Dark
Light
Dark
Light

Ujungan, Tradisi Masyarakat Gumelem Banjarnegara Memohon Turunnya Hujan

Ujungan, Tradisi Masyarakat Gumelem Banjarnegara Memohon Turunnya Hujan

Di sejumlah wilayah perdesaan Jawa yang kehidupan masyarakatnya dekat dengan pertanian, hujan tidak hanya dipahami sebagai peristiwa alam. Datangnya hujan berkaitan langsung dengan keberlangsungan tanaman, ketersediaan air, dan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika menghadapi kemarau panjang, masyarakat memiliki berbagai cara untuk menyampaikan harapan agar hujan segera turun. Salah satunya melalui tradisi Ujungan yang berkembang di wilayah Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Ujungan merupakan kesenian tradisional yang mempertemukan dua lelaki dewasa dalam sebuah pertarungan menggunakan rotan. Namun, pertarungan tersebut memiliki aturan dan tata cara tertentu. Sebelum saling menyabet, para peserta menampilkan gerakan tari dengan iringan gamelan.

Dalam tradisi masyarakat Gumelem, Ujungan merupakan kearifan lokal yang berkaitan dengan permohonan hujan. Tradisi ini menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat ketika menghadapi kemarau. Hubungan antara Ujungan dan hujan menunjukkan cara masyarakat masa lalu memahami alam sekaligus menempatkan manusia sebagai bagian dari lingkungan yang harus dijaga keseimbangannya.

Filosofi Ujungan juga dapat dilihat dari aturan setelah pertarungan. Saling sabet tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan permusuhan. Para peserta harus menerima hasil pertarungan dan mengakhirinya dengan berdamai. Mereka bersalaman, bahkan berpelukan setelah berada di arena.

Dengan begitu, kekuatan fisik bukan satu-satunya unsur dalam Ujungan. Ada aturan, pengendalian diri, sportivitas, dan hubungan sosial yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Ujungan berkembang dalam kehidupan masyarakat Gumelem dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam perkembangannya, tata cara pelaksanaan juga mengalami penyesuaian, terutama berkaitan dengan keselamatan peserta. Sabetan rotan dibatasi pada bagian paha ke bawah. Laga dua ksatria ini juga diawasi oleh landhang atau wasit yang memastikan aturan dipatuhi.

Tradisi ini masih dapat ditemui di Gumelem Wetan maupun Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Para pelaku Ujungan tidak hanya berasal dari satu desa. Dalam beberapa pagelaran, peserta datang dari desa-desa sekitar hingga wilayah Banyumas dan Purbalingga.

Ujungan Terbaru Kembali Digelar
Pagelaran Ujungan terbaru berlangsung di Lapangan Krida Manunggal, Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Jumat Kliwon, 25 September 2026.

Dua petarung memasuki arena dan berhadapan di tengah lapangan. Diiringi gamelan dan sorak penonton, keduanya melakukan gerak tarian sebelum saling menyabetkan rotan. Sasaran sabetan dibatasi pada bagian paha ke bawah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kegiatan tersebut diinisiasi pemerintah desa bersama tokoh adat setempat. Selain menjadi pertunjukan kesenian tradisional, pelaksanaan Ujungan tetap ditempatkan sebagai ritual masyarakat dalam memohon hujan.

Tokoh adat Gumelem, Budi Sulistyo, menjelaskan bahwa peserta harus mematuhi aturan selama berada di arena. Pengawasan dilakukan oleh landhang untuk menjaga jalannya pertarungan.

“Peserta wajib mematuhi aturan dan wajib mempertunjukkan tari sebelum atau sesudah saling sabet. Tidak ada dendam, selesai bertarung mereka berdamai, bersalaman dan berpelukan,” ujarnya.

Menurut Budi, aturan Ujungan telah diperketat sejak sekitar 1980. Sabetan rotan dibatasi dari paha ke bawah untuk mengurangi risiko cedera. Panitia juga menyiapkan tim pengobatan di lokasi.

Pelaksanaan Ujungan berkaitan dengan kondisi hujan. Jika setelah Ujungan hujan turun, ritual dianggap selesai. Namun, jika hujan belum turun, pelaksanaan dapat dilanjutkan pada Jumat berikutnya.

“Ritual kita mulai pada hari ini, Jumat Kliwon. Kalau besok langsung turun hujan, Jumat depan sudah tidak ada lagi. Tapi kalau belum turun hujan, maka akan dilanjutkan pada hari Jumat berikutnya,” kata Budi.

Bagi masyarakat Gumelem, keberadaan Ujungan menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan. Di dalamnya terdapat aturan bermain, hubungan antarpeserta, tata cara berdamai setelah bertarung, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan dan alam.

Di tengah-tengah perubahan kehidupan masyarakat, Ujungan tetap dipelihara, kini dengan melibatkan generasi muda dan kemasan yang lebih menghibur. Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas budaya Gumelem sebagai kearifan masyarakat setempat dalam menghadapi kemarau dan menyampaikan harapan akan turunnya hujan.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo