Sosok TGH Turmudzi Badaruddin, Mursyid Tarekat Lombok yang Berpulang di Usia 90 Tahun

Sosok TGH Turmudzi Badaruddin, Mursyid Tarekat Lombok yang Berpulang di Usia 90 Tahun

Jakarta, Arina.id-Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin meninggal dunia hari ini Kamis (15/6/2026) beliau dimakamkan pada Jumat (16/10/2026) pukul 15.30 WITA di Masjid Asrama Putri, Yayasan Pondok Pesantren Qamarul Huda, Bagu, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Almarhum merupakan pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, NTB. Selain berkiprah dalam pendidikan pesantren, ia juga mengemban amanah sebagai Mustasyar PBNU dan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB.

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengungkapkan duka yang sangat mendalam atas wafatnya TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin, Mustasyar PBNU dalam usia 90 tahun.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….atas nama pribadi dan keluarga besar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin” ungkapnya di Jakarta, Kamis (15/10/2026). 

Mengutip artikel NU Online berjudul Tuan Guru Turmudzi, Nusa Tenggara Barat, (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin merupakan mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda di Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, NTB.

Ia lahir pada 1 April 1936 dari keluarga Perwangse atau bangsawan suku Sasak. Gelar “Lalu” yang disematkan di depan namanya menunjukkan latar belakang kebangsawanannya.
Ayahnya, Tuan Guru Haji Lalu (TGHL) Badarudin, merupakan ulama berpengaruh yang merintis pengembangan pesantren melalui kegiatan mengajar di langgar atau musala di rumahnya. Dari langgar kecil itu kemudian jadi pesantren, madrasah dan perguruan tinggi di NTB.

TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin memperoleh pendidikan agama pertama dari orang tuanya. Pada 1944, ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Selanjutnya, pada 1948–1952, ia belajar di Madrasah Mu'allimin Darul Qur'an di Bengkel, Lombok, yang diasuh TGH Soleh Chambali.

Setelah itu, ia berangkat ke Makkah dan menetap selama sekitar 10 tahun. Pada 1962, ia kembali ke Tanah Air dan mulai merintis pendirian Madrasah Diniyah serta Madrasah Ibtidaiyah Qamarul Huda. Setahun kemudian, pada 1963, ia mendirikan Pondok Pesantren Qamarul Huda.

Pengembangan lembaga pendidikan tersebut berlanjut dengan pendirian Madrasah Tsanawiyah pada 1968 dan Madrasah Aliyah pada 1984.

Pada 1999, PBNU menyelenggarakan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Qamarul Huda. Dalam forum tersebut, muncul gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi di lingkungan pesantren.

Atas inisiatif Ketua Umum PBNU saat itu, KH Abdurrahman Wahid, Pondok Pesantren Qamarul Huda bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy, Jawa Timur. Kerja sama tersebut kemudian melahirkan STAI Ibrahimy di lingkungan pesantren pada 1999.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo