Arina.id ~ Siapa tak kenal Dawet Ayu? Minuman khas dari daerah Banjarnegara Jawa Tengah ini sudah tersebar ke penjuru Nusantara. Rasanya segar dan nikmat. Butiran cendol yang legit diguyur santan kental, ditambah gula merah yang memanjakan lidah, membuat siapa saja bisa ketagihan. Dawet Ayu sangat pas diminum saat cuaca panas, atau sebagai hidangan berbuka puasa di saat tubuh dahaga.
Bicara Dawet Ayu yang kesohor tentu tak bisa lepas dari embel-embel Banjarnegara di belakangnya. Kota ini memang telah lama berjuluk sebagai ‘Kota Dawet Ayu’.
Sayangnya, meski Dawet Ayu sudah menjadi maskot Banjarnegara, Pemerintah setempat belum membangun 'Sentra Dawet' yang sebenarnya sangat strategis sebagai branding daerah. Belum ada strategi marketing dan pemusatan penjualan yang signifikan. Namun, penjual Dawet Ayu bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional ataupun di tepi-tepi jalan.
Panen rezeki
Bulan Ramadhan tahun ini, para penjual Dawet Ayu panen rezeki. Apalagi cuaca cenderung panas. Ada sejumlah warung dawet terkenal di Banjarnegara, salah satunya ‘Dawet Ayu Kang Jamil’ yang mangkal di Jalan Raya Desa Tapen Kecamatan Wanadadi.
Rasa yang unik dan khas inilah keistimewaan minuman tradisional asli Banjarnegara ini. Haji Jamil, pemilik Warung Dawet Kang Jamil, berusaha tetap mempertahankan cita rasa, dengan menyediakan bahan-bahan dawet terbaik. Di bulan puasa ini, warungnya buka jam setengah dua siang, dan tutup menjelang Isya. Dibantu empat orang karyawan, Haji Jamil sanggup melayani pesanan dalam jumlah besar.
Harga satu gelas atau cup dawet di Warung Kang Jamil hanya Rp6.000 ribu untuk rasa original. Sementara untuk rasa Durian dan Nangka Rp7.000. Dalam sehari omset yang masuk rata-rata 200 porsi atau sekitar Rp1,4 juta.
"Alhamdulillah bulan puasa selalu membawa berkah bagi kaum pedagang seperti kami. Banyak pembeli yang memesan dawet untuk disantap nanti saat berbuka dengan keluarga," kata Haji Jamil kepada Arina.id.
Disinggahi pesohor
Warga Desa Tribuana Kecamatan Punggelan ini juga layak berbangga, karena sejumlah pesohor pernah singgah di warungnya yang kecil. Sayang, Haji Jamil lupa menyebutkan beberapa nama orang beken itu, karena tidak semuanya sempat difoto. Dari pengamatan Arina.id, di dinding warung Kang Jamil yang bernuansa hijau, terpampang foto aktor kondang Mathias Muchus. Ada juga Ustadz Muhammad Faizar, juga sejumlah pejabat Pemerintah sedang menikmati segarnya Dawet Ayu.
"Dulu Pak Bupati (Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono-red) sering singgah di sini. Kalau lewat habis membangun jalan pasti singgah. Keluarganya juga sering pesan dalam jumlah besar. Kalau sekarang pesanan ya ada, tapi tidak sebanyak yang dulu,” kenangnya.
Pertahankan rasa
Haji Jamil pun membeberkan resep ‘rahasia’ olahan dawetnya. Disebutkan bahwa bahan baku Dawet Ayu meliputi tepung aren, beras, gula, kelapa, daun pandan, daun suji, garam dan air. Yang membedakan cendol Dawet Ayu dengan cendol lainnya adalah bahan dasarnya. Cendol Dawet Ayu dibuat dengan bahar dasar tepung sagu aren. Di Banyumas dikenal sebagai ‘Pati Gelang'. Tepung sagu aren diperoleh dari batang pohor aren. Pohon aren mirip pohon kelapa. Buah pohon aren berwarna hijau dan bijinya putih, biasa disebut kolang-kaling.
Bahan berikutnya adalah beras pilihan. Tepung beras ini merupakan campuran bahan cendol. Tepung beras berasal dari beras yang digiling. Bahan berikutnya adalah daun suji yang merupakan pewarna alami untuk mewarnai cendol. Daun ini memiliki klorofil yang mudah larut di air. Adapun daun pandan juga dimanfaatkan karena menghasilkan aroma cendol yang harum.
"Untuk bahan kuah atau juruh, kami menggunakan larutan gula merah atau gula Jawa original. Ada juga penambah rasa alami yaitu buah durian dan nangka, tinggal pilih sesuai selera,” papar Haji Jamil.
Raih rekor MURI
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, H Tursiman ketika dimintai komentarnya mengenai Dawet Ayu mengatakan, Pemerintah Daerah sebenarnya sudah lama memperjuangkan agar Dawet Ayu tetap lestari.
Upaya yang telah ditempuh antara lain melalui pembinaan pelaku atau penjual dawet, memperjuangkan dawet di festvial API, membuat patung dawet di pusat kota, hingga menggelar tarian massal dawet ayu yang memecahkan rekor MURI.
Tersohornya Dawet Ayu Banjarnegara akhirnya diakui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menobatkannya sebagai minuman tradisional terpopuler sekaligus minuman tradisional terfavorit pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2020.
Makna simbol Semar Gareng
Mengenai simbol tokoh wayang Semar dan Gareng pada angkringan Dawet Ayu, Tursiman menjelaskan bahwa nama kedua sosok Semar dan Gareng itu bila disingkat menjadi 'Mareng'. Kata mareng mempunyai arti kemarau panjang. Sedang lambang Ayu ditunjukkan dengan penggunaan centhong dawet yang menggambarkan sosok Dewi Srikandi. Pada centhong dawet terlihat jelas bentuk kepala Dewi yang terkenal cantik dalam pewayangan.
"Mengapa gambar Semar dan Gareng yang dipakai, bukan ksatria? Karena orang Jawa itu senang menyingkat. Semar dan Gareng disingkat jadi 'Mareng' artinya terang. Inilah kreatifnya para pedagang dawet yang selalu mengharapkan musim kemarau sehingga dawetnya laris manis,” ujar Tursiman berfilosofi.
Tak lupa, Tursmin menititipkan sebuah pesan promosi. Menurutnya, siapa pun pelancong yang singgah di Banjarnegara dan mampir untuk minum Dawet Ayu, wajahnya akan berseri-seri dan nampak 5 tahun lebih muda.
"Jadi, bagi para wisatawan, rasanya belum sempurna jika ke Banjarnegara tidak berkunjung pesiar ke Dieng dan singgah minum Dawet Ayu. Karena Anda akan merasakan lebih muda lima tahun," pungkasnya sembari tersenyum.
Editor: Kendi Setiawan


