Raden Ajeng Kartini adalah Pahlawan Nasional dari daerah Jepara Jawa Tengah, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi dan ikon emansipasi wanita. Kartini muda sangat peka terhadap kondisi perempuan pribumi yang tertinggal jauh pada masa itu. Maka ia tergugah untuk memperjuangkan kesetaraan terhadap kemampuan dan kebebasan berfikir kaum perempuan.
Kini, buah perjuangan Kartini telah mewujud pada kaum perempuan abad 21. Banyak perempuan mendapatkan pendidikan tinggi, menjadi pemimpin di pemerintahan, menduduki posisi strategis di perusahaan, juga menjadi wanita pengusaha mandiri. Didukung segala kemudahan berkomunikasi dan kecepatan arus informasi, perempuan masa kini telah menunjukkan kemampuannya, memperjuangkan nilai, hak, dan kesempatan dalam kehidupan sosial, politik dan budaya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan dalam Statistik Indonesia 2023, diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,7 juta jiwa, terdiri atas 139,3 juta orang laki-laki dan 136,3 juta perempuan. Statistik tersebut sangatlah seksi dan bermakna, betapa bangsa Indonesia memiliki sumber daya manusia (kaum perempuan) yang sangat besar dengan berbagai potensi yang ada padanya.
Menyambut Hari Kartini 2024 ini, Arina.id berkesempatan berdialog dengan sejumlah perempuan modern dari berbagai golongan usia dan latar belakang, perihal tren, passion dan jalan yang mereka tempuh dalam mengarungi peran kehidupannya.
Pendidikan, skil, dan organisasi
Perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam mengejar mimpi dan cita-citanya. Bagi sebagian kaum perempuan modern, pendidikan tinggi dan aktif berorganisasi adalah keharusan.
Prinsip itu dipegang teguh oleh Fathia Azzahra, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Lahir di Garut pada 29 Juli 2003, Fathia tumbuh dengan semangat petualangan yang membawanya melintasi kota-kota. Dari Garut Jawa Barat, ke Banjarnegara, Klaten hingga Sukoharjo Jawa Tengah, sebelum akhirnya menetap di Semarang untuk mengejar pendidikan tinggi di kampus favoritnya itu.
Bukan hanya prestasi akademik berhasil yang diraihnya, Fathia juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi. Selain menjadi bagian dari Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) UNDIP selama dua periode sebagai staf sosial media dan website, ia juga bergabung di UPK English Club FISIP sebagai ketua divisi kreatif, serta terlibat dalam produksi film di UKM Perfilman, Kronik Filmedia. Dengan berorganisasi, Fathia terbentuk menjadi individu yang adaptif dan mudah bergaul. Ia terbiasa dalam team work bersama mahasiswa baik perempuan maupun laki-laki.
“Saya senang berorganisasi karena bisa berinteraksi dan bekerja sama dengan banyak orang. Di sini saya dituntut untuk bertanggung jawab atas program kerja yang ditetapkan. Melalui organisasi saya ingin mematahkan stigma yang seringkali menganggap perempuan itu minim skill, dan hanya mengandalkan perasaan, bukan logika,” ungkapnya bersemangat.
Wadah organisasi mampu menggali potensi diri dan memperluas pengetahuan serta pengalaman dalam banyak hal. Bahkan menurut Fathia, kepengurusan di BEM didominasi mahasiswa perempuan. Namun secara keseluruhan, mahasiswa laki-laki dan perempuan di BEM memiliki peranan yang seimbang. Misalnya, meski ketua BEM laki-laki, diseimbangkan oleh wakil perempuan.
"Selain itu, pemerataan ketua bidang sudah dilakukan. Sehingga, di BEM kami, tidak semua pemimpin harus laki-laki. Ini bukti bahwa peran perempuan dan laki-laki diseimbangkan di organisasi," imbuh gadis yang bercita-cita segera melanjutkan pendidikan S2 ini.
Semangat untuk menguasai berbagai skil juga ditempuh Eka Puji Lestari, mahasiswi Politeknik Indonusa Surakarta. Bedanya, mahasiswi semester VI Program Studi Sarjana Terapan Produksi Media ini tak begitu antusias ikut banyak organisasi. Ia lebih fokus mendalami studi dan upgrade skill pendukungnya. Berbagai aplikasi pengolah grafis, video dan seni digital disuntukinya dengan tekun. Ia juga tengah mengasah keahlian copy writing.
“Saya ingin berwirausaha di bidang jasa sosial media terutama bagi akun-akun yang membutuhkan improvement, seperti akun pemerintah dan korporat,” ujar Eka yang kini tengah membuat film dokumentar Potret Anak Bajang di Dataran Tinggi Dieng.
Muda usia, punya posisi
Jumlah kaum hawa kini menempati setengah populasi di Indonesia bahkan dunia. Maka keterwakilan perempuan dalam struktur politik dan pemerintahan adalah keniscayaan, untuk memastikan kepentingan mereka juga diakui dan diperjuangkan.
Arina.id menemui Fazira Ulfah, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Usianya masih muda –kelahiran tahun 2000— namun sudah menduduki jabatan sebagai Pranata Humas di sebuah instansi pemerintah. Menurut Fazira, keterlibatan perempuan dalam politik akan meningkatkan proses pembuatan kebijakan agar lebih inklusif dan berkelanjutan. Hal ini memperkuat gagasan bahwa baik perempuan maupun laki-laki memiliki kemampuan yang setara untuk berperan dalam politik.
Untuk itu, lanjutnya, penting bagi perempuan memiliki rasa percaya diri dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menjunjung tinggi harkat, martabat dan emansipasinya. Fazira mengajak kaum perempuan muda terus menggali kemampuan dan potensi yang dimiliki, untuk mengejar impian tanpa terhalang oleh stereotip gender atau batasan sosial.
“Jangan berhenti belajar dan teruslah berkembang dengan bergabung berbagai komunitas yang mendukung. Kolaborasi diperlukan dengan sesama kaum perempuan dalam memperjuangkan hak dan membangun masyarakat yang lebih inklusif,” ajaknya.
Sosok inovatif di industri kreatif
Perempuan adalah sosok tangguh dan inovatif dalam dunia usaha. Data BPS pada 2021 menunjukkan bahwa sekitar 64,5 persen pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan Indonesia telah menjadi penggerak utama ekonomi kreatif nasional. Sementara dalam sejarah Islam, istri Nabi Muhammad Saw, Khadijah, juga dikenal sebagai saudagar tangguh, cerdas, dan terampil dalam berbisnis.
Kapabilitas perempuan juga dilihat dari kemampuannya dalam mengembangkan keterampilan dan memperoleh akses untuk menjadi mata pencaharian. Menurut Rubiyanti Basuki, seorang pengusaha produksi tegel semen di Yogyakarta, penting bagi perempuan untuk memiliki usaha atau berbisnis.
"Alasan terpentingnya bagi saya adalah untuk kemandirian dan kesetaraan dalam rumah tangga serta sebagai contoh untuk anak-anak. Berbisnis selalu bisa dikombinasikan dengan peran sebagai ibu. Bisnis bagi saya adalah pride, kebanggaan," ungkap Rubi yang juga dikenal sebagai penulis yang telah membuahkan beberapa novel genre spionase ini.
Namun, lanjut Rubi, kesetaraan perempuan dengan kaum Adam saat ini masih banyak salah dalam memaknai. Kesetaraan banyak diartikan bahwa perempuan mengerjakan sesuatu agar terposisikan sama seperti laki-laki. Sentimentil feminisme banyak membawa penafsiran keliru tentang kesetaraan.
"Padahal, tidak usah meminta kesetaraan pun, sekarang sudah sangat banyak peluang terbuka. Sudah bukan saatnya lagi perempuan menuntut kesetaraan, yang pada praktiknya malah terlihat berlebihan. Perlu dipahami secara menyeluruh apakah makna kesetaraan. Sama posisinya? No!” tegasnya.
Hal senada diungkapkan Rustiyanti, seorang pekerja kreatif di Banyumas yang memiliki usaha wedding dan salon kecantikan. Motivasinya bekerja adalah agar terbiasa mandiri dan tidak terbiasa tergantung kepada pasangan. Menurutnya, perempuan harus punya pendidikan yang bagus dan punya ketrampilan khusus.
"Namun harap diingat, kesetaraan tidak harus sama persis. Meski seorang wanita punya karir bagus, tetapi tetap pada kodratnya, sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Perempuan harus menjaga harmoni," pesannya.
Perempuan di panggung politik
Peran kaum perempuan dalam panggung politik dan pemerintahan memiliki urgensi penting. Tahun 2023, United Nations Development Programme (UNDP) merilis sebuah publikasi The Gender Social Norms Index (GSNI) dengan satu kesimpulan bias gender masih merupakan masalah global dan terus meluas ke segala aspek kehidupan. Rilis tersebut mengukur bias terhadap perempuan dan menemukan sikap masyarakat terhadap perempuan dalam empat dimensi yakni politik, ekonomi, pendidikan dan fisik. Keempat dimensi tersebut sarat dengan permasalahan sosial yang menuntut partisipasi perempuan dalam politik dan pemerintahan.
Lestari Moerdijat, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mengungkapkan, pada prinsipnya partisipasi perempuan dan anak-anak perempuan muda menjadi faktor kunci dalam mencapai kesetaraan gender. Maka urgensi perempuan mengambil peran dalam politik dan perempuan dapat dipertimbangkan dengan satu pernyataan, dunia semakin maju dengan ketidakpastian dan tantangan yang menyasar jati diri bangsa.
Pertimbangan penting lain melalui beberapa pemahaman, antara lain:
Pertama, perempuan adalah pendidik yang mengutamakan kapasitas spiritual, moral dan intelektual. Peran mendidik terlihat dalam pola pengasuhan yang diberikan kepada anak-anak. Pengasuhan selalu dipandang sebagai urusan domestik, tetapi di balik kemampuan mengasuh, perempuan menanamkan kapasitas penting bagi generasi yang mereka lahirkan. Kapasitas ini diperlukan dalam dinamika pelayanan publik.
Kedua, perempuan memiliki kualitas pikiran yang diandalkan dalam dinamika pembangunan nasional. Kemampuan manajerial perempuan dibutuhkan dalam politik dan pemerintahan. Pengetahuan dan keterampilan tata kelola memungkinkan perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan suatu bangsa.
Ketiga, perempuan mampu memberikan paradigma kebaruan dalam dinamika kebijakan publik. Dalam sejarah Indonesia, perempuan berperan penting dalam upaya menciptakan perdamaian dan mempertahankan keamanan. Hal yang sama berdampak pada bidang-bidang lainnya.
Keempat, perempuan memiliki kapasitas peduli dan mengedepankan simpati dalam kehidupan publik. Bidang politik dan pemerintahan, selain mengandalkan ragam peraturan dan kebijakan, mesti mengedepankan kualitas kemanusiaan.
Sayangnya, persoalan saat ini adalah semakin banyak sekat diciptakan untuk membatas peran perempuan. Narasi atas perempuan diciptakan dengan ragam perspektif seperti kelompok yang termarjinalkan, lemah dan perlu diberdayakan. Selain itu, bias pemahaman budaya dan agama dilekatkan untuk membatasi partisipasi perempuan. Partisipasi perempuan masih dianggap dalam konteks kompetisi. Padahal, perempuan adalah tiang negara yang mesti terlibat dalam ruang-ruang publik untuk menyudahi setiap ketimpangan.
"Maka, momentum peringatan yang berkaitan dengan perempuan, misalnya Hari Kartini, Hari Perempuan Internasional mesti menjadi kesempatan untuk menyelesaikan setiap persoalan khususnya dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan sosial. Setiap sekat pembeda yang masih dipertahankan mesti didobrak agar setiap anak bangsa berpartisipasi aktif tanpa dikotomi laki-laki dan perempuan," katanya.
Menurut Bu Rerie, sapaan akrabnya, perempuan mesti terus bercahaya dalam setiap lorong kegelapan sosial termasuk memberi kebaruan bahwa perempuan sama seperti laki-laki, memiliki kompetensi untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu di tengah kenyataan gender gap yang masih menebal, perempuan menemukan celah untuk memberi kebaruan dalam berbagai bidang kehidupan di Indonesia.
Kedudukan istimewa
Dalam perspektif Islam, kaum perempuan mempunyai kedudukan yang istimewa. Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhamad Saw adalah cahaya untuk memerangi segala bentuk kezaliman terhadap wanita dan setiap hak manusia tanpa terkecuali. Islam memuliakan wanita dan menjaganya seperti dalam sabdanya:
"Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita" (HR Muslim:3729).
Demikian pula yang terjadi di Indonesia, yang secara umum menganut budaya patriarki, ketika pria dianggap lebih kuat dan berkuasa dalam banyak hal. Perempuan kerap hanya sebagai kanca wingking, bergulat di wilayah dapur, sumur dan kasur. Sosok Kartini muncul bak cahaya yang terbit dalam kegelapan. Habis gelap terbitlah terang, yang memandu kaum wanita Indonesia untuk bangkit dari ketertinggalan.
Menjadi seorang Kartini masa kini, terbentang peluang untuk berkarya di berbagai bidang. Berdaya untuk diri sendiri, serta mampu memberdayakan masyarakat di sekelilingnya. Dunia tahu, bahwa perempuan mampu dan tidak kalah kompeten dengan kaum adam.
Raden Ajeng Kartini tidaklah berumur panjang, hanya 25 tahun (1879-1904). Namun nafas dan semangatnya terus ada dalam diri para wanita dalam setiap zamannya. Kewajiban perempuan masa kini tentu bukan berjuang mendobrak emansipasi seperti Kartini, atau memanggul senjata seperti Ratu Kalinyamat dan Tjut Nyak Dhien. Kaum perempuan kini telah terdidik cerdas, kuat dan mandiri. Adalah keharusan untuk terus menjaga api semangat para pahlawan emansipasi itu sembari menjaga harmoni dengan kaum laki-laki. Agar para puan dan tuan itu, bisa berjalan selaras dan berperan seimbang.
Seperti pesan agung Raden Ajeng Kartini pada Agustus tahun 1900: “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.”
Selamat Hari Kartini untuk para puan di mana saja berada.
Editor: Kendi Setiawan


