Jakarta, Arina.id - Dua hari berturut-turut (Sabtu-Minggu) 17-18 Mei 2025, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif dengan angka partikel halus Particulate Matter (PM) 2.5 selama dua hari ini. Hal itu terpantau dalam indeks kualitas udara (AQI) di mana pada Sabtu di angka 114 dan Minggu hari ini di level 113.
Kondisi itu menjadi kualitas udara Jakarta berada di posisi ke-14 dalam peringkat kota dengan kualitas udara dan polusi kota terburuk di dunia. Pada Sabtu kemarin, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara di angka 171. Kemudian di urutan kedua diikuti Kota Kuwait, Kuwait di angka 160.
Selanjutnya di urutan ketiga diikuti Chengdu, China di angka 158, lalu di urutan keempat ada Dubai, Uni Emirat Arab di angka 153. Angka-angka kualitas udara tersebut memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif yakni dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
Masyarakat juga diimbau tetap menjaga kesehatan dan memakai masker jika harus beraktivitas di luar rumah. Sedangkan kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.
Kemudian, kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.
Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.
Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Kota Kuwait, Kuwait di angka 222, urutan kedua Al-Manamah, Bahrain di angka 177, urutan ketiga Chengdu, China, di angka 172, urutan keempat Lahore, Pakistan di angka 170, urutan kelima Kinshasa Kongo-Kinshasa di angka 166.
Adapun Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta meluncurkan platform perantau kualitas udara terintegrasi yang didukung 31 titik stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) tersebar di wilayah kota metropolitan tersebut.
Dari SPKU tersebut, kemudian data yang diperoleh ditampilkan melalui platform pemantau kualitas udara. Hal ini dibuat sebagai penyempurnaan dari yang sudah ada sebelumnya dan sesuai dengan standar yang berlaku secara nasional.
Laman ini juga menampilkan data dari 31 SPKU di Jakarta yang mengintegrasikan data dari SPKU milik DLH Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Vital Strategies.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta akan meniru kota-kota besar dunia seperti Paris dan Bangkok dalam menangani polusi udara. Seperti disampaikan Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto ke depan pemprov DKI bakal menambah Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU).
"Belajar dari kota lain, Bangkok memiliki 1.000 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU), Paris memiliki 400 SPKU. Jakarta saat ini memiliki 111 SPKU dari sebelumnya hanya 5 unit. Ke depan kita akan menambah jumlahnya agar bisa melakukan intervensi yang lebih cepat dan akurat," katanya, Selasa (18/3).
Ia menambahkan keterbukaan data menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas udara secara sistematis. Asep mengatakan penyampaian data polusi udara harus lebih terbuka agar intervensi bisa lebih efektif.
Dia menilai yang dibutuhkan bukan hanya intervensi sesaat, tetapi langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara. DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sensors) agar pemantauan lebih luas dan akurat.
Editor:


