Dark
Light
Dark
Light

Penyebab Prokrastinasi: Bukan karena Malas, tapi Kegagalan Mengelola Suasana Hati

Penyebab Prokrastinasi: Bukan karena Malas, tapi Kegagalan Mengelola Suasana Hati

Aktris sekaligus penyanyi Maudy Ayunda pernah memberikan pandangan terkait istilah malas. Pelantun Perahu Kertas ini enggan menyebut malas sebagai karakter orang. Rasa malas, kata dia, merupakan alat ukur seseorang dalam mencari tahu minat mereka. 

"Menurut aku malas bukan sebuah karakter, menurut aku itu sebenarnya lebih kayak symptoms. Atau kayak sinyal bahwa kita belum menemukan apa yang benar-benar memberikan kita energi," jelas Maudy dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya.

Selama ini malas memang identik dengan karakter atau sifat seseorang. Rasa malas juga selalu dikaitkan dengan soal kegagalan seseorang mengelola waktu. Padahal rasa malas yang sering muncul ketika hendak memulai suatu pekerjaan, sejatinya bukan rasa malas, melainkan rasa ingin menunda (istilahnya prokrastinasi). Tidak jarang hal sepele pun terasa begitu berat dilakukan sebab menunda-nunda sudah menjadi kebiasaan.

Piers Steel, Guru Besar Psikologi Motivasi di University of Calgary, mengungkapkan, pada dasarnya setiap orang mengetahui jika sikap menunda-nunda merupakan hal yang merugikan diri sendiri. 

"Terkadang, seseorang merasa sangat buruk ketika sedang menunda-nunda. Perasaan tersebut muncul akibat adanya kesadaran dari dalam diri. Walaupun mengetahui bahwa kebiasaan tersebut buruk, beberapa orang tetap melakukannya," ujar Piers Steel sebagaimana dikutip dari The New York Times.

Fuschia Sirois, psikolog dari University of Sheffield, bahkan menyebut prokrastinasi sebagai suatu hal yang tidak rasional. “Tidak masuk akal melakukan sesuatu yang sejatinya Anda tahu akan berdampak negatif,” katanya.

Sirois mengungkapkan, orang-orang yang memiliki kebiasaan menunda-nunda sangat parah disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola suasan hati yang buruk. Penundaan bukan merupakan ketidakcakapan dalam memanajemen waktu, melainkan upaya mengatasi suasana hati yang buruk dan emosi negatif yang muncul ketika melakukan suatu pekerjaan, seperti rasa bosan, cemas, stres, kesal, dan sebagainya.

Senada dengan Fuschia Sirois, Timothy A Pychyl, Profesor Psikologi dan anggota Kelompok Penelitian Penundaan di Universitas Carleton di Ottawa mengungkap, prokrastinasi merupakan masalah manajemen emosi, bukan masalah manajemen waktu.

Rasa enggan melakukan suatu pekerjaan bergantung pada situasi atau pekerjaan itu sendiri, seperti adanya hal yang tidak menyenangkan pada pekerjaan tersebut. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa prokrastinasi muncul akibat perasaan yang lebih dalam, seperti ragu pada diri sendiri untuk melakukan suatu pekerjaan. Sehingga, prokrastinasi dijadikan sebagai sebuah solusi.

Padahal, perasaan negatif yang terikat dengan pekerjaan tersebut akan tetap muncul setiap akan mengerjakannya kembali. Bahkan, perasaan negatif tersebut kian meningkat hingga berujung pada menyalahkan diri sendiri.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang membahas perihal suka merenung dan menyalahkan diri sendiri, aktivitas tersebut muncul setelah seseorang melakukan prokrastinasi, atau yang dikenal dengan "kognisi menunda-nunda". Dikatakan Sirois, pikiran tentang menunda-nunda biasanya dapat memperburuk kesulitan dan stres, yang kemudian dapat berkembang pada prokrastinasi lebih lanjut.

Rasa lega yang muncul ketika menunda-nunda suatu pekerjaan membangun sebuah siklus yang sangat buruk. Dalam hal ini, rasa lega dianggap sebagai sebuah imbalan. Dengan adanya rasa lega -baca: imbalan- yang diberikan oleh 'pekerjaan' menunda-nunda, orang-orang cenderung akan mengulanginya. Inilah mengapa kemudian prokrastinasi menjadi sebuah kebiasaan yang parah.

Seiring berjalannya waktu, prokrastinasi tidak hanya berdampak pada produktivitas seseorang, tetapi juga pada kesehatan mental dan fisik, seperti stres kronis, tekanan psikologis umum, kepuasan hidup yang rendah, gejala depresi dan kecemasan, kesehatan yang buruk, penyakit kronis, bahkan hipertensi.

Menunda-nunda pekerjaan agar Merasa lebih baik

Prokrastinasi dilakukan untuk menghindari perasaan negatif, padahal, akhirnya akan membawa pada perasaan yang lebih buruk. Prokrastinasi menggambarkan kecenderungan untuk mengutamakan kebutuhan jangka pendek daripada jangka panjang.

"Kami sebenarnya tidak dirancang untuk berpikir jauh ke depan karena kami perlu fokus untuk memenuhi kebutuhan kami saat ini,” ungkap psikolog, Hal Hershfield.

Profesor pemasaran di Sekolah Manajemen Anderson itu juga menunjukkan, pada tingkat saraf, manusia menganggap diri di masa depan adalah orang lain. Sehingga, saat sedang menunda-nunda, sebagian otak akan berpikir bahwa tugas yang ditunda -dan emosi negatif yang menyertainya- adalah masalah orang lain. Lebih parah lagi, kebiasaan menunda-nunda yang berakibat stres dapat membuat seseorang menjadi tidak bisa menentukan keputusan dengan bijak dan berorientasi pada masa depan.

Saat dihadapkan dengan pekerjaan yang menimbulkan emosi negatif, seperti cemas dan sebagainya, "pendeteksi ancaman" di otak (amigdala) akan menganggap tugas tersebut sebagai ancaman. Padahal, jika seseorang menyadari prokrastinasi akan meningkatkan emosi negatif, otak akan berpikir untuk mengatasi ancaman tersebut. Para peneliti menyebut upaya menangani ancaman ini dengan "pembajakan amigdala."

Sayangnya, melakukan banyak kegiatan produktivitas tidak serta merta dapat menghilangkan kebiasaan menunda-nunda. Sebab, hal tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan "bagaimana menyelesaikan banyak pekerjaan?" sehingga tidak dapat mengatasi akar penyebab dari kebiasaan menunda-nunda.

Cara mengetahui penyebab prokrastinasi

Kesadaran diri berperan penting dalam upaya mengetahui akar penyebab prokrastinasi. Sebab, perlu disadari bahwa menunda-nunda bukan merupakan perihal produktivitas, melainkan perkara emosi. Mengunduh aplikasi manajemen waktu atau aplikasi kegiatan produktif lainnya bukanlah sebuah solusi. Upaya yang perlu dilakukan adalah mengelola emosi dengan cara yang baru.

“Otak kita selalu mencari imbalan yang relatif. Jika kita memiliki kebiasaan menunda-nunda, tetapi kita belum menemukan imbalan yang lebih baik, maka otak kita akan terus melakukannya berulang kali sampai kita menemukan sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan,” kata Dr. Judson Brewer, Direktur Penelitian dan Inovasi Mindfulness Center di Brown University.

Psikiater dan ahli saraf itu juga menyampaikan, otak perlu diberikan sesuatu agar dapat mengubah kebiasaan apa pun. Sesuatu itu ia sebut dengan "Bigger Better Offer" (Penawaran Lebih Besar yang Lebih Baik).

Dalam konteks prokrastinasi, ada imbalan yang perlu diberikan daripada penghindaran -atas pekerjaan yang membawa emosi negatif-, yakni imbalan yang dapat meringankan emosi negatif yang menjadi ancaman bagi diri. Adapun solusinya bersifat internal, yakni tidak bergantung pada apa pun selain pada diri sendiri. Beberapa cara yang dapat dilakukan di antaranya:

1. Memaafkan diri sendiri

Pada penelitian di tahun 2010, para peneliti mendapati bahwa siswa yang memaafkan dirinya karena menunda-nunda belajar ketika hendak ujian pertama, akan meminimalisir prokrastinasi di ujian selanjutnya. Dengan demikian, penelitian itu menyimpulkan bahwa memaafkan diri sendiri dapat mendukung produktivitas.

2. Praktik self-compassion

Praktik self-compassion di sini maksudnya memperlakukan diri sendiri dengan baik dan pengertian ketika sedang menghadapi masa sulit. Penelitian di tahun 2012 oleh Dr. Sirois, yang mengkaji hubungan antara stres, rasa sayang pada diri sendiri dan prokrastinasi, mendapati bahwa orang yang suka menunda-nunda cenderung memiliki stres yang tinggi dan rasa kasihan pada diri sendiri yang rendah.

Penelitian lainnya juga mengungkap bahwa self-compassion dapat mendukung motivasi dan pertumbuhan diri, mengurangi tekanan psikologis, meningkatkan perasaan menghargai diri sendiri serta menumbuhkan emosi positif.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo