Arina.id. Oposisi mengklaim telah mengambil alih Aleppo dan wilayah-wilayah lain di Suriah. Sementara PBB berharap agar konflik segera diakhiri.
Ketua Koalisi Nasional Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi Suriah (SMDK), Hadi Al Bahra, menegaskan kelompok oposisi mengendalikan di Aleppo dan wilayah lain di Suriah utara.
Kabar ini mengutip Antaranews, Selasa, 3 Desember 2024, sebagaimana disampaikan kepada pers di Istanbul, Turki, Senin, 2 Desember 2024.
Menurut Hadi Al Bahra, serangan udara rezim terhadap warga sipil mencapai 52 kali dalam satu hari pada November.
Tak ayal, mereka mengklaim kelompoknya telah mengambil alih Aleppo dan wilayah-wilayah lain di Suriah dalam rangka menghentikan serangan rezim Bashar al-Assad terhadap warga sipil.
"Perkembangan ini memaksa rakyat Suriah menghadapi konfrontasi militer," beber Hadi Al Bahra.
"Dan satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan membebaskan wilayah yang menjadi sumber serangan tersebut," lanjutnya.
Ia mengatakan tujuan pasukan oposisi Suriah adalah membebaskan kota-kota, kota-kota kecil, serta desa-desa bagi warga sipil. Mereka dinilai kehilangan akses ke layanan penting di wilayah yang telah dibebaskan.
Sementara Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berharap konflik Suriah segera dihentikan. Hal ini disampaikan Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric .
"Rakyat Suriah telah mengalami konflik selama hampir 14 tahun. Mereka berhak mendapatkan cakrawala politik yang akan memberikan masa depan damai, bukan lebih banyak pertumpahan darah," ujar Guterres.
Sekjen PBB menilai turut meminta dilakukan penghentian konflik yang berada di bawah hukum internasional. Ia juga mendesak agar segera dilakukan tindakan yang bersifat politik dan difasilitasi PBB berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2254 Tahun 2015.
Kemudian, Guterres mendesak untuk dilakukan perlindungan terhadap warga sipil ditambah objek-objek sipil. Hingga jalur yang aman bagi warga sipil untuk melangsungkan pengungsian.
Editor:


