Jakarta, Arina.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis hasil pemodelan lintasan hanyut untuk memberikan gambaran mengenai kemungkinan pergerakan korban berdasarkan dinamika arus dan gelombang laut.
Pemodelan tersebut dipimpin Widodo Setiyo Pranowo, peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN. Tim Ocean Climate Research Group (OCRG) PRIMA BRIN menggunakan ribuan partikel hipotetik untuk memetakan kemungkinan arah penyebaran korban dari lokasi terakhir mereka diketahui.
“Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40 persen dari total arus permukaan di lokasi. Kondisi arus ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran,” kata Widodo, Sabtu (19/9/2026).
Pemodelan Partikel Hipotetik
Dalam simulasi tersebut, BRIN mengasumsikan setiap korban memiliki bobot 60–70 kilogram dan mengenakan pelampung. Pergerakan partikel dihitung secara berkala dengan mempertimbangkan embusan angin dan dinamika arus laut.
Peneliti juga memperhitungkan penyimpangan arah yang dipengaruhi bagian tubuh yang berada di atas permukaan air. Namun, akurasi pemodelan sangat bergantung pada kepastian koordinat awal ketika rombongan kehilangan kontak.
“Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal. Dua versi koordinat yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda,” ujar Widodo.
Delapan Skenario Lintasan
Karena terdapat ketidakpastian mengenai koordinat awal, BRIN menyusun delapan skenario kemungkinan pergerakan korban. Seluruh hasil simulasi kemudian digabungkan melalui pendekatan ensembel untuk menghasilkan peta probabilitas lintasan hanyut.
Salah satu skenario menunjukkan kemungkinan korban bergerak ke arah barat menyusuri pesisir Lampung. Skenario lainnya memperlihatkan partikel masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan terbawa hingga ke arah barat laut.
Area probabilitas hanyut juga semakin luas seiring berjalannya waktu. Wilayah yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban diperkirakan meluas dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14.
Widodo menegaskan pemodelan tersebut bukan penunjuk lokasi pasti korban, melainkan gambaran kemungkinan pergerakan berdasarkan sejumlah parameter kelautan.
Menurutnya, kajian tersebut dapat menjadi bahan pengembangan sistem mitigasi dan pertolongan dalam menghadapi kejadian serupa di perairan.
“Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi, kemudian pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut,” tutur Widodo.
Sebelumnya Tim Search and Rescue (SAR) menghentikan operasi pencarian delapan korban yang hilang di perairan Selat Sunda setelah memasuki hari ke-10.
Delapan korban tersebut terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Editor:


