Jakarta, Arina.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, pada Rabu (18/12/2024). Dalam sambutannya di hadapan 2.000 mahasiswa yang hadir ia mendorong untuk meneladani nilai-nilai yang diajarkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam toleransi, inklusivitas, dan persatuan.
"Gus Dur saya kenal baik. Beliau adalah pemimpin Muslim dan Ketua Nahdlatul Ulama, yang berasal dari keluarga Tebuireng. Namun, beliau memiliki pemikiran yang sangat luas, jiwa yang baik, dan selalu merangkul semua orang. Gus Dur menjadi tokoh yang sangat dikenal sebagai simbol inklusivisme dan pelindung bagi semua minoritas," ujar Presiden Prabowo dalam tayangan kanal YouTube Sekretariat Presiden RI.
Prabowo mengenang langkah-langkah yang diambil oleh Presiden Ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk mengamankan gereja-gereja dari ancaman terorisme pada hari-hari besar keagamaan seperti Natal.
Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan pemikiran Gus Dur yang sangat luas, meskipun berasal dari Pesantren Tebuireng yang juga merupakan keluarga Hadratussyekh Hasyim Asyari.
"Saya ingat salah satu langkah Gus Dur saat ada ancaman terorisme dan gereja-gereja yang menjadi target pemboman. Beliau memerintahkan anak buahnya dari Ansor dan Banser untuk menjaga semua gereja, vihara, pura, dan kuil. Itu adalah tindakan yang sangat membesarkan hati dan membanggakan kita," jelasnya.
Prabowo memuji Gus Dur atas keberaniannya melindungi minoritas. Karena perannya yang besar itu ia dicintai dan kini, Gus Dur telah diusulkan untuk diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia.
"Mungkin jarang di dunia ada pemuda-pemudi Muslim yang pada saat hari Natal, tahun baru, atau hari-hari besar agama lain, berdiri di depan tempat ibadah agama lain. Ini adalah contoh yang sangat penting, dan inilah alasan mengapa Gus Dur sangat dihormati, meskipun beliau menjabat dalam waktu yang relatif singkat,” tutur Prabowo.
Prabowo juga mengenang langkah Gus Dur yang ia tiru ketika menjadi ketua umum partai Gerindra meskipun Gus Dur telah wafat.
"Saat saya memimpin partai, ketika kembali ada ancaman bom terhadap gereja, saya juga memerintahkan pemuda-pemuda pengikut saya di Partai Gerindra untuk menjaga semua tempat ibadah agama lain di kota masing-masing, sementara mereka beribadah dengan tenang," ungkap Prabowo.
Presiden Prabowo kemudian mendorong mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir untuk mencontoh kepemimpinan Gus Dur yang berani dan dihormati oleh bangsa-bangsa.
"Saya kira Gus Dur adalah contoh alumni Al Azhar yang sempat menjadi pemimpin tingkat nasional di Indonesia. Beliau akhirnya menjadi presiden Indonesia, memberikan
kepemimpinan yang patut dicontoh, serta dihormati oleh bangsa-bangsa lain," pungkas Prabowo.
Gelar Pahlawan untuk Gus Dur
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengusulkan pemerintah menganugerahi Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai pahlawan nasional.
Usulan berdasarkan pada Keputusan Pimpinan MPR untuk menerbitkan surat rekomendasi pencabutan TAP MPR Nomor II/MPR/2001 tentang Pertanggungjawaban Presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid.
"Mudah-mudahan saja dengan penegasan ini kita mengusulkan kembali kepada pemerintah, baik yang hari ini maupun yang datang untuk beliau dianugerahkan gelar pahlawan nasional sesuai UU serta selaras dengan martabat kemanusiaan jasa dan pengabdian," kata Bamsoet dalam acara Silaturahmi Kebangsaan Pimpinan MPR RI bersama keluarga Gus Dur di Nusantara V Gedung DPR/MPR/DPD, Jakarta, Ahad (29/9/2024).
Bamsoet mengatakan Gus Dur memiliki jasa besar dalam memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan keadilan sosial. Keberpihakannya pada pluralisme, khususnya dalam menjunjung toleransi beragama dan demokrasi berbasis kemanusiaan, menjadikan Gus Dur sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
"Nama baik Gus Dur perlu segera dipulihkan secara resmi sebagai bagian dari penghormatan atas kontribusinya yang sangat besar dalam memajukan demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia," kata Bamsoet.
Bamsoet menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki tujuh presiden dengan julukan masing-masing, mulai dari Soekarno sebagai Bapak Proklamator hingga Jokowi sebagai Bapak Infrastruktur. Gus Dur sendiri dikenal sebagai Bapak Pluralisme karena komitmennya terhadap keragaman dan kebebasan beragama di Indonesia.
“Keberanian Gus Dur dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan mengedepankan prinsip kemanusiaan merupakan salah satu warisan terbesar bagi bangsa ini," jelasnya.
"Demi mengenang dan menghormati warisannya, sudah selayaknya kita memulihkan nama baik Gus Dur dan memberikan pengakuan lebih lanjut terhadap jasa-jasanya," pungkasnya.
Editor:


