Kualitas udara yang terus memburuk di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi perhatian serius dari pemerintah. Bahkan, akibat menurunnya kualitas udara di Ibu Kota menyebabkan Presiden Joko Widodo menderita batuk selama hampir empat pekan, dan itu masih dirasakan saat berpidato dalam acara Penyampaian RUU APBN 2024 dan Nota Keuangan, di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, (16/8/2023) lusa.
“Beliau belum pernah merasakan (batuk) seperti ini dan kemungkinan dokter menyampaikan ada kontribusi daripada udara yang tidak sehat dan kualitasnya buruk," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno awal pekan lalu di Istana Merdeka.
Berdasarkan situs pemantau kualitas udara, IQAir, pada hari Selasa dan Rabu (15-16 Agustus 2023) lalu, US Air Quality Index (AQI US) atau indeks kualitas udara di wilayah Jakarta berada pada angka 156-152. Berdasarkan tingkat polusi, DKI Jakarta masuk dalam kategori kondisi tidak sehat, dan menjadi terburuk keempat di dunia setelah Baghdad, Irak (171), Doha, Qatar (164), dan Kuching, Malaysia (157).
Pada Kamis kemarin, level udara di Jakarta masuk kategori sedang (99 AQI US). Sementara per hari ini, Jumat (18/8/2023), AQI US kembali naik di angka 112 masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. AQAir memperkirakan, selama tiga hari ke depan (Sabtu hingga Senin) AQI US DKI Jakarta tidak banyak berubah, bahkan cenderung kembali naik (138-144 AQI US) dan masuk pada level tidak sehat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan beberapa faktor penentu buruknya kualitas udara di Wilayah Jakarta karena musim kemarau panjang. Pada musim kemarau ini, polusi udara dapat meningkat karena tidak banyak hujan dan polutan yang tidak tercuci, sehingga tetap berada di udara.
"Pada musim kemarau polusi udara dapat meningkat karena tidak banyak hujan dan polutan tidak tercuci, sehingga tetap berada di udara," kata Plt. Deputi Bidang Klimatologi, Dodo Gunawan, dilansir dari CNBC Indonesia.
Dodo menyebut BMKG baru bisa mengeluarkan prakiraan musim hujan pada Agustus atau awal bulan September 2023. Di mana musim hujan setiap daerahnya, kata dia, tidak akan serentak sama.
"Pada bulan Agustus atau awal September akan dikeluarkan prakiraan musim hujan. Tibanya musim hujan tidak sama di setiap daerah," ujarnya.
Selain karena konsentrasi polutan, penyebab pencemaran kualitas udara Jakarta disebabkan oleh kendaraan bermotor. Dari catatan pada tahun 2022 lalu, sedikitnya ada 24,5 juta kendaraan bermotor dan 19,2 juta di antaranya sepeda motor.
Pada September 2021 Air Quality Life Index (AQLI) memuat laporan terkait Polusi Udara Indonesia dan Dampaknya Terhadap Usia Harapan Hidup. Laporan tersebut menyampaikan bahwa Indonesia telah mengalami peningkatan polusi partikulat. Sebanyak lebih dari 93 persen dari 262 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah di mana tingkat PM2.5 rata-rata tahunan melebihi ambang pedoman WHO. Jika konsentrasi partikulat saat ini bertahan, rata- rata usia harapan hidup akan berkurang 2,5 tahun relatif terhadap apa yang akan terjadi jika ambang pedoman WHO sebesar 10 g/m3 (PM2.5) dipenuhi.
Beberapa daerah di Indonesia polusi udaranya jauh lebih buruk daripada rata-rata nasional. Di Jakarta, yang berpenduduk lebih dari 11 juta orang, rata-rata penduduk akan hidup 5,5 tahun lebih pendek jika tingkat PM2.5 tetap bertahan pada tingkat saat ini, dibandingkan dengan jika ambang pedoman WHO dipenuhi. Di Sumatera dan Kalimantan, rata-rata penurunan harapan hidup adalah sekitar empat tahun. Di Sumatera Selatan, penduduk kota Palembang diperkirakan akan kehilangan rata-rata 4,5 tahun, dan penduduk Kabupaten Ogan Komering Ilir akan kehilangan rata-rata 3 tahun.
Jika diukur dari segi harapan hidup, polusi partikulat ambien adalah risiko terbesar bagi kesehatan manusia di Indonesia. Asap rokok, misalnya, mengurangi rata-rata harapan hidup orang Indonesia hingga sekitar 1,9 tahun, sementara malnutrisi anak dan ibu mengurangi harapan hidup hingga 1 tahun.
Secara total, populasi Indonesia saat ini akan kehilangan sekitar 643 juta tahun hidupnya akibat polusi partikulat jika konsentrasi seperti pada 2019 bertahan. Indonesia akan menghadapi salah satu beban polusi udara tertinggi di dunia.
Menunggu Kebijakan Nyata
Tantangan ganda pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini tidak berbeda dengan yang pernah dihadapi oleh London, Inggris, Los Angeles, California, atau Osaka, Jepang — yang dulu dijuluki “the big smoke”, “the smog capital of the world” dan “smoke capital” — selama periode industrialisasi mereka. Warisan perbaikan lingkungan itu adalah bukti bahwa tantangan polusi di Indonesia dapat dipecahkan.
Faktanya, Tiongkok telah mencetak kemajuan luar biasa dalam meningkatkan kualitas udara dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2014, pemerintah mendeklarasikan “perang melawan polusi” dan melembagakan rencana nasional untuk menghadapinya. Menurut data satelit, polusi partikulat di kota-kota Tiongkok telah berkurang rata-rata sekitar 30 persen sejak “perang melawan polusi” dicanangkan. India, yang telah mendeklarasikan perang melawan polusinya sendiri pada Januari 2019, akan berada di jalur yang sama jika berhasil memenuhi target pengurangan polusi yang dinyatakan sebesar 20 hingga 30 persen.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mulai mengambil beberapa langkah awal untuk mengatasi masalah polusi udara. Sejauh ini, sebagian besar upaya terkonsentrasi pada sektor transportasi. Padahal publik berharap ada solusi menyeluruh yang tidak hanya berbasis pada intervensi pada masyarakat. Di sisi lain, sejumlah kebijakan dari pemerintah dinilai masih terkesan lambat.
Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina mendorong pemerintah menyiapkan solusi jangka pendek untuk mengatasi polusi udara terhadap anak. Ia menekankan, anak dan lansia menjadi korban paling rentan menderita penyakit akibat kualitas udara yang buruk.
"Dampak kualitas buruk pada kesehatan anak bisa sangat mengkhawatirkan. Anak-anak yang kurang daya tahan tubuhnya bisa dengan mudah terjangkit penyakit. Termasuk juga bagi lansia dan orang yang memiliki komorbid,” kata Arzeti dilansir dari laman resmi dpr.go.id.
Pemerintah memang tengah menyiapkan solusi jangka panjang dalam upaya perbaikan kualitas udara dengan menggencarkan program kendaraan listrik guna mengurangi polusi. Meski begitu, Arzeti menilai harus ada upaya jangka pendek di sektor kesehatan dalam menghadapi ancaman kualitas udara yang buruk.
“Ancaman polusi udara meningkatkan risiko infeksi pernafasan akut seperti ISPA dan pneumonia. Dan kita tidak bisa menutup mata polusi udara bisa berdampak pada risiko penyakit jantung dan kanker untuk jangka panjang. Ini harus menjadi perhatian serius,” jelasnya.
Ditambahkannya, persoalan kesehatan tidak bisa menunggu pencapaian program-program jangka panjang pemerintah, apalagi untuk kelompok rentan seperti anak. Arzeti pun menyoroti banyaknya laporan mengenai anak-anak yang belakangan gampang terkena penyakit.
"Anak-anak akhir-akhir ini mudah terserang batuk dan flu. Tidak sedikit juga yang terkena ISPA. Tentunya harus diwaspadai karena menurut WHO, ISPA menjadi penyebab utama angka kematian akibat penyakit menular di dunia,” sambung dia.
Editor: Muhammad Zunus


