Sebagian besar dari kita tumbuh dengan gambaran pahlawan yang bertubuh tegap dan gagah melesat ke medan perang. Di dinding kelas, saat bangku sekolah dulu, poster berukuran A4 menghiasi imajinasi tentang bagaimana pahlawan hadir, kebanyakan laki-laki dan berseragam terkadang lengkap dengan senjata.
Para pahlawan mengorbankan nyawa melawan penjajah, banyak yang juga diabadikan namanya menjadi nama jalan. Pertanyaan yang terkadang mengusik benak, bagaimana dengan perempuan yang tidak berbaris dalam perang, tidak juga diabadikan dalam nama jalan atau patung? Bagaimana dengan mereka yang berjuang di dapur? Atau juga ladang dan di pinggiran hutan? Bukankah mereka juga berjuang mempertahankan kehidupan yang nyaris digerus habis oleh roda dunia yang tiada henti?
Kepahlawanan, jika dibuka lapisan-lapisannya, ternyata bukan sekadar tentang kemenangan di medan tempur, melainkan juga tentang kesetiaan pada sesuatu yang lebih luas dari diri sendiri. Hal itu menjelma keberanian guna menjaga segala yang rapuh atau sekadar bertahan di tengah tekanan yang tak berhenti, sembari menegakkan sesuatu yang mungkin bagi orang lain adalah hal remeh temeh dan sepele. Perempuan mengenal jenis kepahlawanan ini lebih dahulu daripada siapa pun: kepahlawanan yang lahir dari pengasuhan, dari kehilangan, dari menolak diam.
Sejarah mencatat banyak nama perempuan yang melawan: dari Cut Nyak Dien hingga Martha Christina Tiahahu. Tetapi di bawah sejarah besar itu, ada ribuan perempuan tanpa nama yang menenun tenaganya untuk mempertahankan kehidupan. Mereka mungkin tidak pernah disebut “pahlawan”, tetapi merekalah yang membuat kata “tanah air” punya makna harfiah — menjaga tanah, menjaga air.
Di Mollo, Nusa Tenggara Timur, seorang perempuan bernama Aleta Baun menenun di depan alat berat tambang marmer. Ia bukan sedang membuat kain untuk dijual, melainkan sedang menjahit kembali martabat komunitasnya yang terbelah. Bagi masyarakat Mollo, batu dan tanah bukan benda mati, melainkan bagian dari tubuh manusia. Saat tambang mencongkel batu-batu dari gunung, itu sama seperti melukai tubuh ibu sendiri. Aleta memahami hubungan itu, dan memilih untuk melawan bukan dengan senjata, melainkan dengan tenunan dan keteguhan.
Dalam sebuah penelitian berjudul Ekofeminisme Spiritualis pada Gerakan Perempuan Adat dalam Menolak Tambang Marmer di Mollo, Nusa Tenggara Timur (Parastasia, 2024), dijelaskan bahwa perempuan Mollo memandang alam sebagai saudara, bukan sumber daya. Mereka melihat tubuh perempuan dan tubuh bumi sebagai satu kesatuan spiritual: keduanya memberi, menumbuhkan, dan disakiti dengan cara yang serupa. Ketika perempuan bangkit menolak tambang, itu bukan hanya perjuangan ekologis, melainkan bentuk pembelaan terhadap diri sendiri — sebuah kepahlawanan yang tak mengenakan seragam, tak menuntut medali.
Aleta tidak sendirian. Di banyak tempat, perempuan berdiri di garis depan perjuangan yang sunyi. Mereka adalah ibu-ibu petani yang menolak sawahnya diganti pabrik, buruh yang menuntut upah layak, guru di pelosok yang tetap mengajar meski sekolahnya roboh. Mereka adalah perempuan yang menolak diam ketika lingkungan, anak, atau tubuhnya dirampas. Kepahlawanan mereka lahir bukan dari perintah negara, tapi dari panggilan naluriah untuk menjaga kehidupan agar tetap berlangsung.
Barangkali karena itulah, kepahlawanan perempuan sering tidak terdeteksi oleh sejarah. Bentuknya terlalu halus, terlalu sehari-hari, tidak spektakuler. Ia hadir dalam tindakan yang tampak kecil: menyuapi anak-anak di pengungsian, menenun di depan tambang, menanam pohon setelah kebakaran hutan, menulis surat protes ke pejabat desa. Namun di dalam hal-hal kecil itu tersimpan daya yang luar biasa: keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah sistem yang perlahan mengikis kemanusiaan.
Kepahlawanan perempuan juga sering bersumber dari luka. Banyak di antara mereka tidak memilih menjadi pahlawan — keadaanlah yang memaksa. Seorang istri yang kehilangan suami di konflik tanah akhirnya memimpin komunitas. Seorang buruh yang dipecat karena hamil akhirnya membangun jaringan advokasi pekerja. Dalam tiap kisah semacam itu, kita melihat bagaimana perempuan menafsirkan ulang arti perjuangan: bukan tentang mengalahkan lawan, melainkan menghidupkan sesuatu yang nyaris mati.
Jika pahlawan laki-laki sering diingat karena kemenangan, pahlawan perempuan sering bertahan dalam kekalahan. Tapi barangkali justru di situlah maknanya: bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti menang, melainkan tidak berhenti berjuang meskipun kalah. Kepahlawanan perempuan adalah seni untuk terus hidup — dan membuat kehidupan tetap mungkin — di tengah segala keterbatasan.
Kita hidup di zaman ketika dunia makin kerap berbicara tentang “keadilan” dan “kesetaraan”, tetapi masih sedikit yang mau mengakui bagaimana banyak bentuk kepahlawanan perempuan berlangsung tanpa saksi. Padahal di balik setiap peradaban, selalu ada tangan-tangan perempuan yang bekerja diam-diam, memastikan semuanya tetap berdiri.
Ketika Aleta Baun berkata, “Kami menjual hasil bumi, bukan gunungnya,” ia seolah sedang mengingatkan kita semua: ada batas yang tidak boleh dilampaui. Kepahlawanan perempuan adalah kesetiaan pada batas itu — menjaga agar dunia tidak kehilangan keseimbangannya. Mungkin karena itulah, dunia masih bertahan sampai sekarang: karena di banyak tempat yang tidak terlihat, masih ada perempuan yang menjaga dengan caranya sendiri.
Kita tidak memerlukan monumen untuk mengenang mereka. Cukup dengan menatap lebih lama wajah-wajah perempuan di sekitar kita: petani, guru, aktivis, pekerja, ibu rumah tangga. Mereka mungkin tidak memiliki seragam, tetapi tanpa mereka, tanah air ini kehilangan napasnya. Kepahlawanan perempuan adalah benang yang menenun kehidupan — diam, lentur, namun kuat menahan zaman.
Editor: Kendi Setiawan


