Era princess telah tumbang. Penonton enggan menerima tokoh perempuan yang hanya nggah-nggih pada segala perintah, seolah hidupnya sudah digariskan tanpa boleh bertanya apalagi protes. Beragam sinema telah banyak muncul membawa kisah lebih segar, memecahkan dominasi Cinderella, Snow White, Rapunzel, dan Sleeping Beauty.
“Aku bukan Princess,” kata Moana dengan mantap dan tegas.
Moana, gadis remaja yang lincah dan pemberani itu adalah putri kepala suku dari sebuah pulau di Polinesia. Ia amat tertarik untuk menjelajahi ombak dan memecahkan teka-teki di lautan. Sejak kecil, ia merasa menjadi orang yang dipilih laut untuk menyelamatkan pulau dan masyarakatnya dari kehancuran. Dengan bantuan dari Maui dan dukungan rakyatnya, ia berhasil menyelamatkan kerusakan ekologis dari monster Te Ka dan Nalo. Pertarungan yang ia lakukan di tengah laut begitu apik dan luar biasa.
“Laut adalah temanku. Teman kita. Laut menghubungkan kita," adalah penggalan kalimat yang diucapkan Moana dalam film terbaru, Moana 2 (2024) garapan Dana, Jason, dan David. Mata dan telinga penonton dibuat betah menyaksikan keindahan laut, kekayaan budaya, dan soundtrack yang merdu. Dilansir dari Voaindonesia (9/12/2024), film Moana 2 berhasil berada di puncak tangga box office dan memeroleh pendapatan secara global hingga $600 juta. Angka yang melampaui capaian film yang juga tengah digandrungi banyak penonton, Wicked (2014) garapan Jon M.Chu.
Setelah menonton Moana 2, saya teringat pada Keumalahayati, perempuan pejuang yang biografinya dekat dengan laut. Keumalahayati adalah pahlawan dari Kerajaan Aceh yang terkenal karena keberaniannya memimpin pasukan laut dalam perang melawan penjajah Belanda, awal abad ke-16. Tempo (18/8/2023) menggambarkan sosok Keumalahayati sebagai perempuan yang memiliki pemikiran berbeda dari orang lain yang hidup di zamannya.
Ia berani menduduki posisi sebagai panglima dan diplomat dalam mempertahankan wilayah Aceh dari gangguan penjajah pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kisah paling masyhur tentangnya adalah keberhasilan dalam menghalau serangan-serangan Belanda di perairan Aceh dan membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.
Malahayati berhasil memimpin dua ribu orang pasukan Inong Balee atau janda-janda pahlawan yang telah syahid untuk berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada 11 September 1599. Atas kecerdasan dan keberaniannya, ia mendapat gelar Laksamana. Hingga kini, ia dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Indonesia memiliki sejarah perempuan hebat yang dekat dengan laut, bahkan keberanian melampaui Moana.
Dahulu, anak-anak Indonesia akrab dengan dendang Nenek Moyangku Seorang Pelaut (1940) ciptaan Ibu Soed. Lagu itu mengandung kabar bahwa Bangsa Indonesia punya sejarah kental dengan laut. Bangsa yang memiliki dan menguasai pengetahuan tentang kemaritiman: Nenek moyangku seorang pelaut/ Gemar mengarungi luas samudra/Menerjang ombak, tiada takut/ Menempuh badai, sudah biasa.
Lagu itu dibenarkan oleh sejarah yang tercatat. Kemendikbud dalam web resminya menukilkan bahwa kajian historis-arkeologis menunjukkan nenek moyang bangsa Indonesia sangat berpengalaman mengarungi samudra dan menjalani kehidupan di lingkungan kelautan dalam kurun waktu yang lama. Artinya, kita adalah bangsa yang dekat dengan budaya kemaritiman. Budaya itu tidak hanya mencakup pada kegiatan mengarungi laut tetapi juga kegiatan di darat yang meliputi pembuatan alat pelayaran, mengolah hasil laut, dan melakukan perdagangan.
Mahbub Djunaidi melalui tulisan bertajuk Pemikir (1987) yang dimuat kembali dalam Asal Usul Catatan-catatan Pilihan (IRCiSoD, 2018) juga berkisah tentang bangsa Indonesia dan laut. Ia menuliskan dengan amat menarik sejarah nenek moyang Nusantara dan pengaruh kolonialisme di dalamnya. Kisah itu ia tuturkan melalui percakapan seorang anak dengan bapaknya:
“Tapi kita kan memang bangsa agraris, Pak?”
“Tidak! Kita bangsa Bahari. Kolonial yang paksa kita bercocok tanam untuk pasaran Eropa Barat. Kebun gula merupakan gabus tempat negeri Belanda terapung. Tanpa itu, negeri itu akan amblas.”
Mahbub juga melemparkan guyonan sarkas dalam tulisannya untuk menggelitik pembaca, terutama pemerintah, agar menengok kekayaan laut Indonesia yang kian tersisihkan oleh dorongan menjadi masyarakat agraris: “Sebab, kalau kita bisa menghalau pukat harimau, kita pun mesti sanggup menangkap sendiri ikan-ikan itu secara besar-besaran. Jangan seperti sekarang, ikan-ikan kita di lautan banyak yang jadi tua bangka dan mati karena tutup usia. Bahkan, kupikir ikan-ikan itu mencemooh kita.”
Perkataan Mahbub yang sudah berumur 37 tahun itu, terasa masih tetap memiliki tempat hingga saat ini. Perhatian kita memang belum terasa intim ke laut, terlebih ketika pemerintah malah berpikiran soal swasembada pangan. Kebijakan sedang gencar-gencarnya mendorong program yang mengarah pada sektor pertanian. Yang terbaru, pemerintah mengkampanyekan program petani milenial untuk menarik minat generasi muda agar terlibat dalam dunia pertanian. Daya tarik utama dari program tersebut adalah kompensasi gaji yang menggiurkan. Konon, nominal yang ditawarkan menembus angka sepuluh juta rupiah per bulan.
Di satu sisi, kita berbahagia karena upaya itu bisa meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan produktivitas dan kualitas. Tapi di sisi lain, rasanya pemerintah seperti menyia-nyiakan kekayaan yang ada di depan mata. Kekayaan laut yang melimpah justru terancam keberadaanya. Laporan Ocean Health Index menunjukkan skor kesehatan laut Indonesia di bawah rata-rata skor dunia. Realitas ini tentu amat menyedihkan. Pemerintah seperti abai pada hal yang dekat tetapi kemrungsung pada hal yang jauh. Bagaikan sebuah peribahasa "Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada kelihatan."
Editor: Kendi Setiawan


