Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meinggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Arina.id - Peribahasa itu menunjukkan bahwa seseorang yang telah meninggal dunia menyisakan citra diri antara baik dan buruk yang akan dikenang dan dibicarakan oleh orang yang dia tinggalkan. Seberapa besar pengaruhnya bagi masyarakat, seberapa lama dia akan dikenang dan dikisahkan oleh orang-orang yang mempunyai pengalaman pribadi dengannya.
Banyak orang akan mengungkapkan kedekatan pribadinya dengan seorang tokoh yang meninggal dunia dalam sebuah obituari demi sebuah penghormatan terakhir. Terlebih di era algoritma media sosial, ketika mendiang tokoh tersebut mempunyai pengaruh besar, banyak yang akan memanfaatkan momentum wafatnya untuk meningkatkan jangkauan interaksi.
Obituari sendiri menurut Adi Suprayitno (2019) adalah berita kematian seorang tokoh disertai biografi singkatnya. Tujuan penulisan obituari biasanya untuk penghormatan terakhir bagi mendiang tokoh tersebut atas seberapa besar pengaruhnya di masyarakat, dan tentunya konten tulisannya berisikan kebaikan dan hubungan pribadi penulis dengan mendiang tokoh kharismatik tersebut.
Rasulullah sendiri pernah memerintahkan untuk memuji kebaikan orang yang sudah meninggal dunia, dan tidak membicarakan kejelekannya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam al-Mustadrak ala al-Sahihain no. 1421 berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ، وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِمْ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
Artinya: "Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah besabda “sebutkanlah kebaikan orang yang meninggal dunia di antara kalian, dan hindari untuk membicarakan keburukan mereka”. Hadits ini sahih periwatannya meskipun tidak dicatat oleh Imam Bukhari dan Muslim."
Izzuddin al-Amir al-Kahlani dalam Al-Tanwir Syarh Jami’ al-Saghir, [Riyadh: Maktabah Dar el-Salam, 2011, vol. 2, hal. 243], menyebutkan bahwa perintah menulis kebaikan orang yang telah meninggal adalah menunjukkan suatu kesunahan. Berikut catatannya:
قيل: الأمر فيه للندب وذلك للترحم عليهم ويستغفر لهم ويقتدي بهم السامع
Artinya: "Dikatakan bahwa perintah tersebut menunjukkan kesunahan. Hal itu dikarenakan atas dasar meminta belas kasih Allah kepada mereka yang telah meninggal, dan memohonkan ampunan kepada mereka, serta memberikan contoh positif bagi pendengar kisah kebaikan mereka."
Kesimpulan perintah sunah ini juga dicatat oleh para pakar fiqih Islam seperti catatan Abdul Hamid al-Syarwani dari kalangan Syafi’iyah dalam Hasyiyah-nya atas Tuhfatul Muhtaj [Mesir: Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, 1983, vol. 3, hal. 180] berikut:
فَمَا يَقَعُ الْآنَ مِنْ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَقُولُ كَانَ عَالِمًا أَوْ كَانَ كَرِيمًا لَا حُرْمَةَ فِيهِ بَلْ يُسَنُّ لِخَبَرِ «اُذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ» وَمِنْ ذَلِكَ الْمَرْثِيَةُ الَّتِي تُفْعَلُ فِي الْعُلَمَاءِ
Artinya: "Apa yang terjadi di era kini terkait sebagian masyarakat berkata “dia orang alim” atau “dia orang yang mulia” adalah bukan sebuah tindak keharaman, akan tetapi tindak kesunnahan sebagaimana dalam hadits “sebutkanlan kebaikan orang yang meninggal dunia di antara kalian”, begitu juga al-Martsiyah (eligi) yang diciptakan dan dinyanyikan untuk kematian ulama."
Menulis obituari ataupun eligi bagi mendiang tokoh berpengaruh memang disunahkan. Namun terdapat hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan tersebut, yakni tidak bertujuan untuk membangkitkan rasa duka yang mendalam.
Muhammad Amin al-Harari mencatat dalam Al-Kaukabul Wahhaj Syarh Sahih Muslim bin Hajjaj, [Jeddah: Darul Minhaj, 2009, vol. 18, hal. 107.], bahwa al-Martsiyah (eligi, nyanyian sedih, ratapan, nyanyian pemakaman) yang dilarang adalah yang sampai membangkitkan kesedihan mendalam.
Berikut catatannya:
أن المرثية المنهي عنها ما فيه مدح الميت وذكر محاسنه الباعث على تهييج الحزن وتجديد اللوعة
Artinya: "Al-Martsiyah yang dilarang adalah yang mengandung pujian kepada mendiang yang meninggal, dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya yang bisa membangkitkan rasa sedih yang mendalam, dan memperbaharui duka mendalam."
Obituari yang tertulis dan eligi yang terkidung atas mendiang tokoh yang meninggal dunia sejatinya hanya merupakan sebuah penghormatan dan upaya menjalin kenangan antaranya dengan penulis secara personal. Hal ini bukan bertujuan untuk memperdalam duka sehingga terkesan tidak menerima akan suratan takdir yang telah ditetapkan.
Obituari yang memuat kisah kebaikan sejatinya menambahkan doa baik dari penulis dan pembaca kepada mendiang tokoh tersebut. Kisah baik itu akan menginspirasi pembaca untuk meneladaninya, dan mejadikannya sebuah role model dalam kehidupan.
Meskipun pada intinya obituari yang tertulis pasti memuat rasa sedih dan duka yang mendalam atas kehilangan sosok mendiang tokoh, akan tetapi kesedihan itu tidak ditujukan untuk menolak takdir yang telah digariskan. Semua murni sebuah ekspresi kerinduan atas kehilangan sosok berpengaruh yang tentunya berat dirasakan oleh masyarakat yang mengenal pribadi baiknya.
Obituari mendiang para tokoh kharismatik perlu ditulis oleh siapapun yang pernah mengalami interaksi secara pribadi dengan mereka, terlebih bagi mereka yang mempunyai kedekatan secara personal dengan tokoh-tokoh tersebut. Jika tidak dituliskan dengan baik maka kisah kebaikan mereka hanya menjadi informasi dari mulut ke mulut yang lambat laun akan terlupakan.
Tertulisnya obituari kisah kebaikan para tokoh akan memberikan pengaruh positif kepada masyarakat yang ditinggalkan. Doa-doa baik dan juga pahala tentu akan mengalir kepada mereka dengan pengaruh positif dari kisah mereka kepada masyarakat secara luas. Meskipun jasad mereka sudah menyatu dengan bumi. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


