Dark
Light
Dark
Light

Berkenalan dengan Fear of Missing Out (FoMO): Kecemasan dan Kekhawatiran yang Menghantui Generasi Digital

Berkenalan dengan Fear of Missing Out (FoMO): Kecemasan dan Kekhawatiran yang Menghantui Generasi Digital

Kita berada di zaman dengan tantangan, tuntutan, nilai-nilai, cita-cita dan hubungan sosial yang berbeda dari zaman sebelumnya. Kehadiran teknologi membawa kita pada kehidupan yang dualisme, satu sisi memudahkan urusan hidup, di sisi lain memberi resiko berupa kekhawatiran hingga kesepian.

Dahulu, untuk sekadar mendapat informasi atas suatu hal, kita harus bersusah payah mendapatkannya. Dibutuhkan usaha, tenaga, bahkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Kini, kita patut berbahagia, kesulitan itu memudar, digantikan dengan peradaban klik atau sentuhan jari.

Namun, kemudahan akses dan koneksi itu juga membawa sisi-sisi gelap, salah satunya fenomena Fear of Missing Out (FoMO)

Secara definisi mungkin kita akan kesulitan mengucapkannya secara konkret ketika dihadapkan pada pertanyaan seputar Fear Missing Out atau FoMO. Tapi tanpa disadari, kehidupan kita telah menyerempet bahkan langganan fenomena FoMO. Kondisi itu terjadi sejak kita bangun tidur hingga akan terlelap lagi. Jadi, apa sebenarnya FoMO?

Pernahkah merasa tertekan ketika melihat foto-foto selebgram atau teman yang terlihat cantik dan indah (dengan efek filter atau edit tentunya)? Atau pernahkan merasa bernasib paling buruk dari yang lain ketika melihat orang-orang memamerkan foto liburan di tempat-tempat yang sedang hits?

Semakin terpapar informasi tersebut, rasanya seperti ada benda keras yang menekan dada  hingga sesak. Sambil terus memandangi nasib orang lain secara virtual, pikiran menjadi memiliki kesimpulan bahwa orang lain menjalani kehidupan lebih menarik, seru, sukses, dan bahagia. Jika hal tersebut pernah kita alami, maka sudah bisa dipastikan, kita terjangkit Fear Missing Out atau FoMO.

FoMO merujuk pada perasaan cemas atau khawatir bahwa orang lain mungkin sedang menikmati kehidupan yang tidak kita miliki. Istilah itu semakin popular dengan makin maraknya penggunaan media sosial yang memungkinankan setiap orang melihat kehidupan orang lain tanpa jeda.

Istilah FoMO pertama kali diperkenalkan oleh Patrick J.McGinnis pada tahun 2004 melalui sebuah artikel berjudul Sosial Theory at HBS: McGinnis’ Two FOs yang terbit di The Harbus, koran mahasiswa Harvard Business School. Ia menuliskan FoMO sebagai kekhawatiran yang meluas bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman yang lebih memuaskan ketimbang dengan yang kita miliki saat ini.

Kekurangan informasi seputar pengertian, penyebab, dampak, dan upaya meminimalisir FoMO dapat menarik kita pada hal-hal yang mengarahkan  pada rasa khawatir, kesepian, hingga depresi. Maka, dibutuhkan pemahaman seputar FoMO untuk mengantisipasi hal-hal tersebut. Berikut adalah upaya untuk berkenalan dengan Fear Missing Out:

Penyebab dan Dampak Fomo
Salah satu penyebab terjadinya FoMO adalah ketergantungan yang terjadi pada berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok dan Twitter (X). Platform itu memungkinkan kita bisa melihat kehidupan orang lain mulai dari momen berlibur, perayaan, hingga pamer beragam pencapaian tanpa batas dan jeda.

Misalnya yang baru-baru ini terjadi, orang berbondong-bondong membeli boneka labubu yang harganya cukup mahal hanya untuk memenuhi standar media sosial yang dipantik oleh postingan Lisa Blackpink. Lalu, juga mulai marak operasi plastik di kalangan artis yang mulai menjadi tren. Banyak orang rela melakukan apapun demi mengejar standar tersebut. Seolah, jika tidak mengikuti trend itu, akan muncul perasaan tertinggal dan tidak up to date.

Dampak FoMO terhadap individu cukup mengkhawatirkan. Seseorang yang terlanjur terjerat FoMO cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi serta kurang bersyukur karena selalu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Selain itu, FoMO juga dapat mengganggu keseimbangan hidup karena terlalu fokus pada dunia virtual yang justru mengabaikan kehidupan nyata.

Patrick J.McGinnis dalam bukunya berjudul Fear Of Missing Out (2020) juga memaparkan bahwa menurut laporan Psychology Today, suasana hati (mood) orang yang mengalami FoMO secara umum kurang baik. Rasa percaya diri mereka lebih rendah dan ada perasaan kesepian serta inferior, terutama jika sudah diselimuti keyakinan bahwa mereka tidak sesukses orang-orang sebaya atau yang ada di lingkaran sosial mereka. FoMO juga turut dikaitkan dengan penurunan prestasi belajar, kesulitan dalam interaksi tatap muka, dan gangguan motivasi.

Lalu, apa yang harus dilakukan?
Mengatasi FoMO terutama yang sudah berada di level akut memerlukan kesadaran diri untuk berupaya penuh mengelola penggunaan media sosial dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa meningkatkan value.

Membangun kebiasaan baru apalagi yang mengarah pada hal-hal positif memang tidak mudah, tetapi tentu bisa kita lakukan dengan disiplin dan komitmen yang sungguh-sungguh. Karena dengan begitu, kita akan benar-benar merasa merdeka, seperti yang dikatakan Friedrich Nietzsche dalam salah satu tulisannya: “Dan apakah kebebasan itu? Kebebasan adalah saat seseorang memiliki kemauan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.”

Upaya untuk meninggalkan FoMO dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya belajar tegas dalam mengambil keputusan. Setelah meluruskan niat berupaya untuk mengubah keinginan itu menjadi aksi. Memilih apa yang benar-benar kita inginkan dan memberi komitmen pada hal-hal yang perlu kita lakukan. Menutup mata pada semua pilihan lain dengan melindungi diri dari segala hal yang dapat menjadi pemicu, distraksi, dan perilaku yang dapat melemahkan keyakinan kita.

Atomic Habits (2018) karya James Clear juga dapat menjadi panduan dalam mengupayakan habit baru untuk terhindar dari FoMO. Dalam bukunya itu, Clear menuliskan bahwa perubahan perilaku dapat dilakukan dengan memulainya dari hal yang paling kecil dan diulang secara terus-menerus hingga menjadi otomatis. Misalnya hal paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah tidak lekas membuka gawai saat baru bangun tidur dan menghindari menatap sosial media ketika akan istirahat. 

Clear juga menuliskan empat kaidah perubahan perilaku yang dapat dijadikan rumus untuk membangun kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik, di antaranya: menjadikannya terlihat, menjadikannya menarik, menjadikannya mudah, dan menjadikannya memuaskan.

Jika pada akhirnya kita tetap harus bersentuhan dengan sosial media dan tidak bisa sepenuhnya mengantisipasi paparan informasi, yang harus kita temukan adalah titik keseimbangan yang tepat. Merenungkan dan menata kembali hubungan dengan gawai dan aplikasi akan memberi manfaat.

Dalam studi berjudul No More Fomo: Limiting Social Media Decreases Loneliness and Depression, peneliti dari University of Pennsylvania menemukan fakta bahwa orang yang mengurangi konsumsi media sosial mengalami penurunan kadar FoMO, kecemasan, depresi, dan kesepian.

Pada akhirnya, kita tidak boleh terlena oleh kecanggihan teknologi tapi juga tidak tepat mengutuknya tanpa ampun. Yang terbaik, menemukan titik tengah dalam penggunaannya. Memanfaatkan semaksimal mungkin hadirnya teknologi tapi juga diimbangi pengetahuan seputar sisi-sisi gelap yang
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo