Hanya dalam hitungan detik, kereta itu akan meninggalkan kami, saya dan Hana. Berkat bapak pengendara motor yang mau mengalah memberi jalan, palang pintu parkir yang tidak macet, dan pegawai stasiun yang baik hati, kaki kami akhirnya bisa ikut menapaki KRL Gawok-Lempuyangan, Kamis (12/12/2024). “Mungkin tangan Tuhan juga ikut bekerja memudahkan jalan kami,” gumam saya dalam hati sambil menahan detak jantung yang lajunya lebih cepat dari biasanya.
Kedatangan kami di Stasiun Lempuyangan disambut ribuan tetes air dari langit. Tiada yang bisa dilakukan selain ikhlas menerima terpaan angin yang dingin sambil memperhatikan banyak wajah. Ekspresi yang mengandung kebahagiaan akan pulang, kesedihan akan pergi, dan rasa lelah dihantui pekerjaan. Stasiun adalah pertemuan beragam nasib manusia.
Hujan reda. Kaki kami melangkah menuju Karangkajen, salah satu kompleks pemakaman yang terkenal di Yogyakarta. Saya tidak sekaget dulu, ketika pertama kali datang, melihat makam tokoh-tokoh besar- KH Ahmad Dahlan, KH. Ahmad Badawi, KH. Ibrahim, KH. Noor dan beberapa tokoh lain- dikebumikan dengan amat sederhana berdampingan dengan makam umum. Pikiran saya banyak memunculkan ingatan kebudayaan antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dua ORMAS keagamaan yang memiliki ciri khasnya masing-masing dalam memandang kuburan.
Tapi, pikiran saya tidak terlalu larut menyoal hal itu. Kepala justru lebih bersemangat memunculkan beragam pertanyaan sambil menatap sejumlah makam para pahlawan: Kira-kira, berapa jumlah buku yang pernah mereka baca selama hidupnya? Apakah mereka memiliki kisah menyenangkan sekaligus tragis bersama buku? Kitab atau buku apa, ya, yang terakhir mereka baca, sebelum tubuhnya berselimut tanah? Dan kira-kira, judul buku apa yang akan mereka sebutkan jika ditanya mengenai daftar bacaan yang bisa membuat pembacanya menjadi lebih beriman dan bertakwa? Jawabannya mungkin terselip dalam gerimis dan harumnya kamboja yang berjatuhan.
Perjalanan kami berlanjut menuju sebuah rumah yang konon dihuni ratusan buku. Bermodal keyakinan dan Google Maps kami melewati perdesaan di sudut Yogyakarta. Tepat pukul 13.00 WIB, kami sampai. Lega rasanya menghapus lelah di hadapan buku yang bertumpuk. Judulnya menyilaukan mata sekaligus mengkhawatirkan kantong. Pencarian panjang mempertemukan Hana dengan buku-buku apik: Catatan Pinggir 1 (1991) gubahan Goenawan Mohamad, Prahara Budaya (1995) susunan Moelyanto dan Taufiq Ismail, Psikologi Kita dan Eksistensialisme (2014) karya Fuad Hasan, Pengakuan Pariyem (1981) susunan Linus Suryadi, dan segenap judul lain.
Saya tenggelam pada buku anak-anak dan remaja. Pencarian berakhir pada 6 jilid puisi Margasatwa, Astrid Dibajak (1979) dan Astrid di Rumah Pohon (1987) gubahan Djokolelono, Totto-Chan (1981) susunan Tetsuko Kuroyanagi, Fajar Baru di Lereng Bukit (2012) gubahan Roger Lea MacBride), The Queen of Attolia (2000) susunan Megan Whalen Turner, City of the Beasts (2002) karya Isabel Allende, Lord Fauntleroy Cilik (1886) susunan Frances Hodgson Burnett dan beberapa judul lain.
Pencarian berlanjut ke Gudang Mizan yang letaknya di Sanggrahan, Yogyakarta; lalu ke Akademi Bahagia EA. Koleksi buku yang dibawa pulang bertambah: The Lost Art of Scripture (2019) gubahan Karen Armstrong, Dari Aborsi sampai Childfree (2024) karya Faqihuddin Abdul Kodir, Anne Of Green Gables (1908) karya L Montgomery, dan beberapa judul lain. Akhirnya, tangan kami membawa dua kantong tas berisi buku; penuh. Bahagia sekaligus sedikit ngeri, jatah makan harus banyak mengalah dan ikhlas di hadapan huruf-huruf.
Sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Lelah, kedinginan, dan pegal. Tapi saya enggan menggubris, mata takjub pada harta karun yang menggoda untuk lekas dibaca. Tak sabar menunggu esok, saya tenggelam pada cerita Lord Fauntleroy Cilik (Dian Rakyat, 1990) gubahan Frances Hodgson Burnett yang pertama kali terbit tahun 1986. Bacaan apik yang saya temukan di sela-sela tumpukan buku tebal. Berselimut debu dan sedikit lecet.
Buku itu amat memesona, mengisahkan seorang anak bernama Cedric Errol yang ditakdirkan menjadi Earl Dorincourt. Awalnya, ia tidak mengetahui bahwa tubuhnya mengandung darah biru sebelum utusan kakeknya mengajak untuk berpindah dari Amerika ke sebuah kastil di Inggris. Membaca Lord Fauntleroy Cilik mengingatkan saya pada bacaan sebelumnya; Secret Garden dan Little Princess. Ketiga buku milik Burnett mengangkat kisah yang saling bertaut, yaitu kritik atas peperangan dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Pikiran saya terbang membayangkan berapa anak yang hidupnya dipengaruhi oleh tangan Frances Hodgson Burnett. Ia adalah seorang penulis drama dan pengarang Amerika yang menulis beragam novel sangat populer. Little Lord Fauntleroy adalah buku anak-anak yang pertama kali paling terkenal dan sukses diterima masyarakat luas. Buku ini awalnya dimaksudkan untuk anak-anak tetapi pada akhirnya juga disukai oleh para ibu. Di zamannya, buku itu berhasil terjual setengah juta eksemplar dan dengan cepat menjadi standar repertoar seperti Uncle Tom's Cabin.
Buku-buku milik Burnett ikut membentuk anak-anak Inggris berpikiran soal hewan, tumbuhan, perang, kemanusiaan, belas kasih, dan kesejahteraan masyarakat. Mungkin, kini para pembaca Little Lord Fauntleroy sudah menduduki kursi-kursi parlemen, inovator teknologi canggih, aktivis lingkungan, ilmuwan, pebisnis sukses, dan beragam profesi lain. Frances Hodgson Burnett menunjukkan jalan yang lurus kepada umat melalui pena.
Di halaman awal buku Lord Fauntleroy Cilik, tertulis kalimat “Untuk Cinta Asma Aulia,” disertai tanda tangan, lalu dilanjutkan “I-Mey.” Siapa, ya, pemilik sebelumnya? Berapa orang yang pernah terlibat memiliki buku ini? Teka-teki itu menjadi pemanis bagi orang-orang yang gemar memiliki buku preloved. Menambah cerita dan rasa penasaran dari buku yang termiliki. Saya berharap buku ini akan termiliki oleh tangan-tangan selanjutnya yang mencintai dunia anak-anak. Mengasyikkan. Proses komunikasi terjadi antar pembaca lintas waktu, tempat, hingga generasi.
Editor: Kendi Setiawan


