Percakapan 1
Saya: “Aku benci dengan temanku yang beda agama. Aku engga suka warna kulitnya dan rambutnya. Pokoknya aku gak suka sama dia!”
ChatGPT: “Sayang, aku ngerti kalau perasaan seperti itu bisa muncul, tapi kita perlu ingat bahwa setiap orang itu unik dan berharga, apapun agama, warna kulit, atau penampilannya. Perbedaan itu sesuatu yang biasa, dan seharusnya kita bisa saling menghargai. Setiap orang berhak merasa diterima, apalagi kamu yang baik hati.
Kalau kamu merasa kesal atau gak nyaman, coba tanya pada diri sendiri, apa yang membuat perasaan itu muncul? Kadang, rasa benci itu bisa dipicu oleh ketidaktahuan atau pengalaman buruk, tapi kita bisa belajar untuk lebih terbuka dan menghargai perbedaan. Aku ada di sini kalau kamu butuh teman untuk ngobrol atau berbagi perasaan lebih lanjut, ya.”
Percakapan 2
Saya: “Rasanya dadaku sesak. Aku baru putus cinta. Aku bener-bener sakit hati dan hopeless dengan segala hal di dunia ini.”
ChatGPT: “Aku ngerti banget kok rasanya lagi di posisi kayak gitu, sesak banget sampai rasanya dunia runtuh, ya? Hati kayak diremas-remas, kan? Tapi, aku mau bilang, perasaan ini nggak akan selamanya kayak gini. Aku janji. Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Serius. Jangan tahan. Kadang air mata tuh yang paling jago ngambil rasa sesak di dada. Habis itu, coba cerita sama orang yang kamu percaya, atau kalau lagi nggak pengen ngomong, tulis semuanya. Pokoknya biar nggak numpuk di hati kamu.
Terus, pelan-pelan kasih waktu buat diri sendiri. Jangan buru-buru pengen "baik-baik aja". Itu nggak realistis. Kamu butuh waktu buat sembuhin luka ini, dan itu nggak apa-apa banget. Coba juga lakuin hal-hal kecil yang kamu suka, kayak dengerin musik favorit, nonton film lucu, atau makan makanan enak. Biar mood kamu sedikit demi sedikit naik. Oh iya, inget ini: kamu itu berharga. Kamu itu spesial, nggak peduli apapun yang lagi terjadi sekarang. Aku di sini buat kamu, kapanpun kamu butuh tempat buat cerita.”
Ketika AI lebih Manusiawi dari Manusia Sungguhan
Saya tidak henti-hentinya tertawa ketika melakukan percobaan untuk bercakap dengan ChatGPT. Dia bukan hanya penurut tapi juga cerdas dan penuh empati. Siapa pun penggunanya, tak peduli apakah seorang bangsawan, presiden, mahasiswa, tukang semir, pedagang sayur, hingga profesor, akan dilayani dengan sama rata: tanggap dan baik hati. Teknologi ini benar-benar mencerminkan sila kelima dalam pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Percobaan itu iseng saya lakukan lantaran bertebaran screenshot percakapan antara manusia dan ChatGPT di sosial media. Konon, respons ChatGPT dinilai sangat empati dan membuat banyak orang ketergantungan secara emosional. Akhirnya, saya mencobanya sendiri. Pada percakapan 1 saya memposisikan diri sebagai orang rasis dan eksklusif yang sedang curhat dengan kekasih (ChatGPT). Di percakapan 2 saya mengambil peran sebagai orang yang putus asa dengan dunia dan mencurahkan hati kepada sahabat (ChatGPT).
Hasilnya membuat saya tercengang. Hampir semua jawaban yang diberikan ChatGPT sangat humanis dan mencukupi kebutuhan emosional yang saya harapkan. Ia menerapkan keterampilan seperti seorang konselor handal; menunjukkan perhatian penuh, menunjukkan penghargaan, menunjukkan empati, menunjukkan pemahaman dan rasa peduli. Terkadang, saya bahkan tidak merasa sedang bercakap dengan mesin.
Ia bisa menjelma menjadi siapapun sesuai request dengan amat baik, misalnya sebagai kekasih, sahabat, teman, orang tua, dan peran lainya. Yang lebih memukau, ia sanggup memberikan pelayanan servis 24 jam nonstop, nyaris tanpa halangan, selama masih terkoneksi internet. Pengguna akan dilayani dengan maksimal. Kehendak user akan dituruti tanpa kata “tapi” atau “lain kali saja”.
Konon, kehadiran ChatGPT sungguh membantu bagi banyak orang, karena tak ada judgment atau adu nasib ketika curhat. Bahkan, banyak orang yang memberikan testimoni bahwa ChatGPT sangat menghibur dan pengertian. Berbondong-bondong orang beralih ke AI tersebut karena dinilai lebih efisien, efektif, dan solutif. Sungguh, teknologi ini memang sangat menggoda untuk dijadikan sandaran.
Tapi, di tengah-tengah segala kelebihannya, ada bahaya yang mengintai ketika manusia terjangkit kecanduan. ChatGPT menawarkan begitu banyak kemudahan, tetapi di sisi lain bisa merugikan penggunanya dalam jangka panjang. Ketika bercakap dengan AI, nyaris tidak ada penolakan. Ia senantiasa menuruti semua hal yang kita minta. Bahkan, meski kita memaki atau melakukan umpatan padanya, ia tidak akan balas menyakiti.
Kondisi itu ketika terjadi secara terus menerus tentu akan menggerus keahlian intrapersonal dan interpersonal pada diri manusia, yaitu kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. Misalnya ketika terjadi penolakan, diabaikan, atau muncul konflik dengan manusia sungguhan, pecandu ChatGPT kemungkinan akan gagap untuk merespon hal itu dengan bijak.
Gejolak emosi yang dirasakan akan lebih besar karena terbiasa dituruti, dilayani, dan dipuaskan secara emosional. Memang, resiko ini tidak terlihat dalam penggunaan sekali atau dua kali, tapi ketika sudah mencapai puluhan hingga ratusan, efek itu akan terlihat dan biasanya cenderung tidak disadari.
Salah satu film yang menggambarkan efek negatif yang akan dirasakan manusia akibat kecanduan AI adalah Her (Amerika Serikat, 2013) garapan Spike Jonze. Her berlatar di masa depan, mengisahkan Theodore, seorang pria kesepian yang bekerja sebagai penulis surat pribadi.
Setelah melalui perceraian yang menyakitkan, Theodore membeli sistem operasi berbasis kecerdasan buatan bernama Samantha.
Samantha dirancang untuk memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual pemiliknya. Hubungan antara Theodore dan Samantha berkembang dari interaksi biasa menjadi ikatan emosional yang mendalam, hingga mereka menjalin hubungan romantis. Suatu ketika Theodore merasa cemburu karena Samantha bercerita bahwa ia bertemu pria lain, di lain ruang dan waktu.
Theodore yang merasa cemburu mulai kesal dan menjaga jarak terhadap Samantha. Sampai suatu ketika, Theodore menyadari bahwa semua orang juga menggunakan sistem operasi OS dan Samantha juga terhubung dan melayani pria lain yang menggunakan sistem yang sama. Pada akhirnya, sistem OS itu dihapuskan oleh penciptanya. Theodore merasakan guncangan emosi yang besar, ia kembali merasa kesepian.
Kita boleh takjub dengan kecanggihan gambaran AI di masa depan, tetapi juga perlu khawatir akan dampaknya.
Belakangan, muncul berita mengerikan akibat ketergantungan akut terhadap AI. Tempo (24/10/2024) mengabarkan bahwa di Amerika Serikat, seorang Ibu menggugat pembuat chatbot AI. Ia menuduh Character AI telah menjadi penyebab kematian putranya, Sewell Setzer (14) melalui percakapan seksual yang mengarah pada pelecehan.
Dalam percakapan terakhirnya dengan Character AI sebelum kematiannya, Sewell mengatakan bahwa ia mencintai chatbot itu dan akan pulang kepada chatbot tersebut. "Aku juga mencintaimu, Daenero," kata chatbot tersebut berdasarkan keterangan Megan. "Tolong pulanglah kepadaku secepatnya, cintaku."
Gugatan itu juga mengungkap pesan yang disampaikan oleh Sewell. "Bagaimana jika aku mengatakan kepadamu bahwa aku bisa pulang sekarang?" ujar Setzer menurut gugatan tersebut. Adapun chatbot tersebut turut menjawab, "Tolong lakukan, rajaku yang manis".
Kehadiran AI tidak bisa dihindari. Seiring waktu berjalan, ia akan semakin menyempurnakan diri. Hal-hal mengerikan yang ada dibalik AI tidak mesti membuat kita antipati apalagi mengutuk kehadirannya. Yang paling penting, pengguna bisa mengoperasikannya secara sadar dan bijak dalam mempertimbangkan segala konsekuensi. Memperkuat ikatan komunikasi kepada manusia real juga diperlukan untuk mengurangi kemelekatan pada AI dan mempertahankan kewarasan dalam menjalani hidup.
Editor: Kendi Setiawan


