Dark
Light
Dark
Light

Babak Baru Ipul vs Lilur

Babak Baru Ipul vs Lilur

KITA rehat sejenak dari isu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Mari kembali kita tengok kebisingan isu seputar PBNU, serta kegaduhan demi kegaduhan pasca-pengukuhan pengurusnya, produk Muktamar Tambakberas itu sambil menikmati perseteruan dua pendekar dalam "Oktagon PBNU" ini: Ipul vs Lilur. 

Eits...! Dalam ketegangan ini juga jangan diabaikan pula cawe-cawenya Sholihin bersama KPK NU-nya. Apalagi campur tangannya Solihin ini, bagi beberapa pemerhati NU tak ubahnya sebagai bumbu penyedap pertikaian dua pendekar yang bersumbu dari Muktamar PBNU akhir Agustus lalu itu. 

Ipul, panggilan gaul Saifullah Yusuf, Waketum PBNU, sekaligus Menteri Sosial. Seperti ketika dia menyebut dirinya sebagai pemain utama lima kali hajatan akbar muktamar, Ipul adalah sentral isu. Tidak berlebihan memang, coba hitung mundur lima muktamar sebelumnya: Tambakberas (2026), Gunung Sugih Lampung (2021), Alun-alun Jombang (2015), Makassar (2010) dan Donohudan Boyolali (2005), akan selalu ada nama Ipul. 

Publik meraba-raba, apa makna pernyataan: "pemain lima muktamar?" Apakah dia menggertak orang-orang yang coba menggangu rencana-rencana besarnya di PBNU? Atau bisa juga self validation bahwa Ipul merasa paling otoritatif kalau menyangkut PBNU?

Kalau boleh bilang, rekor dan rekam jejak Ipul, di atas kertas memang tidaklah sebanding dengan track record kemuktamaran Lilur. Ada yang bilang Lilur bocah kemarin sore, ini kalau dalam Oktagon MMA mirip dengan apa yang disebut sebagai pertarungan Senior vs Junior atau Veteran vs Debutan. Namun yang menarik metrik hasilnya tidak selalu linier dengan ekspektasi orang, bahwa senior pasti menang, atau junior pasti kalah. Terkadang kurva pertandingan menunjukkan sebaliknya. 

Balik lagi pada Ipul vs Lilur. Kemunculan Lilur dalam kegaduhan ini, bagi sebagian orang yang muak atas kepongahan Ipul, yang kabarnya hobby bluffing dan mecat orang, itu seperti membawa memori kolektif arus bawah NU, ketika kemunculan Gus Dur saat Kiai Idham Cholid enggan lengser dari Ketum PBNU. 

Kiai Idham adalah ketum PBNU terlama sepanjang sejarah. Cerita itu paralel atau mirip dengan tudingan Lilur ketika menyebut penyelenggaraan Muktamar Tambakberas, di mana saat itu Ketua Panitianya Ipul, adalah muktamar paling jorok sepanjang sejarah NU. Walaupun tudingan ini jauh panggang dari api, tapi pada akhirnya membawa konsekuensi serius dan meningkatkan tensi kegaduhan demi kegaduhan ini.

Ipul sibuk silahturahmi, Lilur konsolidasi 

Ada hal menggelitik dalam pertikaian individu Ipul vs Lilur. Ipul di banyak kesempatan menyebut Muktamar Tambakberas sukses, baik penyelenggaraan maupun keterpilihan Miftahul Akhyar dan Kiai Abdul Halim Mahfud (Gus Kikin) sebagai Rois Aam dan Ketua Umum PBNU. Nah, kalau Ipul menyimpulkan muktamar sukses, kenapa dia sibuk silahturahmi dan mengklarifikasi ke sana-sini meladeni Lilur?

Setidaknya di tengah kegaduhan ini Ipul tercatat melakukan klarifikasi ke sejumlah institusi dan individu: Dewan Pers, Rhoma Irama dan Akbar Faisal. Di sela-sela itu, Ipul sebagaimana ciri khasnya selama ini, datang sambil menebar gertakan dan ancaman akan memberi sanksi bagi PCNU yang melaporkan risywah ke KPK.

Namun yang tidak dia sadari, tindakannya di sana-sini sambil menebar ancaman tersebut, dalam ilmu komunikasi tak ubahnya situasi eco chamber (berteriak di ruang gema) internal NU yang cuma memantul ke dirinya sendiri. Ia lupa Nahdliyin sekarang sudah cerdas, tidak gampang terprovokasi, punya banyak channel klarifikasi. Gertakan dan ancaman itu justru memperkuat rasa penasaran Nahdliyin: kenapa Ipul setantrum itu? Apa tidak ada pola lain selain mengancam dalam merespons persoalan? 

Tapi semua orang yang mengenal Ipul paham style manajemen konfliknya, bahwa pola baku dan skema penanganannya, ya..,memang dengan mengancam. Kemudian untuk memperkuat kakinya, memuluskan berbagai kepentingan, Ipul juga spesialis pemain dengan posisi ketua panitia: mulai panitia Muktamar hingga Hari Santri. Sebagai ketua Ia akan gampang mengendalikan semuanya. 

Lalu bagaimana Lilur? Meskipun terdengar seperti debutan, tapi kita saksikan Ia tidak amatiran. Lilur terus berkonsolidasi dan memobilisasi PCNU-PCNU, meminta mereka membuat laporan dan mengembalikan "uang panas" Muktamar Tambakberas. Sejumlah PCNU di Kalbar, Nias dan beberapa daerah di Jawa, telah mendatangi KPK menyerahkan uang yang diduga sebagai barang bukti suap itu. 

Sebenarnya kalau dicermati, dalam setiap pernyataannya, tidak ada gelagat Lilur menolak produk hasil Muktamar Tambakberas. Ia melokalisir pertikaian hanya sebatas pada: Miftahul Akhyar dan Ipul. Selebihnya, Lilur tidak pernah menyentuh Gus Kikin ataupun Gudfan Arif, bendahara umum. Ibarat kata, Lilur seperti menegaskan kalau masalahnya hanya pada Ipul, bukan yang lain. 

Sebagai partikel bebas, Lilur memang benar-benar leluasa berkelindan menebar kebisingan di atas udara dengan membidik target-target sesuai perintah si pemberi ordernya, misalnya agar menganggu konsentrasi dan fokus serta konfidensi Ipul serta Miftahul Akhyar. Walaupun dalam derajat tertentu mungkin bakal memiliki efek gangguan kecil pada Gus Kikin. 

Tetapi di sinilah menariknya, sebagai partikel bebas Lilur pada akhirnya berhasil menyeret Ipul dalam permainannya. Tanpa di sadari banyak orang, reaksi Ipul itu justru menunjukkan kelemahannya, yang bagi beberapa pemerhati tidak sekadar menunjukkan paranoia semata, tapi bisa jadi isyarat ketakutan, jangan-jangan apa yang dinarasikan Lilur sebagai "risywah muktamar" dan hiruk pikuknya, itu benar adanya?

Kiai Asep, Kiai Mustain lalu Sholihin

Tidak hanya Lilur, ada sejumlah nama lagi yang terlihat geram dan risau oleh isu risywah muktamar ini. Mereka adalah Kiai Asep Saifudin Halim, Kiai Mustain Syafi'i dan Sholihin. Ketiga nama ini mewarnai kegaduhan yang membetot perhatian para Nahdliyin akhir-akhir ini. 

Kiai Asep adalah aset langka NU. Kiai dengan ribuan santri itu memiliki lembaga pendidikan dari usia dini hingga program doktor. Di samping itu, pengasuh pesantren Amanatul Ummah Mojokerto ini juga konglomerat NU. Lini bisnisnya tersebar dari Surabaya, Mojokerto, Cirebon hingga Majalengka. 

Kiai Asep juga punya akses istimewa ke pemerintahan Prabowo Subianto. Konon katanya, sebelum Muktamar Tambakberas lalu, ia juga menawarkan diri sebagai tuan rumah dan menyiapkan kocek pribadi Rp200 miliar. Sehingga bisa dimaklumi alasan kenapa Kiai Asep geram dengan sumber finansial Muktamar NU yang berujung pada isu risywah ini.

Sementara Kiai Mustain Syafi'i (Kiai Tain), di samping sebagai salah satu pengasuh pesantren Tebuireng, ia adalah ahli tafsir dan fuqoha'. Bagi pemerhati NU, pasti memahami, bahwa baru di Muktamar Tambakberas inilah kiai asli Lamongan ini memberi kritik tajam, terukur, terstruktur, base on quran dan hadis serta pendapat ulama. Maka tak syak bagi sebagian orang, Kiai Tain dianggap sebagai benteng terakhir keilmuan klasik NU di Tebuireng. 

Lalu terakhir Sholihin. Demonstran asal Indramayu ini kerap hadir membawa massa di arena NU. Jejak pertamanya tercatat ketika ia mengepung PBNU di era Yahya Cholil Staquf. Kemudian, dalam catatan dari muktamar, Sholihin juga membuat bid'ah di arena Muktamar Tambakberas. Di pesantren almamaternya tersebut, dia mengerakkan massa demi menuntut hak pencalonan Yusuf Chudlori, mantan Ketua DPW PKB Jateng, yang tidak memenuhi syarat "masa Iddah" politik. 

Posisi Sholihin mirip Lilur: sama-sama partikelir bebas. Persoalannya adalah, sebagai sesama partikelir, kenapa Lilur disikapi, direspon dan dihadapi dengan sepenuh jiwa oleh Ipul, sementara Sholihin tidak ditengok sama sekali? Bukankah gerakan dan demonstrasinya Sholihin yang menggendong isu KPK-NU tidak kalah berisik dibanding Lilur? Apalagi gerakannya langsung menghujam ke jantung KPK. Di sinilah keanehannya, mari kita tunggu babak selanjutnya. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

M Sholeh Basyari
Lektor Kepala Sekretaris Program Pascasarjana Insuri Ponorogo, Wasekjen PB IKA PMII dan Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS)


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo