Ketika NU Mengimajinasikan Masyarakat Ideal di Masa Depan

Ketika NU Mengimajinasikan Masyarakat Ideal di Masa Depan

Arina.id ~ 22 tahun silam, tepatnya Oktober 2001, kaum muda Nahdlatul Ulama menggelar forum bergengsi di Pesantren Salafiyyah Syafi'iyah Situbondo, Jawa Timur. Forum bertajuk “Muktamar Pemikiran Islam” yang menghadirkan para cendekiawan lintas organisasi, seperti Nurcholish Madjid, KH Masdar F Masudi, KH Said Aqil Siroj, serta dari akademisi berbagai kampus IAIN itu mencoba dihadirkan kembali dalam tajuk Muktamar Pemikiran NU Jilid II.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla menyampaikan, Muktamar Pemikiran Nahdlatul Ulama kedua ini mengusung tema "Imagining Future Society" (Membayangkan Bentuk Masyarakat Masa Depan).

“Ini disebut sebagai muktamar kedua, karena melanjutkan Muktamar Pemikiran NU yang pertama yang berlangsung di Situbondo pada tahun 2021. Pada saat itu KH Fawaid Syamsul Arifin masih ada. Dan beliau menyediakan diri sebagai tuan rumah Muktamar Pemikiran NU yang pertama,” ujar Gus Ulil sapaan akrabnya pada pembukaan Muktamar Pemikiran Nahdlatul Ulama kedua tahun 2023 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (1/12/2023).

Gus Ulil mengungkapkan, bayangan masyarakat ideal masa depan dapat didasarkan pada konsep mabadi khaira ummah atau dasar-dasar masyarakat terbaik yang dicanangkan oleh Ketua PBNU, KH Mahfudz Shiddiq pada tahun 1937. 

“Konsep ini bisa menjadi titik awal bagi anak-anak NU, kader-kader NU, termasuk para sarjana dan pemikir NU untuk membayangkan (imagining) kira-kira bentuk masyarakat yang ideal seperti apa,” lanjut dia.

Masyarakat yang ideal, kata Gus Ulil, bukan hanya diperuntukkan untuk warga Nahdliyin atau orang Islam saja, tetapi juga gambaran masyarakat Indonesia dan dunia secara umum.  

“Pada tahun 2016 pemerintah Jepang mengenalkan suatu istilah yang kemudian populer saat ini yang disebut dengan Society 5.0. Di dalam konsep itu dibayangkan bentuk masyarakat masa depan yang merupakan ‘perkawinan’ antara manusia dengan teknologi digital. Itu adalah konsep yang dibayangkan oleh masyarakat Jepang. Nah kita ingin membayangkan bentuk masyarakat yang ideal seperti apa, itulah yang akan jadi bahan pembicaraan di forum ini,” lanjutnya.

Sebelumnya, pengampu ngaji online kitab Ihya Ulumuddin ini menapik anggapan bahwa perhelatan ini mengandung unsur politik. Ia menyatakan kegiatan ini murni dimaksudkan agar ruang publik yang sekarang ini disesaki perbincangan politik ada percakapan lain yang sifatnya lebih substantif yaitu pemikiran.

“Ini adalah muktamar yang tanpa kandidat karena tidak ada pemilihan ketua umum di sini. Karena itu, ini adalah muktamar yang insya Allah akan tenang sekali. Tidak ada kasak-kusuk, tidak ada lobi-lobi politik, sama sekali tidak ada,” ujar Gus Ulil berseloroh.

Ia menambahkan, pihaknya ingin mendiskusikan sekaligus merumuskan gagasan-gagasan masyarakat ideal yang akan dilangsungkan dalam bentuk sidang-sidang komisi yang pada akhirnya akan menjadi sidang pleno dan menghasilkan rekomendasi.

Rangkaian acara Muktamar Pemikiran NU

Menurut laporan panitia, pada hari kedua, Sabtu (2/12/2023) Muktamar Pemikiran NU II dibuka dengan sesi panel 1 untuk merumuskan mengenai tema Imagining the Future Society (membayangkan masyarakat masa depan).

Pada hari kedua ini Muktamar Pemikiran NU akan dibuka dengan keynote speech oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, lalu dilanjutkan diskusi panel bertema "Imagining the Future Society" dengan narasumber KH Abdul Moqsith Ghazali, Ahmad Najib Burhani, dan Widya Priyahita Pudjibudojo.

Selanjutnya, akan dibagi lima diskusi panel dengan tema dan narasumber yang berbeda.

Panel pertama berdiskusi terkait tema "Membayangkan Masyarakat Masa Depan dengan Sudut Pandang Agama" dengan narasumber Gus Ulil Abshar Abdalla, Marzuki Wahid, Maya Dina, Sahiron, Achmad Munjid, dan Aksin Wijaya.

Panel kedua berdiskusi terkait tema "Membayangkan Masyarakat Masa Depan dengan Sudut Pandang SDM dan Pendidikan" dengan narasumber Ahmad Zainul Hamdi, KH Abdul Ghoffar Rozin, Dianta Sebayang, Abdur Rahman Hasbi, Rumtini, dan Ufi Ulfiah.

Panel ketiga berdiskusi terkait tema "Membayangkan Masyarakat Masa Depan dengan Sudut Pandang Teknologi dan Media Sosial" dengan narasumber Hasanuddin Ali, Savic Ali, Waizly Darwin, Husein Ja’far Al Hadar, Tri Mumpuni Wiyatno, dan Hartono.

Panel keempat berdiskusi terkait tema "Membayangkan Masyarakat Masa Depan dengan Sudut Pandang Ekonomi dan Politik" dengan narasumber Rumadi Ahmad, Abdul Gaffar Karim, Prof. Ahmad Erani Yustika, Athia Yumna, dan Ah Maftuchan.

Panel kelima berdiskusi terkait tema "Membayangkan Masyarakat Masa Depan dengan Sudut Pandang Budaya" dengan narasumber Ahmad Suaedy, Maria Fauzi, Cicik Farcha Assegaf, Kiai M. Jadul Maula, Virdika Rizky Utama, dan Aef Syaifuddin.

Setelah lima diskusi panel selesai azan dilanjutkan dengan diskusi bersama Fransisco Budi Hardiman dan Ismail Fajrie Alatas. Kemudian ditutup dengan malam kebudayaan berisi penampilan pencak silat, akustik, hadrah dari Karawang, dan pembacaan puisi oleh Sosiawan Leak.

Hari Ketiga, 3 Desember 2023

Adapun pada hari ketiga akan dilakukan refleksi dan rencana tindak lanjut dari Muktamar Pemikiran NU. Hingga akhirnya akan ada pembacaan rekomendasi dan konferensi pers oleh Rumadi Ahmad dan Ahmad Zainul Hamdi.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo