Dark
Light
Dark
Light

Merayakan Dunia Anak Bersama Na Willa

Merayakan Dunia Anak Bersama Na Willa

Lebaran bukan sekadar perayaan pergantian bulan. Peralihan dari Ramadan ke Syawal sarat dengan berbagai momen yang dinantikan dan dikenang. Tradisi seperti mudik, takbir mursal, Salat Id, silaturahmi, hingga berwisata telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah beragam aktivitas tersebut, menonton film juga menjadi salah satu kegiatan yang kerap dinantikan.

Libur Lebaran adalah pasar yang menjanjikan bagi film Indonesia. Libur panjang bagi anak sekolah maupun kaum pekerja menjanjikan peluang angka penjualan tiket lebih besar. Wajar bila para produsen film berlomba merebut slot tayang di waktu-waktu tersebut. Film Indonesia yang tayang pun lebih banyak dibanding bulan-bulan biasa. Lebaran adalah perayaan untuk film nasional.

Di antara film nasional yang tayang di Lebaran 2026, Na Willa adalah salah satunya. Film ini merupakan gubahan sutradara Ryan Adriandhy dari novel berjudul serupa karya Reda Gaudiamo. Na Willa menceritakan kisah anak kecil bernama Na Willa. Willa, panggilan singkatnya, hidup di Surabaya. Di rumah dia tinggal bersama ibunya yang dia panggil Mak dan pembantu rumah tangga yang dia panggil Mbok. Ayah Willa, yang dia panggil Pak, profesinya pelaut.

Reda Gaudiamo menulis Na Willa dari 2005 hingga 2008. Beberapa bagian tulisannya dia unggah di media sosial. Sambutan khalayak cukup baik, mendorong Reda untuk menerbitkan Na Willa dalam bentuk buku. Akhirnya, Na Willa resmi terbit pada 2012. Pada tahun 2018, Na Willa diterbitkan ulang oleh Penerbit POST Press. Sampai Desember 2025, Na Willa sudah dicetak ulang sebanyak 12 kali.

Na Willa adalah novel yang sederhana. Narasinya berkisar pada kisah hidup sehari-hari seorang anak kecil. Hari-hari Willa diisi dengan bermain bersama teman-temannya; Farida, Bud, dan Dul. Beberapa masalah yang cenderung dewasa disikapi dengan sederhana selayaknya anak kecil memandang problematika dunia. Di bab paling awal novel, kita sudah disajikan konflik identitas yang menimpa Willa. Pak adalah peranakan. Sementara Mak adalah pribumi. Mbok bilang, Willa akan mirip Pak. Sementara Willa bersikeras dia ingin seperti Mak. Keduanya saling berbantahan ringan. Adu argumen berhenti saat Willa menangis dan mengadu ke Mak. Mak bilang, “… kamu anak Mak dan Pak. Nanti kamu tumbuh tinggi seperti Pak, dan rambutmu akan bergelombang seperti Mak.” Mbok menghampiri Willa dan minta maaf. Willa kemudian berhenti menangis dan mulai bernyanyi. Selesai. Konflik diakhiri dengan cara sesederhana itu.

Kesederhanaan memang menjadi kunci sebuah karya sastra anak. Burhan Nurgiyantoro, dalam bukunya Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2018), menuliskan bahwa sastra anak adalah karya sastra yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan. Sastra anak boleh saja ditulis oleh orang dewasa. Namun, cerita yang ada di dalamnya musti mencerminkan perasaan, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki anak-anak. Orang dewasa boleh saja menganggap isu rasial itu sensitif. Sementara di mata Na Willa, perihal fisik bisa selesai hanya dengan penjelasan yang bersahaja.

Terkait statusnya sebagai karya sastra anak, Na Willa sebenarnya menduduki kondisi yang cukup elastis. Na Willa adalah bacaan yang cocok untuk anak-anak. Namun, kisahan yang dikandungnya mengandung kemungkinan untuk turut disukai pembaca dewasa. Aksi tokoh Willa dalam cerita membuat banyak pembaca dewasa merasa terhubung dan bernostalgia akan masa kecilnya.

Taruhlah semisal dalam bab “radio #2”. Selama mendengarkan radio bermerk ERRES milik Mak, Willa penasaran bagaimana benda kecil itu bisa mengeluarkan bunyi. Willa berimajinasi, jangan-jangan di dalamnya ada orang-orang mini yang bernyanyi saat mesin radio dihidupkan. Terdorong rasa penasaran, Willa membongkar radio saat kabelnya masih menancapkan di lubang listrik. Untunglah, mendadak Mak datang. Mak menghentikan proyek kecil Willa kemudian menegur kelakuannya.

Hal-hal sederhana inilah --semacam Willa membongkar radio-- yang mungkin pernah dialami para pembaca dewasa. Melalui kelakukan Na Willa, pembaca dewasa diajak untuk menengok kembali kenangan masa lalunya. Novel Na Willa menjadi medan refleksi pembaca dewasa tentang apa yang mereka kerjakan dan mereka pikirkan selama mereka menjadi anak-anak.

Hal ini pula yang dijadikan kekuatan promosi rumah produksi film Na Willa. Tagar yang dipakai adalah #JadiAnakAnak. Menurut pengakuan produser Anggia Kharisma, Na Willa adalah film yang paling aman untuk semua orang. Untuk anak-anak, untuk keluarga, dan juga untuk siapa pun yang ingin kembali merasakan hangatnya keluarga dan masa kanak-kanak.

Dalam mewujudkan dunia anak melalui kacamata Na Willa, sutradara Ryan Andriyandhy tetap setia dengan narasi yang sudah dibuat Reda Gaudiamo. Cerita Na Willa masih sederhana dan nyaris datar-datar saja. Ryan memakai novel jilid pertama sebagai bahan cerita. Cerita diawali dengan perkenalan Na Willa beserta orang-orang di sekitarnya. Cerita ditutup dengan Na Willa yang akhirnya menemukan sekolah yang dia sukai.

Meski setia terhadap sumber aslinya, bukan berarti tidak ada sesuatu yang baru dalam film ini. Ada hal-hal menarik yang patut kita apresiasi. Seperti warna-warni properti sepanjang cerita. Kamar Willa, rumah Willa, Gang Krembangan, pasar, dan semua latar cerita tampak begitu berwarna. Dari warna-warna itulah tumbuh suasana ceria sepanjang cerita film berlangsung.

Sutradara juga memanfaatkan medium animasi sebagai cara membangun imajinasi tokoh Na Willa. Contohnya saat adegan Na Willa akhirnya menemukan sekolah yang dia impikan pada TK Juwita. Begitu Willa masuk kelas yang kosong, suasana mendadak hidup. Buku-buku terbuka. Kertas-kertas berterbangan. Kapur tulis bergerak lincah di papan tulis. Kelas yang sunyi tiba-tiba hidup, seolah menyambut datangnya penghuni baru bernama Na Willa. 

Belum lagi elemen musikal yang terdapat dalam film ini. Bagi pembaca novelnya, sama sekali tak terbayang adegan Na Willa dan Mak menengok Dul di rumah sakit mampu dibangun dengan koreo dan musik yang indah. Judul lagunya pun usil dan menggelitik: “Sikilku Iso Muni”. Alih-alih terharu dengan kondisi Dul, penonton justru diajak menikmati hentak musik dengan vokal Willa dan Dul yang penuh sukacita. Penonton seolah-olah dibisiki pesan, meskipun menjadi difabel, Dul tetap semangat menjalani hidup.

Meski demikian, selayaknya karya manusia pada umumnya, tentu saja film ini memiliki sisi lemah. Kalaupun ada silapnya, film ini kurang membangun latar Surabaya dengan tebal. Warga Surabaya memiliki pelafalan dialektis yang kuat, yang membuat mereka unik dan cenderung berbeda dengan dialek-dialek Bahasa Jawa yang lain. Bagi penonton Jawa pada umumnya, atau penonton Surabaya pada khususnya, akan merasakan usaha para aktor dalam melafalkan dialek Suroboyoan yang kurang maksimal. 

Terlepas dari kelemahan kecil di atas, Na Willa tetaplah sangat layak untuk ditonton bersama keluarga. Kisahnya yang sederhana dan penuh warna menjadikannya mudah dicerna untuk penonton kanak-kanak. Yang tua pun bisa menikmatinya, sembari mengingat-ingat indahnya masa muda. Selagi masih tayang di layar bioskop, tak ada salahnya anda ajak keluarga anda dari rentang umur berapa saja untuk bersama menonton Na Willa.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Daniel Fahmi Rizal
Penggemar dan Pembuat Komik. Alumni Pesantren Ciganjur, Jakarta.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo