Arina.id - Saat para ulama Syiah (Majelis Pakar) memilih pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, kabut gelap menyelimuti Teheran setelah Israel menyerang lima fasilitas minyak di dekat ibu kota semalam. Asap hitam pekat membumbung ke langit dengan bau menyengat.
Sampai hari kesembilan perang itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan masih memiliki cukup persediaan amunisi untuk melanjutkan serangan pesawat tak berawak dan rudal mereka ke seluruh Timur Tengah hingga enam bulan ke depan.
Seperti disampaikan Juru bicara IRGC Ali Mohammad Naini, dikutip dari Aljazeera, Iran sejauh ini hanya menggunakan rudal generasi pertama dan kedua, tetapi akan menggunakan "rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan" dalam beberapa hari mendatang.
Di sisi lain, perang ini justru membuat konsolidasi di internal Iran kian solid. Bukan hanya IRGC, terbaru angkatan bersenjata Iran juga mengumumkan dukungan untuk Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang syahid dibunuh AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Dalam pernyataan yang diterbitkan di media pemerintah, militer Iran menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai "sosok yang adil, berpengetahuan luas... saleh dan cakap, dan mengatakan Majelis Pakar telah "membuktikan kecerdasan mereka" dengan memilihnya.
Target serangan balasan Iran diperluas
IRGC juga mengucapkan selamat kepada Mojtaba Khamenei dan menyatakan "kesetiaan yang tulus dan seumur hidup". Media Iran juga melaporkan, angkatan bersenjata mereka telah memperluas daftar target potensialnya hingga mencakup aset ekonomi Amerika.
Kantor Berita Fars, mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Teheran telah merevisi strategi penargetannya sehingga tidak lagi hanya berfokus pada situs militer AS dan Israel.
Menurut pejabat tersebut, Iran telah memperluas “daftar targetnya” untuk memasukkan “modal dan kepentingan Amerika.” Pejabat itu menambahkan, keputusan tersebut diambil setelah apa yang ia sebut sebagai perubahan pernyataan oleh pejabat AS dan Israel "yang sekarang mencakup ancaman langsung terhadap rakyat Iran."
Pada Minggu malam, AS dan Israel melakukan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di dalam dan sekitar Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada beberapa fasilitas penyimpanan, termasuk Depot Minyak Shahran.
Ini menyebabkan ketegangan di kawasan kian meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dan melukai lebih dari 10.000 lainnya, menurut otoritas Iran.
Teheran membalas dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang menargetkan Israel, Irak, Yordania, dan negara-negara Teluk yang menjadi tempat aset militer AS berada.
Korban pihak AS bertambah
Balasan Iran menyebabkan korban meninggal di pihak AS juga bertambah. Terbaru, seorang anggota militer AS mati akibat luka-luka yang diderita akibat balasan ke Arab Saudi pada 1 Maret, sehingga jumlah korban tewas dari anggota militer AS menjadi tujuh orang.
"Anggota militer tersebut terluka parah di lokasi serangan terhadap pasukan AS di Kerajaan Arab Saudi," kata CENTCOM di perusahaan media sosial AS X, menambahkan bahwa orang tersebut meninggal tadi malam.
Identitas anggota yang mati akan dirahasiakan hingga keluarga terdekat diberitahu, demikian pernyataan tersebut. Semua kematian yang dilaporkan sebelumnya berasal dari serangan di Kuwait; ini adalah kematian pertama yang dilaporkan di luar negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali memperingatkan bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak korban jiwa seiring berlanjutnya kampanye. "Sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak korban sebelum berakhir," katanya awal bulan ini, seraya menambahkan "kami akan melakukan segala yang mungkin agar hal itu tidak terjadi."
Di sisi lain, Trump sekali lagi menolak mengirim pasukan darat Amerika ke Iran. Ia terus bersikeras bahwa perang hampir dimenangkan, meskipun serangan rudal dan pesawat tak berawak Iran masih berlanjut.
Para analis memperingatkan bahwa tidak ada jalan yang jelas untuk mengakhiri konflik tersebut, yang menurut pejabat AS dan Israel dapat berlangsung selama sebulan atau lebih.
Editor:


