Jakarta, Arina.id — Direktur Perguruan Tinggi Keamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama, Ahmad Zainul Hamdi mengungkapkan, beberapa hari sebelum pertemuan antara Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas dengan Deputi Grand Syekh al-Azhar (GSA) dan Penasihat Grand Syekh, Kementerian Agama mendapatkan surat dari pihak Universitas al-Azhar dan Kedutaan Besar RI di Kairo yang isinya menjelaskan bahwa Majelis Tinggi (A'la) al-Azhar telah memutuskan bahwa Markaz Tathwir menjadi satu-satunya pintu bagi calon mahasiswa baru untuk kuliah di Universitas al-Azhar.
Pada pertemuan tersebut, kata Ahmad Zainul, Deputi GSA menegaskan ulang keputusan Majelis A'la bahwa akan segera membuka Markaz Tathwir cabang Indonesia yang bekerja secara koordinatif di bawah Kemenag
“Menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut, serta menyambut rencana kehadiran GSA di Indonesia, Kemenag mengirim task force ke Kairo,” ungkap Ahmad Zainul Hamdi di Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Delegasi berangkat pada tanggal 30 Juni 2024. Delegasi dipimpin Dirjen Pendis Prof. Abu Rokhmad, dengan anggota Direktur PTKI, Ahmad Zainul Hamdi, Direktur GTK Thobib Al-Asyhar, Habib Ali Hasan al-Bahar, Karo HKLN Ahmad Bahiej, Kasubdit Kelembagaan dan Kerja Sama Diktis, Abdul Rouf Mahfudz, dan Kasubbag TU Diktis Ajang Pradita.
Selama di Mesir, mereka didampingi Wakil Dubes RI untuk Mesir, Atdikbud Kairo, dan jajaran untuk bertemu dengan Wakil Grand Syekh al-Azhar, Syekh Muhammad Abdurrahman al-Duwaini, dan Penasehat Grand Syekh al-Azhar, sekaligus Direktur Markaz Tathwir, Dr. Nahla Sabry El Seidy.
Pada pertemuan yang berlangsung pada 2 Juli 2024 itu, tim Delegasi Kemenag mempertajam pembahasan kerja sama antara Kemenag dengan al-Azhar, termasuk rencana membuka Markaz Tathwir Ta'lim al-Thullab al-Wafidin wa al-Ajanib cabang Indonesia.
“Alhamdulillah, pertemuan berjalan baik dan sukses. Kecepatan kerja yang mengagumkan,” ungkap Ahmad Inung, sapaan Ahmad Zainul Hamdi.
Pembukaan Markaz Tathwir Al Azhar di Indonesia
Bersamaan kedatangan Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad al-Tayeb ke Indonesia, Kementerian Agama bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar meresmikan pembangunan Markaz Tathwir cabang Indonesia. Peresmian dilakukan di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Markaz Tathwir adalah Pusat Pengembangan Pelajar dan Mahasiswa Asing Al-Azhar yang didirikan pada 2018 silam. Pusat pembelajaran ini didasari karena perhatian Grand Syaikh Al-Azhar terhadap mahasiswa asing.
Sejak didirikan, banyak terobosan yang telah dilakukan Markaz Tathwīr. Di antaranya: membuat modul pembelajaran bahasa Arab bagi penutur asing: at-Tuhfah al-Azhariyyah, terdiri dari 6 level, mendirikan TK dan SD khusus bagi murid asing (untuk pertama kalinya), mendirikan Markaz Tahfiz Imam at-Tayyib, dll.
Menurut Grand Syekh, lembaga ini hadir sebagai kelanjutan dari peran Al-Azhar Al-Sharif dalam menyebarkan dan mengajarkan bahasa Arab kepada siswa asing, dan kepada semua orang yang ingin mempelajarinya dari penutur asing, sebagai bagian yang tidak terpisahkan.
Wakil Menteri Agama, Saiful Rahmat Dasuki dalam sambutan menyatakan bahwa Al-Azhar adalah kampus pencetak ulama yang memiliki pemahaman Islam moderat. Dia juga menyebut Universitas Al-Azhar sebagai benteng Islam moderat yang tertua.
“Banyak tokoh dan ulama Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di Al-Azhar. Sebut saja misalnya Presiden Indonesia ke-4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. Quraish Shihab, KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), dan lain-lain,” ujar Wamenag Saiful Rahmat Dasuki saat peresmian Markaz Tathwir di Jakarta
“Oleh karena itu kerja sama dengan Al-Azhar adalah salah satu kerja sama yang sangat penting untuk terus ditingkatkan. Dan alhamdulillah, pada hari ini Kementerian Agama bekerja sama dengan Al-Azhar khususnya dalam mewujudkan Markaz Tathwir cabang Indonesia,” lanjutnya.
Saiful berharap kerja sama ini semakin meneguhkan hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir, antara umat Islam Indonesia dengan umat Islam Mesir, dan antara Kementerian Agama RI dengan Universitas Al-Azhar.
“Semoga kerja sama ini juga menjadi titik tolak untuk kebaikan-kebaikan ke depan, utamanya bagi santri dan pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Amiin ya rabbal’alamin,” pungkasnya.
Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Abu Rokhmad menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara terbesar yang mengirimkan mahasiswanya ke Al-Azhar. Dikatakan Prof. Abu, sapaan akrabnya, jumlah mahasiswa Indonesia di Al-Azhar mencapai lebih dari 13.000 orang.
“Hal yang juga membuat kami sangat bersyukur, Grand Syekh tidak pernah mendengar keluhan dari 13.000 lebih mahasiswa Indonesia itu. Artinya pelajar Indonesia yang ada di Mesir memiliki karakter yang baik,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Dia pun berterima kasih kepada Al-Azhar dan Imam Akbar atas upaya untuk melayani putra putri Muslim Indonesia yang belajar di sana. “Universitas Al-Azhar memiliki kedudukan yang Istimewa di hati kami umat Islam Indonesia, karena dari sana lahir ulama-ulama yang mengajarkan Islam yang penuh kedamaian dan kasih sayang,” sambung Guru Besar UIN Walisongo Semarang itu.
Atas dibukanya Markaz Tathwir di Indonesia, dia merasa bahagia dan berterima kasih kepada Universitas Al-Azhar. “Kami ingin berbagi kebahagiaan kepada Bapak Ibu semua, sekaligus menyampaikan terima kasih untuk kesekian kalinya kepada Universitas Al-Azhar, karena telah berkenan membuka Pusat Pengembangan atau Markaz Tathwir cabang Indonesia. Perlu Bapak/Ibu ketahui, Markaz Tathwir ini hanya ada di beberapa negara, dan salah satunya Indonesia,” ungkapnya.
Direktur Markaz Tathwir (Pusat Pengembangan Pelajar dan Mahasiswa Asing Al-Azhar) Al-Azhar, Nahla Sabry El Seidy, dalam sambutannya menyatakan bahwa pelajar Indonesia di Mesir memiliki karakter yang baik. “Kami di Al-Azhar menyaksikan bahwa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al-Azhar punya akhlak yang baik,” tuturnya.
“Jangankan 13.000, kita bahkan ingin mahasiswa Indonesia yang kuliah di Al-Azhar mencapai 100.000,” lanjutnya disambut tepuk tangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Agama dan Universitas Al-Azhar yang telah bekerja sama untuk membangun Markaz Tathwir cabang Indonesia,” pungkasnya.
Editor:


