Dark
Light
Dark
Light

Antara Cinta dan Kontrol: Mengenali Toxic Relationship

Antara Cinta dan Kontrol: Mengenali Toxic Relationship

Mungkin kita pernah berpikir: selama ada cinta, hubungan pasti bisa berjalan baik. Namun nyatanya, tidak begitu. Ada hubungan yang didasari cinta, tapi justru membuat seseorang merasa tertekan bahkan kehilangan diri sendiri. Ini disebut toxic relationship; hubungan yang secara perlahan merusak, baik secara mental maupun fisik.

Secara sederhana, toxic relationship diartikan sebagai hubungan yang dipenuhi pola interaksi negatif. Psikolog Lillian Glass, yang pertama kali mempopulerkan istilah ini pada tahun 1995, mendefinisikan toxic relationship sebagai hubungan yang tidak saling mendukung, penuh konflik, persaingan, ketidak hormatan, dan salah satu pihak berusaha menjatuhkan pihak lain.

Toxic relationship bukan soal pertengkaran sesekali. Ini tentang pola yang terus berulang. Biasanya salah satu pihak merasa dikendalikan, direndahkan, atau dimanipulasi. Hubungan seperti ini sering kali membuat seseorang merasa bersalah atas hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahannya. Korban biasanya menjadi ragu dengan diri sendiri, takut untuk bicara, dan merasa tidak cukup baik.

Hal yang membuat relasi toxic begitu kompleks karena ia tidak selalu tampak jelas. Sering kali, hubungan ini dibalut dengan cinta, janji perubahan, atau nostalgia masa lalu yang indah. Korban sering merasa terjebak antara harapan dan kenyataan, antara rasa sayang dan rasa sakit.

Gambaran dari relasi toxic bisa kita temukan dalam film Marriage Story (Noah Baumbach, 2019). Sinema ini mengangkat kisah Charlie dan Nicole, pasangan yang sedang menjalani proses perceraian karena pola interaksi yang buruk. Marriage Story memperlihatkan dengan gamblang bagaimana cinta bisa berubah menjadi konflik, manipulasi, dan luka emosional yang mendalam. 

Alih-alih menyelesaikan masalah secara terbuka dan jujur, Charlie dan Nicole justru sering menahan emosi, menyimpan dendam, dan akhirnya meledak dalam pertengkaran yang menyakitkan. 

Ada salah satu adegan paling emosional, yaitu ketika mereka saling menyalahkan, menghina, dan menangis, menunjukkan betapa dalamnya luka yang mereka pendam selama bertahun-tahun. Peristiwa ini bukan pertengkaran biasa, tapi akumulasi dari rasa tidak didengar, tidak dihargai, dan kehilangan identitas dalam hubungan.

Nicole merasa bahwa selama pernikahan, ia kehilangan suara dan ruang untuk berkembang. Ia merasa hidupnya hanya berputar di sekitar ambisi Charlie, sementara kebutuhannya sendiri diabaikan. Di sisi lain, Charlie merasa bingung dan frustrasi karena tidak memahami sepenuhnya apa yang salah. 

Ketimpangan ini menciptakan ketegangan yang terus-menerus membengkak. Mereka sama-sama merasa tidak dipahami dan tidak didukung hingga berakhir pada saling menyakiti.

Marriage Story berhasil memotret hubungan yang beracun karena adanya ketidakseimbangan peran, komunikasi yang menyakitkan, dan hilangnya rasa saling menghargai.

Bagaimana Cara Keluar dari Hubungan yang Toxic?
Keluar dari hubungan toxic memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak orang bertahan karena ketergantungan emosional, tekanan sosial, rasa takut, atau harapan bahwa pasangan akan berubah. Namun, bukan mustahil untuk mengakhirinya. Setiap orang berhak atas hubungan yang sehat. 

Mengenali pola yang merusak menjadi kunci paling awal untuk menelisik hubungan. Coba untuk bertanya pada diri sendiri, apakah pernah merasa cemas, tidak dihargai, atau kehilangan jati diri secara berulang dalam sebuah hubungan? Jika jawabannya iya, validasi perasaan tersebut. Jangan abaikan intuisi yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. 

Jika situasi semakin rumit dan tidak ada perubahan, mencari dukungan dari orang yang bisa dipercaya adalah pilihan tepat. Orang lain bisa memberikan perspektif yang lebih jernih dan membantu dalam melihat situasi secara objektif. Usaha ini bisa mengikis bias atau asumsi yang memberatkan diri untuk keluar dari relasi yang toxic.

Setelah itu, mulailah untuk tetapkan batasan. Belajar mengatakan “tidak” pada hal-hal yang mengganggu. Setiap orang punya hak untuk menentukan apa yang baik dan tidak bagi dirinya. Jika pasangan, teman, bahkan keluarga tidak menghormati batasan itu, berarti ada yang salah.

Belajar mengatakan “tidak” bukanlah bentuk egoisme, melainkan cara menjaga kesehatan mental dan emosional. Jika hubungan sudah sangat merusak, pertimbangkan untuk keluar sepenuhnya. Ini bisa berarti mengakhiri hubungan, menjaga jarak, atau bahkan mencari bantuan hukum jika melibatkan kekerasan.

Setelah keluar, beri waktu untuk menyembuhkan luka. Terapi journaling, atau kegiatan yang memperkuat identitas diri bisa membantu membangun kembali kepercayaan dan harga diri.

Mengapa penting untuk memahami dan keluar dari relasi toxic? Hubungan yang sehat adalah fondasi kesejahteraan psikologis. Menurut American Psychological Association, hubungan yang penuh dukungan dapat meningkatkan kesehatan mental, memperkuat sistem imun, dan memperpanjang usia. 

Sebaliknya, hubungan yang toxic dapat memicu stres kronis, depresi, kecemasan, bahkan gangguan fisik seperti insomnia atau gangguan pencernaan. Dalam konteks sosial, membiarkan relasi toxic terus berlangsung juga memperkuat budaya kekerasan dan ketimpangan. 

Membiarkan hubungan toxic terus berlangsung tidak hanya merugikan individu tetapi memperkuat budaya yang tidak sehat, budaya ketika kontrol, kekerasan, dan manipulasi dianggap wajar. Padahal, setiap orang berhak merasa aman dan dihargai. 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo