Dark
Light
Dark
Light

Buku Tirakat Jalanan: Akhlakmu di Jalan, Gambarkan Kepribadian dan Keimanan

Buku Tirakat Jalanan: Akhlakmu di Jalan, Gambarkan Kepribadian dan Keimanan

“Sholatmu berlipat rakaat, shalawatmu tidak terhitung, wiridmu sangat banyak, sujudmu sangat lama, tapi akhlakmu di jalan raya sangat tercela. Sebetulnya ada masalah apa antara dirimu dengan agamamu.”

Arina.id - Begitulah kata kata bijak yang sukses menohok rohani pembaca di awal buku Tirakat Jalanan karya Kiai Faizi. Buku, dengan tebal 158 halaman ini, berhasil menggugah hati dan pikiran saya sejak lembaran pertama. Pesan moral yang tersampaikan begitu mendalam, membuat saya tidak bisa berhenti untuk terus membaca setiap halaman hingga tuntas.

Kiai Faizi menghadirkan buku ini dengan misi menyempurnakan akhlakul karimah yang jarang tersentuh, khususnya tata tertib dan muamalah di jalan raya. Mengingat wacana akhlakul karimah seringkali hanya terfokus pada hal hal keseharian di dalam rumah dan di ruang kelas. Hubungan timbal balik ayah-anak, guru murid. Sementara di jalan raya, di tempat paling banal dan liar, akhlakul karimah nyaris mati, tertabrak oleh pelalu lintas yang serampangan saat menyalip, sembarangan ketika parkir, dan meng-gashab.

Buku Tirakat Jalanan ini ditulis dengan 4 bab besar. Bab pertama berjudul Meraih Bahagia di Jalan Raya, bab kedua Menimbang Hukum Tata Tertib Berlalu Lintas, bab ketiga Berakhlak di Jalan Ray,a dan bab keempat Penutup.

Salah satu bagian yang menarik dalam buku ini adalah saat Kiai Faizi menuliskan bahwa akhlak dan perilaku seseorang di jalan menentukan kualitas keimanan dan kepribadian. Beliau mengambil kesimpulan tersebut berdasarkan penyelarasan pemahaman dari hadits riwayat Abu Hurairah tentang level keberimanan seseorang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR.Muslim no. 58)

Hadits ini menjelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang, yaitu antara 60 hingga 70 cabang. Tingkatan tertinggi dari keimanan adalah pernyataan “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Sementara tingkatan terendah adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan.”

Namun, Kiai Faizi menawarkan pemahaman terbalik sebagai berikut:

  1. Jika tingkatan keimanan tertinggi adalah menyatakan “Tidak ada Tuhan selain Allah,” maka tingkatan ketidakberimanan tertinggi adalah menyatakan “Ada Tuhan selain Allah.”
  2. Jika tingkatan keimanan terendah adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan,” maka tingkatan ketidakberimanan terendah adalah “meletakkan gangguan di jalan.”

Dari sini kita paham, taat dan tertib di jalan raya dengan menjaga hak-hak orang lain sejatinya adalah wujud dari keberimanan pada tingkatan yang paling rendah. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi seorang Muslim yang patuh terhadap aturan lalu lintas seharusnya menjadi hal yang sangat mendasar. 

Mengapa demikian? Karena jika seorang Muslim tidak mampu menunjukkan sikap tertib, bahkan pada tingkatan keimanan terendah ini, tentu ada pertanyaan besar mengenai bagaimana ia memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam secara lebih mendalam.

jika keberimanan pada tingkatan terendah saja sulit diwujudkan, bagaimana mungkin seseorang mampu menunjukkan keimanan pada tingkatan yang lebih tinggi? Layaknya sebuah bangunan, iman memiliki fondasi, dan sikap tertib di jalan adalah salah satu bata dasar yang menguatkan keimanan. Jika bata dasar ini rapuh, bagaimana bangunan keimanan lainnya dapat berdiri dengan kokoh?

Maka, sebagai Muslim, sudah selayaknya kita mematuhi aturan lalu lintas bukan hanya karena takut kepada sanksi hukum, tetapi juga sebagai bagian dari implementasi iman kita kepada Allah. Melalui perilaku sederhana ini, kita tidak hanya menjaga harmoni di jalan, tetapi juga menunjukkan jati diri sebagai umat Islam yang berakhlak mulia.

Sebagai penutup Kyiai faizi mengatakan bahwa memang acapkali kita dalam berislam, bahkan ketika menjadi (manusia), ada banyak korsleting. Taat saat di langgar (mushala), tapi baru saja turun langsung melanggar. Di rumah ramah, di jalan marah. Sopan di mimbar, di jalan barbar.

Identitas Buku

Judul buku: Tirakat Jalanan Bahagia di Jalan Raya
Penulis: M. Faizi
Penerbit: Diva Press
ISBN: 978-623-189-468-7
Halaman: 158 halaman
Genre: Religion & Spirituality


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo