Seruan Aliansi Pasukan Militer Negara Islam Hadapi Ancaman Malapetaka Israel

Seruan Aliansi Pasukan Militer Negara Islam Hadapi Ancaman Malapetaka Israel

Arina.id - Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani mendesak negara-negara Arab dan Muslim untuk membentuk pasukan keamanan gabungan sebagai tanggapan atas serangan Israel baru-baru ini di Gaza dan Qatar.

Ia mengatakan serangan Israel hari Selasa, 09 September 2025 di Doha, yang menewaskan anggota Hamas dan seorang perwira Qatar, merupakan "pelanggaran hukum internasional yang mengejutkan" dan ancaman malapetaka bagi keamanan Kawasan.

Sudani menekankan bahwa dunia Islam memiliki banyak cara untuk menghalangi Israel, dan memperingatkan bahwa agresi lebih lanjut oleh Israel "tidak akan berhenti di Qatar."

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertemuan puncak darurat Arab-Islam di Doha pada 15-16 September 2025, di tengah serangan Israel terhadap Qatar. Para pemimpin negara Arab-Islam akan membahas pengaktifan kekuatan militer gabungan Arab yang telah lama diusulkan.

Dilaporkan Sputnik, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, juga menyerukan negara-negara Islam untuk membentuk "ruang operasi Bersama" melawan Israel.

Sementara itu, Mesir tengah mendorong pembentukan kekuatan militer Arab bergaya NATO untuk pertahanan cepat jika terjadi serangan, sementara Kairo mencari dukungan regional untuk rencana tersebut menjelang pertemuan puncak.

Serangan Israel di Doha menghantam kompleks perumahan tempat anggota politbiro Hamas bertemu. Mereka akan membahas usulan AS untuk mengakhiri perang Gaza, yang telah merenggut lebih dari 64.800 nyawa warga Palestina sejak 07 Oktober 2023.

Iran desak negara Islam minta pertanggungjawaban Israel

Adapun Presiden Iran Masoud Pezeshkia dalam pertemuan itu mendesak negara-negara Islam harus meminta pertanggungjawaban Israel atas agresinya ke Doha. "Pembalasan terhadap para agresor harus dimulai. Mereka harus dimintai pertanggungjawaban," ujar Pezeshkian.

Menurut dia, Israel sedang berperang dengan masa depan negara-negara Islam, dan mereka tidak dapat yakin Israel tidak akan menyerang mereka selanjutnya. Hal itu menjadi landasan seruan agar para pemimpin negara Islam bersatu guna melawan ancaman Israel.

"Israel telah menyatakan perang terhadap kedaulatan, martabat, dan masa depan kami. Kami katakan sebagai tanggapan: kami tidak akan terintimidasi, kami tidak akan acuh tak acuh, kami tidak akan diam." 

"Keadilan akan bangkit dari tanah Gaza. Dari reruntuhan rumah-rumah di Doha, Beirut, Teheran, Damaskus, dan Sanaa, sebuah tatanan baru akan muncul. Sebuah tatanan yang tidak didasarkan pada kemunafikan, melainkan pada persatuan, pada persatuan Islam. Bukan pada superioritas Israel, melainkan pada persaudaraan dan kesetaraan manusia," kata Pezeshkian menambahkan.

Pada 9 September, Israel melancarkan serangan terhadap negosiator senior Hamas di Doha. Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu otoritas AS dan Qatar sebelum menyerang kantor Hamas di Doha, tetapi Qatar membantah mengetahui sebelumnya tentang serangan Israel tersebut. 

Presiden AS Donald Trump berusaha menjauhkan diri dari serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa keputusan tersebut dibuat secara independen oleh Netanyahu. Ia meyakinkan Qatar bahwa serangan semacam itu tidak akan terjadi lagi. 

Sedangkan Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa Rusia memandang serangan Israel di Doha sebagai pelanggaran hukum internasional dan meminta para pihak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo