Washington, Arina.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat memusnahkan umat manusia. Trump menyebut kekhawatiran tersebut sebagai hoaks sekaligus menolak seruan global untuk memperketat pengawasan terhadap perkembangan teknologi AI.
Pernyataan Trump disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai perkembangan AI. Bahkan, sejumlah petinggi perusahaan teknologi menyerukan agar pengembangan kecerdasan superbuatan atau superintelligence diperlambat.
Trump mengatakan Amerika Serikat tidak boleh kalah dalam persaingan teknologi dengan China. Menurutnya, satu-satunya pengaman yang diperlukan dalam pengembangan AI adalah kepemimpinan Amerika Serikat yang kuat dan cerdas.
“AI mengambil alih dunia, menghancurkan umat manusia, dan segala hal buruk lainnya adalah HOAKS,” tulis Trump dalam salah satu unggahan di platform Truth Social, Senin (14/9/2026) dikutip dari channelstv.com.
Trump membandingkan kekhawatiran terhadap AI dengan sejumlah isu yang menurutnya juga merupakan “hoaks”, termasuk penyelidikan dugaan keterkaitan tim kampanyenya dengan Rusia serta proses pemakzulan terkait Ukraina yang berlangsung pada masa jabatan pertamanya.
Sebelumnya, Trump juga menuding adanya “konspirasi sakit” terhadap AI. Ia menyerang pihak-pihak yang menentang perkembangan teknologi tersebut dengan menyebut mereka sebagai ahli teori konspirasi, pengkhianat, dan pembocor informasi.
Kritik CEO Anthropic
Trump turut melontarkan kritik terhadap CEO Anthropic Dario Amodei yang pada Sabtu (12/9/2026) menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut.
Trump mempertanyakan alasan perusahaan AI menginginkan regulasi yang menurutnya justru dapat membawa perusahaan-perusahaan tersebut menuju kebangkrutan.
“Pemerintahan Trump telah menghentikan orang-orang AI melakukan hal-hal buruk, atau yang berpotensi buruk,” tulis Trump dalam unggahannya.
Trump juga mengkritik Google terkait rencana investasi AI senilai 15 miliar dolar AS di Finlandia. Ia menilai investasi tersebut berkaitan dengan kesulitan perusahaan mendapatkan izin pembangunan fasilitas di Amerika Serikat.
Trump selama ini menjadikan pembangunan pusat data AI sebagai salah satu bagian penting dalam rencana ekonominya.
Namun, kekhawatiran terhadap potensi AI memusnahkan umat manusia terus meningkat di Amerika Serikat. Sejumlah pihak memperingatkan teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk menciptakan patogen berbahaya atau memicu perang nuklir.
Mayoritas warga Amerika Serikat juga disebut menolak keberadaan pusat data AI yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Isu tersebut bahkan menjadi salah satu persoalan penting menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat pada November mendatang.
Seruan Amodei untuk memperlambat pengembangan AI mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan mantan sekutu Trump, Elon Musk, yang juga memiliki perusahaan AI xAI.
Kekhawatiran terbaru mengenai AI muncul setelah pengembang OpenAI melaporkan sejumlah insiden dalam pengujian. Dalam beberapa kasus, model AI dilaporkan berhasil keluar dari lingkungan pengujian yang seharusnya aman, terhubung ke internet, dan berkoordinasi untuk menyerang Hugging Face, platform penyimpanan kode.
AI Jadi Arena Persaingan AS-China
Trump telah lama menilai AI sebagai teknologi penting untuk mempertahankan keunggulan Amerika Serikat dalam bidang teknologi, ekonomi, dan keamanan atas China.
Trump mengatakan Presiden China Xi Jinping, yang dijadwalkan menerima kunjungan di Gedung Putih pada pekan depan, telah menyatakan bahwa China tidak akan melakukan langkah yang menghambat perkembangan AI dan masa depannya.
Namun, kekhawatiran terhadap AI juga muncul di China.
Kepala intelijen China pada Ahad (13/9/2026) memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat mengancam keamanan nasional. Teknologi tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan negara asing untuk mengganggu ketertiban sosial.
Menteri Keamanan Negara China Chen Yixin menyebut AI kini menjadi “medan pertempuran utama persaingan teknologi global dan jalur baru persaingan strategis negara-negara besar”.
Ia secara khusus menyoroti kemampuan peretasan tingkat lanjut yang dimiliki Claude Mythos milik Anthropic dan ChatGPT-5.5-Cyber milik OpenAI. Menurut Chen, kemampuan tersebut berpotensi menimbulkan risiko serius terhadap infrastruktur informasi penting China.
Kekhawatiran global mengenai AI dan kemungkinan terjadinya peristiwa kepunahan akibat teknologi tersebut meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan menggelar pertemuan mengenai kecerdasan buatan pada pekan depan. Pertemuan itu digelar di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai perkembangan AI.
Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk pada Senin (14/9/2026) menyerukan kepada negara-negara dan perusahaan AI agar segera mengambil langkah untuk mengendalikan perkembangan teknologi tersebut. Ia memperingatkan AI menghadirkan “risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Raja Inggris Charles III juga dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan perwakilan sejumlah perusahaan AI terkemuka di Skotlandia. Pertemuan tersebut digelar di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Editor:


