Pemandangan kawula muda yang mengetik di kafe, mengangkat telepon guna menjawab klien, mengedit desain, mengecek jadwal tayangan konten, atau harus meeting online dengan siapa, semua itu seakan menjadi realita yang biasa. Sudah menjadi rutinitas pola mereka mencari tempat kopi atau kafe yang memang asyik dan nyaman, untuk mengerjakan pekerjaannya yang memang lebih dari satu.
Fenomena yang memang mengakrabi ini dapat dilihat meski tak disadari, bahwa generasi termuda di dunia kerja kini bergerak dengan ritme berbeda. Tak lagi mereka lihat pekerjaan hanyalah satu garis lurus semata. Pekerjaan telah menjadi garis bercabang, satu kerja bertaut dengan kerja lain. Lanskap baru ketika Gen Z akhirnya akrab dengan bekennya istilah polyworking alias memiliki lebih dari satu pekerjaan sekaligus.
Generasi muda yang kini lebih memaknai pekerjaan dengan cara yang lebih cair, tidak kaku atau monoton selaras dengan penelitian berjudul Side-Hustles: How Young People Are Redefining Work (2025). Dalam penelitian di atas, mereka melakukan side-hustle bukan sekadar untuk menambah uang jajan atau menambal kebutuhan sesaat, tetapi sebagai strategi bertahan hidup dalam dunia yang makin tidak stabil. Laporan ini memang lahir dari studi di Australia, tetapi resonansinya terasa kuat jika ditarik ke konteks Indonesia hari ini, bahkan mungkin lebih kuat karena in this economy di Indonesia.
Biaya hidup melesat di banyak kota sementara lapangan kerja formal tumbuh tetapi tak secepat kebutuhan, belum lagi digitalisasi yang merombak struktur peluang kerja. Gen Z Indonesia tumbuh dalam kenyataan, satu pekerjaan tetap tak menjamin cukupnya pendapatan atau masa depan. Mereka menyaksikan generasi sebelumnya mengalami PHK massal dan melihat orang tua yang bekerja puluhan tahun namun tak pernah benar-benar aman secara finansial. Hal di atas membuat terbetiknya pikiran serta perasaan bahwa menaruh seluruh hidup pada satu sumber pendapatan terlalu berisiko.
Terkait dengan finansial, banyak Gen Z di Indonesia mengatakan hidup di kota seperti Jakarta, Bandung, Denpasar, Surabaya, atau Yogyakarta memaksa mereka mencari sumber pendapatan tambahan. Gaji entry-level sering tak sebanding dengan biaya sewa kamar dan kebutuhan makan, terlebih lagi ditambah biaya transportasi. Bahkan di kota kecil atau kabupaten, harga-harga naik sementara lapangan kerja formal terbatas. Wajar bila seorang fresh graduate memilih bekerja tetap sebagai staf administrasi, dan malamnya menjadi editor lepas, jualan desain poster di platform digital, atau membuka kelas singkat tentang software yang ia kuasai. Jika generasi sebelumnya memahami ini sebagai kerja sampingan alias sambilan, maka Gen Z percaya ini sebagai membangun ekosistem kerja.
Selanjutnya mengenai identitas yang dalam laporan Churchill, banyak anak muda merasa bahwa side-hustle memberi mereka ruang mengekspresikan diri atau istilahnya pekerjaan yang “Gue banget”, sesuatu yang mungkin tak mereka dapatkan dalam pekerjaan utama. Di Indonesia, narasi ini tumbuh semakin kuat. Ada pekerja kantoran yang menyalurkan kecintaannya pada ilustrasi dengan membuka jasa ilustrasi.
Ada arsitek yang mengajari les kaligrafi untuk anak SD, ada tukang sablon yang menjadi voice-over talent, juga pekerja teknisi mesin ATM yang menjadi kurir makanan hingga dinihari. Belum lagi sebagai tampilan di media sosial ketika menjadi volunter suatu event. Bagi Gen Z, portofolio merupa medan ekspansi diri. Mereka tidak mau terkunci dalam satu peran saja. Identitas kerja menjadi kolase, menyusun pembentukan dan cara menunjukan diri.
Terakhir dan mungkin yang paling penting adalah rasa kendali. Dalam penelitiannya, Churchill menemukan generasi muda memandang side-hustle sebagai cara memulihkan kendali atas masa depan. Di Indonesia, di mana sebagian besar pekerjaan formal masih bersifat hierarkis alias kencang senioritasnya, bahkan terkadang kaku, rasa kendali menjadi sangat bernilai. Dengan pekerjaan sampingan, Gen Z bisa menentukan tarifnya, mengatur waktu, menolak atau mengiyakan klien. Mereka merasa hidup tak sepenuhnya ditentukan struktur perusahaan, namun dalam kendali dirinya sendiri.
Setiap fenomena tak lepas dari paradoks. Gen Z yang kini memiliki dua hingga empat sumber pendapatan sering bekerja lebih lama dari rata-rata jam kerja yang diakui secara formal. Saat teman berusia bercerita tentang betapa beratnya bekerja lembur hingga pukul sembilan malam, anak muda hari ini melanjutkannya dengan obrolan tentang shift kedua, kerja yang dikerjakan setelah pulang kerja, mereka masih harus menyelesaikan pesanan desain atau revisi konten hingga dini hari. Hal ini bukanlah berangkat dari alasan gila kerja, tetapi karena sistem mendorong mereka masuk dalam situasi itu, seakan dilepas di hutan lalu disuruh bertahan hidup alias survive. Memang ada kebebasan di dalamnya, tetapi ada juga kelelahan yang harus dibayar.
Indonesia hari ini sedang berada dalam fase yang mirip dengan banyak negara lain, yakni pasar kerja yang makin fleksibel tetapi tak cukup memberi jaminan akan biaya hidup yang meningkat. Dunia digital memang membuka banyak peluang dan kemungkinan, namun hal ini sekaligus membawa tekaanan batas waktu istirahat. Gen Z kemudian menjadi generasi yang harus beradaptasi paling cepat. Mereka memanfaatkan ruang-ruang digital dengan memahami algoritma. Jaringan mereka tak lagi linear. Merka memilih menyebar layaknya akar, mencari sumber-sumber air di tengah tanah yang gersang juga keras.
Generasi muda Indonesia tampak sedang merekonstruksi ulang makna kerja secara mendasar. Mereka melihat pekerjaan bukan sebagai fondasi tunggal kehidupan, melainkan sebagai struktur yang bisa dirakit dan dikembangkan. Fenomena ini, jika dibiarkan tanpa infrastruktur pendukung, bisa memicu kelelahan berkepanjangan. Namun, di sisi lain, ia bisa menjadi momentum transformasi besar dalam cara Indonesia memahami profesi-fleksibilitas dan keadilan ekonomi. Jika negara, perusahaan, dan masyarakat mampu membangun sistem yang mengakui kompleksitas ini, dari aturan kerja fleksibel hingga perlindungan freelancer, maka polyworking bukan hanya tanda krisis, tetapi juga tanda adaptasi zaman.
Pada akhirnya, Gen Z tidak sedang rakus kerja. Mereka berupaya merakit masa depannya sendiri, dengan peta yang tidak diwariskan generasi sebelumnya. Dan dalam peta itu, satu pekerjaan memang tak lagi cukup untuk mengarungi dunia yang terus berubah.
Editor: Kendi Setiawan


