Muhammad Imam Aziz, Tokoh NU Penggerak Sosial dan Pembela Kaum Terpinggirkan

Muhammad Imam Aziz, Tokoh NU Penggerak Sosial dan Pembela Kaum Terpinggirkan

Jakarta, Arina.id— Kabar duka itu datang di dini hari, Sabtu, 12 Juli 2025, tepat pukul 00.46 WIB. Muhammad Imam Aziz, seorang kiai, intelektual, dan aktivis yang begitu dihormati, berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta.

Pesan-pesan duka mengalir deras di lini masa Facebook dan grup-grup WhatsApp sejak pagi buta, tepat saat aku baru membuka mata. Sejenak aku terpaku. Lalu, air mataku luruh tanpa bisa kucegah.

Ingatan itu segera melayang pada satu pertemuan yang begitu membekas—di sebuah sudut Giyanti Coffee Roastery, Jakarta, dua tahun lalu. Saat itu, tahun 2023, aku mendapat tugas mewawancarai Kiai Imam untuk keperluan beasiswa Kelas Jurnalisme Pantau, program dari yayasan yang dirintis jurnalis senior Andreas Harsono.

Kiai Imam menyambutku dengan antusias dan tulus. Tidak ada jarak antara seorang kiai  besar denganku, jurnalis muda yang masih merangkak. Percakapan kami mengalir akrab, sesekali ekspresinya serius jika terkait isu-isu sosial dan gerakan rakyat. 

Komunikasi kami tak berhenti di situ. Justru semakin intens ketika redaksi NU Online memintaku menulis laporan mendalam tentang perjuangan warga Wadas, sebuah desa kecil di Purworejo yang menolak keras penambangan andesit untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener.

"Saat kamu menghubungi saya, senang sekali akhirnya ada media yang mau menerima kronologi persoalan Wadas. Saya  sempat bingung mau dikirim ke mana tulisan ini," Kiai Imam mengawali obrolan soal Wadas.

"Saat tulisan itu ramai, saya tengah dirawat di rumah sakit. Presiden telpon minta urus soal Wadas, Pak Ganjar juga telpon. Sampai-sampai rumah saya dijaga banser," ia tertawa mengingat peristiwa tersebut.

Kiai Imam bercerita bagaimana ia sejak awal berdiri di samping warga, meski berbagai intimidasi menghampiri. Ia tetap teguh dalam pendirian, bahkan berani membongkar dugaan manipulasi dalam proyek tambang yang membuat geger jagad raya. Seandainya aku tahu kondisi kesehatannya saat itu, tentu akan berpikir ulang untuk menghubungi. Kiai Imam menceritakan kondisinya jauh hari setelah kasus itu mereda.

Kegigihan Imam Aziz mendampingi warga diakui pula oleh rekan-rekannya. Rumekso Setyadi atau mudah disapa Markijok, rekan yang mendampingi kasus Wadas melalui facebook pribadinya bercerita baru saja menerbitkan buku Catatan dari Wadas.

Kiai Imam menginginkan buku tersebut segera terbit. "Bukune ndang dicetak (buku segera dicetak). Padahal saya harus melakukan finishing untuk ejaan dan salah tulis. Kalau beliau sudah ngomong saya nggak mungkin bilang tidak. Maka saya segera, meminta teman me-lay out plus mencetak 4 hari waktunya," tulis Markijok.

"Buku yang dia beri catatan akhir, ternyata memang dia siapkan untuk akhir semua di dunia. Saya paham kenapa dia ingin segera buku itu terbit dan orang tahu, bahwa dia sudah melakukan ikhtiar dalam soal Wadas, yang merupakan penutup dari semua hal yang dia kerjakan dari semenjak muda, menemani yang terpinggirkan, yang terbuang dan yang terampas," kata Markijok.

Imam Aziz dikenal sebagai tokoh gerakan sosial. Aktivis yang menguasai berbagai ilmu sosial tentang kiri Islam, rekonsiliasi, demokrasi, khazanah ke-NU-an, juga kepesantrenan. Ia mahir dalam mengelola organisasi.

Peneliti yang juga jurnalis, Made Supriatma mengaku amat kehilangan apalagi ia baru saja melakukan pertemuan reuni LKiS di Yogyakarta. Imam Aziz merupakan pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) dan banyak  berinteraksi dengan para aktivis dan intelektual di Yogya pada tahun 1990an. 

"Beliau (Imam Aziz)adalah seorang pribadi yang sangat bersahaja. Seorang dengan profil kiai kampung namun dengan pemikiran universal yang sangat tajam ke depan, khususnya untuk pemikiran Islam dan keindonesian," kata Made.

Made menyebut Kiai Imam dikenal memiliki persahabatan dengan segala kalangan tanpa ada batas keyakinan, golongan sosial, maupun politik. Namun, Kiai Imam selalu berusaha berpihak pada kaum yang terpinggirkan.

"Sulit mencari tandingan figur Mas Imam pada masa kini. Saya merasa ditinggalkan oleh seorang yang amat baik, sederhana, sabar, dan yang hidupnya lebih besar dari dirinya sendiri," ujarnya.

Pada tahun 2016, Imam Aziz mendukung sikap masyarakat Kendeng yang mempertahankan tanahnya dari aktivitas besar-besaran alih fungsi lahan. Ia bahkan turut hadir mendampingi warga bersama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Tahun 2010, kiai Imam turut bersuara terkait kontroversi rencana PT. Semen Gresik untuk melakukan penambangan dan pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng, Sukolilo, Pati. 

Pada saat Gus Dur membela kasus Kedung Ombo, Imam Azis termasuk aktivis yang terjun langsung melakukan pendampingan terhadap warga yang menjadi korban proyek raksasa waduk tersebut. Kepeduliannya pada wong cilik sudah mendarah daging sejak dia masih muda.

Imam Aziz bahkan melakukan langkah berani dengan berjuang memulihkan martabat kemanusiaan para korban Gestapu (Gerakan 30 September 1965). Ketika hampir semua orang memusuhi dan manaruh perasaan benci terhadap penyintas tragedi 1965, Imam Aziz memprakarsai rekonsiliasi dan dialog kemanusiaan.

"Kita sesama anak bangsa tidak boleh berdiam diri membiarkan mereka tealineasi di negerinya sendiri," kata Imam Aziz.

Imam Aziz merupakan generasi penerus perjuangan Gus Dur. Pada 1993 dia mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). LKiS menjadi corong yang banyak mempublikasikan dan mensosialisasikan gagasan-gagasan Gus Dur.

Penulis kolom Khalik Ridwan dalam catatan yang terbit di Alif.id menuliskan Imam Aziz adalah tokoh penting gerakan kaum muda NU yang pernah melakukan Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004 untuk mengawal Khittah NU; Nahdliyin Crisis Center pada Muktamar NU di Boyolali, dan berbagai gerakan yang lain.

Mubes Warga NU, merupakan kritik keras terhadap demoralisasi Khittah NU yang dilakukan sebagian elit NU pada masa kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi; dan kritik atas perlunya struktur NU mengurus umat dan melakukan perbaikan-perbaikan secara struktural.

Kiai Imam bernama asli Muhammad Imam Aziz dilahirkan di Pati, 29 Maret 1962. Orang tuanya bernama KH. Abdul Aziz Yasin dan Hj Fathimah. Dia anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya adalah santrinya KH. Ali Maksum.  Sang ayah juga sahabat dari ayahnya Ulil Abshor Abdalla, KH. Abdullah Rifai.

Buyutnya bersambung sampai kepada Mbah Jogoyudho, di Gunungwungkal Pati. Dia salah satu laskar Diponegoro yang memilih tinggal di Gunungwungkal. Masa kecilnya dihabiskan menimba ilmu di Mathaliul Falah, yang berada di bawah naungan pesantren asuhan KH. MA. Sahal Mahfudh (Rais Am PBNU periode 1999-2024).

Ia pindah ke Yogyakarta, menempuh pendidikan Sejarah dan Kebudayaan Islam pada Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, yang sekarang menjadi UIN Sunan Kalijaga. Semasa itu, Imam banyak melakukan advokasi rakyat dan menekuni dunia jurnalistik. Selama menjadi mahasiswa Imam Aziz aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pers mahasiswa, Arena. 

Imam Aziz juga pernah mengorganisir Syarikat (Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat) yang berbicara soal rekonsiliasi nasional dari kalangan santri. Setelah Muktamar NU ke-32 di Makassar, ia menjadi salah satu ketua di PBNU. Setelah Muktamar ke-33 NU di Jombang, Imam Aziz juga menjadi salah satu ketua PBNU periode 2015-2021.

Ia mendirikan Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta bersama istri Rindang Farihah. Ia pernah menjabat sebagai staf khusus wakil presiden (Wapres) bidang penanggulangan kemiskinan dan otonomi daerah era Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin. Dia pernah dinobatkan sebagai tokoh multikultural oleh organisasi bernama Islamic Fair of Indonesia (IFI) pada 2011.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo