TikTok menjadi salah satu platform media sosial yang sangat populer di Indonesia. Berdasarkan data dari Demand Sage, hingga bulan Agustus lalu, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara dengan pengguna TikTok terbanyak, yaitu 113 juta pengguna dengan tingkat penetrasinya mencapai 58.3%.
Platform media sosial yang memberikan layanan bagi penggunanya untuk dapat membuat video pendek dengan fitur musik, filter, dan berbagai fitur kreatif lainnya ini begitu digemari banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Saat bermain bersama teman, anak-anak juga asik membuat dan menonton konten di TikTok bersama. Fitur edit video yang tersedia di TikTok membuat mereka terlihat begitu mahir dalam membuat video.
Walaupun menonton dan membuat video bukanlah hal yang berbahaya, orang tua tetap harus memantau anak mereka dalam menggunakan aplikasi ini. Sebab, TikTok menyajikan beragam konten, termasuk konten yang tidak diperuntukkan kepada anak di bawah umur, seperti video orang dewasa yang mengenakan pakaian seksi, video dengan kata-kata yang tidak sopan, atau video tentang menyakiti diri sendiri (self harm).
Beberapa hari lalu ditemukan tren berbahaya yang dilakukan oleh sejumlah anak SD di Situbondo, Jawa Timur. Tren yang bersumber dari TikTok ini bernama tren Barcode Korea, yaitu tren self harm dengan menyayat tangan (cutting) agar membentuk sebuah kode batang (barcode). Parahnya lagi, hasil sayatan tersebut dinilai indah sehingga mempercantik tangan. Setelah itu, pengguna TikTok mengunggah konten tersebut dengan tagar #BarcodeKorea.
Setelah ditelusuri, tren cutting ini ternyata bukan yang pertama kalinya, hal serupa pernah terjadi di Bengkulu. Melansir bengkuluekspress.com, pada awal tahun, tepatnya bulan Maret, lebih dari 50 siswi SMP di Bengkulu Utara melakukan cutting dalam rangka mengikuti tren. "Ya, setelah kita melakukan crosscheck rupanya banyak siswi kita yang melakukan hal tersebut. Namun penyebab pasti siswi melakukan tersebut belum dapat kita pastikan yang jelas hal ini dilakukan lantaran mengikuti tren di medsos," ungkap Sri Utami Dwi Wahyuni, Kepala SMP tersebut.
Salah satu alasan yang mungkin menjadi penyebab terjadinya fenomena ini adalah karena kurangnya pengawasan orang tua. Sebab, untuk menghindari anak dari konten-konten TikTok yang tidak pantas bagi anak di bawah umur dapat dilakukan filter, seperti filter spam, komentar menyinggung, dan kata kunci tertentu. Tidak hanya itu, orang tua juga dapat memblokir sejumlah akun yang mencurigakan.
Agar terhindar dari dampak buruk konten negatif di media sosial, orang tua dapat memantau anak berselancar di dunia maya dengan cara membatasi orang-orang yang dapat mengakses video yang diunggah anak, mengajari anak agar tetap aman dan bijak dalam menggunakan media sosial, memberi batasan waktu penggunaan media sosial, dan mengecek aktivitas anak di media sosial.
Bagi yang belum tahu, TikTok adalah aplikasi media sosial yang dapat digunakan untuk membuat video. Adapun video yang umum dibuat di TikTok adalah video lipsync video menari-nari dengan diiringi alunan lagu. Video tersebut dapat dibagikan kepada teman sesama pengguna TikTok dan dapat juga diunggah secara lebih luas sehingga dapat disaksikan oleh siapa pun.
Alasan TikTok Sangat Populer di Kalangan Anak Muda
Sejak tahun 2021, persentase pengguna TikTok di Indonesia terus meningkat pesat. Bahkan, saat ini lebih dari seratus juta pengguna TikTok adalah orang Indonesia. Pengguna TikTok di Indonesia didominasi oleh kalangan generasi Z (40%), kemudian disusul dengan kelompok usia 25-34 tahun (37%).
Adapun alasan TikTok sangat populer di kalangan anak muda, di antaranya pertama, user friendly. Penggunaan aplikasi TikTok dinilai mudah karena fitur-fitur yang tersedia dalam aplikasi tersebut dapat terlihat dengan sangat jelas. Ketika membuka TikTok, fitur untuk memberi likes dan komentar serta fitur untuk menyimpan atau membagikan konten termuat dalam satu layar. Pengguna juga hanya perlu menggulir layar untuk menyaksikan konten-konten kreatif lainnya.
Kedua, konten berupa video berdurasi singkat. TikTok menyajikan konten berupa video dengan durasi yang singkat. Hal inilah yang membuat TikTok digemari oleh para penggunanya. Dengan TikTok, pengguna dapat menyaksikan kegiatan atau hal lain yang sejatinya membutuhkan waktu yang sangat lama, namun dikemas dalam TikTok dengan waktu yang sangat singkat. Faktanya, kebanyakan konten yang tersaji di TikTok hanya berdurasi kurang dari dua menit.
Ketiga, jadi ajang menyalurkan kreativitas. Tidak sedikit pengguna TikTok yang menuangkan imajinasi mereka dengan membuat konten yang begitu kreatif lewat aplikasi ini. Kreativitas ini kemudian menghasilkan konten TikTok yang beragam, seperti konten edukasi, konten a day in my life, konten tips dan trik, konten get ready with me, konten unboxing, konten rekomendasi tempat wisata, konten dengan tagar tren, dan masih banyak lagi.
Sebab Seseorang Melakukan Self Harm
Self harm adalah tindakan melukai diri sendiri secara sengaja, akan tetapi tindakan ini tidak bersifat bunuh diri. Dalam konteks ini, orang yang menyakiti dirinya sendiri tidak akan mengakibatkan kematian. Mereka melakukan tindakan ini karena beberapa hal, seperti untuk membuat diri merasa lebih baik, menghilangkan perasaan negatif, melampiaskan amarah kepada diri sendiri, bisa juga untuk mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Dengan demikian, tindakan ini tidak seharusnya dijadikan sebagai tren.
Tidak dapat dipastikan alasan seseorang melakukan self harm. Sebagian orang menyakiti diri mereka sendiri karena kondisi psikis yang terganggu, mencakup:
a. Kecemasan (anxiety)
b. Autisme
c. Gangguan bipolar
d. Depresi
e. Insomnia
f. Gangguan disosiatif, terutama gangguan identitas disosiatif dan amnesia disosiatif.
g. Gangguan makan, terutama anoreksia nervosa.
h. Gender disphoria
i. Gangguan obsesif kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder/OCD)
j. Gangguan stres pasca trauma (Post Traumatic Disorder/PTSD).
k. Kondisi dan gangguan penggunaan narkoba, alkohol, dan ganja.
Adapun tindakan-tindakan self harm di antaranya, menyayat diri sendiri, menggigit diri sendiri, menggaruk kulit secara kasar, memukul diri dengan benda tumpul, membenturkan diri ke dinding, menjambak rambut, membakar bagian tubuh, memasukkan benda ke dalam tubuh, menyalahgunakan obat-obatan, melakukan seks yang tidak aman, olahraga secara berlebihan, makan secara berlebihan, dan masih banyak lagi.
Cara Menolong Orang yang Melakukan Self Harm
Orang yang melukai dirinya sendiri sangat membutuhkan bantuan orang lain. Berusahalah untuk mencari tahu alasan mereka melakukan hal itu dengan memahami pikiran dan perasaan mereka. Sebab, orang yang melakukan self harm tidak bisa menghentikan diri mereka sendiri, mereka membutuhkan orang lain agar dapat berhenti menyakiti diri sendiri. Maka dari itu, tolonglah orang melakukan self harm dengan beberapa cara di bawah ini:
- Mengajak orang melukai diri sendiri untuk mencari bantuan profesional. Penting bagi orang yang melakukan self harm untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang tepat. Tawarkan diri untuk menemani orang tersebut membuat janji temu dengan ahli kesehatan mental. Dukungan yang diberikan oleh orang yang profesional dapat mengurangi perilaku self harm hingga mengurangi kemungkinan kematian karena kecelakaan.
- Tetap tenang dan suportif ketika mendapati seseorang menyakiti dirinya sendiri. Dengarkan keluhannya, pahami perasaannya, dan bantu ia menyelesaikan permasalahannya.
- Terbuka atas apa yang dilakukannya. Kemungkinan besar orang yang melakukan self harm merasa malu atas tindakannya karena khawatir orang lain akan menghakiminya. Bersikap terbuka atas apa yang ia lakukan dapat membuat orang tersebut merasa aman untuk menceritakan permasalahannya.
- Dorong orang yang melukai diri sendiri agar mau membicarakan permasalahannya dan tetap berada di sisinya apa pun masalah yang ia miliki. Kemudian bersama-sama mencari tahu jalan keluar yang dapat dilakukan.
- Mengangkat harga diri orang yang melakukan self harm, buat ia merasa begitu berharga, sebutkan hal-hal positif untuknya.
Sedangkan hal-hal yang harus dihindari adalah:
a. Menghakimi orang yang melakukan self harm
b. Memaksanya untuk melakukan perawatan
c. Menyebutnya sebagai orang yang mencari perhatian
d. Memaksanya untuk berubah
e. Menganggap masalahnya sepele
Editor: Muhammad Faizin


