Dark
Light
Dark
Light

Ngabuburit Asyik ala Milenial Banjarnegara: Dari Belajar Menulis hingga Jualan Foto di Internet

Ngabuburit Asyik ala Milenial Banjarnegara: Dari Belajar Menulis hingga Jualan Foto di Internet

Ngabuburit adalah kegiatan menunggu datangnya azan Maghrib menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan. Banyak hal bisa dilakukan, dari jalan-jalan santai, bermain dengan sirkelnya, atau sekadar mencari takjil gratis.

Namun, ada yang menarik dari aktivitas sejumlah remaja dan milenial Banjarnegara Jawa Tengah dalam memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang berfaedah. Ngabuburitnya asyik, dapat ilmu pula. Berikut pantauan Arina pada tiga titik kegiatan mereka.

Ada nuansa berbeda di Pondok Pesantren Mumtaza di Dusun Prapas Desa Gumiwang Banjarnegara, Sabtu 23 Maret 2024 lalu. Ratusan santri yang biasanya terjadwal mengaji, kali ini dikerahkan untuk mengikuti kegiatan literasi, yakni Gerakan Santri Menulis (GSM). 

Kegalauan Gus Mus
Acara ini diinisiasi oleh Suara Merdeka, sebuah koran tertua di Jawa Tengah. Ketua Panitia GSM, Agus Fatkhudin mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan Ramadhan selama 30 tahun terakhir. Menurut Agus, sejak 1994 pihaknya konsisten mengadakan kegiatan ini, awal tercetus GSM ini muncul dari kegalauan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bahwa budaya menulis di kalangan santri sudah jauh menurun.

"Dari  kegalauan Gus Mus dan kawan-kawan itulah lahir Gerakan Santri Menulis ini," kenangnya, "melalui gerakan ini, semangat santri untuk menulis ditumbuhkan kembali. Belajar dari para ulama terdahulu, para imam besar yang sudah meninggal. Kita tidak pernah bertemu mereka, tapi kita bisa mengenal mereka dari karya-karyanya. Dari tulisannya kita belajar sehingga ilmunya tidak hilang.”

Gerakan santri menulis ini, lanjutnya juga merupakan upaya untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh dan berkarakter.

"Dunia saat ini sudah dalam genggaman, kita jangan hanya jadi penonton. Tapi harus juga ikut membanjiri dengan konten-konten yang baik, dengan literasi, belajar, agar kontennnya kita berkualitas," imbuhnya.

Menulis memperpanjang usia
Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Mumtaza, Ustad Jufri Yusman, mengatakan di bulan Ramadhan ini para santri memang selalu mencari kegiatan positif sebagai bekal keterampilan selain mengaji rutin. Gayung bersambut, Pesantren Mumtaza terpilih sebagai lokus kegiatan.

"Tentu kami menyampaikan terima kasih karena mendapat kesempatan berharga ini. Kegiatan ini merupakan berkah Ramadhan, sebagai upaya meningkatkan literasi khususnya menulis para santri kami," tuturnya.

Gerakan Santri Menulis, menurutnya, merupakan kegiatan yang sangat baik, karena menulis bisa mengasah kecerdasan dan memperpanjang usia, dalam arti usia ilmu, pemikiran pesan dan gagasan. Dikatakan, di Banjarnegara terdapat 127 Pondok Pesantren yang terdaftar dan diharapkan satu per satu bisa dikunjungi dalam kegiatan ini, sehingga membuka cakarawala berfikir para santri.

Seorang santri Mumtaza, Syifa, sangat gembira dengan adanya pelatihan ini. Para santri bsia belajar menulis dari para penulis dan jurnalis senior agar ke depan bisa mensyiarkan islam dan juga mempromosikan potensi daerahnya. 

"Alhamdulillah, dari kegiatan ini sedikit-sedikit kami jadi tahu teknik menulis. Ke depannya kami ingin terus berlatih menulis, untuk mendukung syiar islam sekaligus memperkenalkan potensi-potensi yang ada di sini," cetusnya.

Ngabuburit Asyik Komunitas Elektro dan Robotik
Di hari yang sama, sekitar 40 remaja yang tergabung dalam Komunitas Banjarnegara Elektro Club (BEC), juga menggelar ngabuburit. Komunitas yang fokus berkegiatan di bidang elektronik dan robotik ini sudah cukup lama eksis. Meski digelar di sebuah rumah makan di pusat kota, tentunya acaranya tak hanya nongkrong semata, namun ada sharing pengalaman bersama praktisi di bidang elektronik. 

Komunitas BEC mengundang Rahmat Rizeki, seorang ahli di bidang Perencanaan dan Evaluasi Maintenance Hydro Power Plant PT Indonesia Power Mrica PGU yang menjadi narasumber acara tersebut. Rahmat merupakan pemenang kompetisi Subroto Award dan ASEAN Energy Award, ajang bergengsi di bidang elektronik. 

Menurut Rahmat, dunia elektronik dan robotik merupakan dunia masa depan yang penuh peluang. 

"Saya berharap komunitas ini terus berkembang ke depannya, agar dapat memberikan kontribusi positif bagi anak-anak muda di Banjarnegara," harap Rahmat. 

Kegiatan ini didukung oleh Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI). Ketua Pengurus Harian Komunitas BEC Fian Nur Hidayat merasa senang dengan antusiasme anggotanya dalam kegiatan ini. Ia berharap komunitas BEC bisa menjadi tempat berkumpul dan belajar bagi para pecinta teknologi di Banjarnegara, dan juga menjadi wadah untuk meningkatkan kreativitas generasi muda di bidang elektronik dan robotik. 

"Kami berharap akan lebih banyak lagi generasi muda yang bergabung di komunitas ini, sehingga memberi manfaat besar untuk bangsa," harap Fian. 

Jualan foto
Lain lagi cerita anak-anak yang tergabung dalam Komunitas Pencinta dan Pehoby Fotography Banjarnegara (KPFB). Tanggal 25 Maret 2024 sore, mereka ngabuburit sembari menggelar acara yang sudah digagas semenjak awal, yakni ‘Bukberaya KPFB’ di Rumah Makan Taman Agrotera. Dalam acara ini ratusan fotografer pemula maupun senior berkumpul untuk memotret bersama sekaligus berbagi tips dan pengalaman. Tak ketinggalan, lima model cantik turut menyemarakkan acara itu.

Wawan Karjo, Ketua KPFB menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin digelar selain sebagai media silaturahmi juga menjadi ajang upgrade skill anggota. KPFB juga menghadirkan beberapa mentor seperti fotografer Arif Widodo al Aziz yang kerap menjuarai berbagai event lomba foto, dan Amjianto yang berbagi tips jualan foto digital di di internet.

Sementara menurut Anto Gimbal, penggiat KPFB, moment ini sekaligus untuk sosialisasi komunitas fotografi kepada remaja pemula, dan siapapun yang hobi fotografi. Dengan iuran Rp50 ribu peserta mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru.

“Di komunitas kami nggak ada senior dan junior. Kita semua setara dan kekeluargaan. Yang merasa punya pengalaman sharing ilmu, yang butuh ilmu jangan canggung untuk bertanya,” kata Anto Gimbal.

KPFB berdiri pada September 2015 dan kini anggotanya mencapai ratusan orang baik kalangan pelajar, mahasiswa, pengusaha, fotografer profesional, pegawai pemerintah, hingga dokter. Komunitas ini juga getol mendukung UMKM lokal dalam hal branding dan promosil produknya melalui fotografi.

Itulah keunikan Ngabuburit Asyik ala Milenial Banjarnegara yang terpantau Arina seminggu terakhir ini.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo