. Teknologi ini banyak sekali mengubah sikap dan pandangan hidup orang-orang Indonesia. Mereka seolah hadir begitu saja tanpa filter atau proteksi yang berarti. Belum masif edukasi perihal penggunaan smartphone dilakukan, media sosial turut merajai kehidupan masyarakat Indonesia.
Media sosial telah membuka pintu gerbang masuknya berbagai budaya asing tanpa batasan. Siapa pun dan kapan pun dapat mudah mengaksesnya. Di satu sisi pola ini memberikan keuntungan pada pemerataan akses informasi dan pengetahuan, tapi di sisi lain meninggalkan efek negatif yang menggunung. Misalnya, tradisi lisan dan pertemuan komunitas seringkali berkurang digantikan komunikasi daring. Ini membuat Interaksi sosial bergeser dari tatap muka ke dunia digital. Budaya lokal sering tersisih oleh tren global (misalnya TikTok dance, K-pop fandom).
A Sudiarja pernah menulis soal kebudayaan dalam Majalah Basis edisi Agustus 2009. Baginya nilai-nilai global yang dibawa dari luar memang menawarkan kebaruan, modernitas, kemajuan, dan wawasan kemanusiaan yang luas. Namun, di sisi lain belum dirasa pasti, masih penuh kontroversi karena tidak selalu sesuai atau bahkan berlawanan dengan nilai-nilai tradisional.
Jika kebudayaan Indonesia dibiarkan terus tergerus, efeknya tidak hanya berhenti pada individu tetapi menyangkut pada banyak hal, misalnya identitas dan jati diri bangsa, pudarnya nilai kearifan lokal, ketimpangan sosial dan ekonomi yang makin tinggi, dan punahnya warisan budaya.
Barangkali, solusi strategis yang menyentuh pada sistem pendidikan, promosi kebudayaan lokal melalui media digital, dan kebijakan pelestarian yang melibatkan generasi muda mesti digencarkan. Pergeseran budaya Indonesia, utamanya yang terjadi pada generasi kini menjadi masalah serius. Kebudayaan lokal bukan sekedar pemanis tapi jantung dari Indonesia itu sendiri
Jika tidak lekas dilakukan, gambaran tentang Spiderman yang dikerok Petroek seperti terasa jauh untuk digapai. Indonesia hanya akan menjadi target pasar bagi negara lain. Pasif, dijajah secara ekonomi dan budaya tanpa punya kendali di dalamnya.
Editor: Kendi Setiawan


