Jangan Abaikan Ribuan Kematian Akibat Perang Saudara di Sudan

Jangan Abaikan Ribuan Kematian Akibat Perang Saudara di Sudan

Arina.id - Sabtu, 15 April 2023, baku tembak pecah di wilayah Darfur wilayah Sudan Barat. Dua kelompok bersenjata yang dipimpin dua jenderal terkemuka terlibat baku tembak: Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burha vs Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang dikomandoi Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo.

Pemicu konflik awal ini, kedua belah pihak saling tuduh sebagai dalang utama ledakan dan serangan pertama. Tak lama dari itu, baku tembak pun terjadi dan disebut-sebut sebagai cikal bakal perang saudara di Sudan sampai sekarang ini.

Sejak perang meletus kurang lebih tiga tahun lalu, sampai sekarang ribuan nyawa telah melayang akibat krisis kemanusian parah yang melanda negara di wilayah Afrika Selatan tersebut. 

Rabu kemarin, 29 Oktober 2025, terungkap data kematian ribuan orang akibat serangan RSF--kelompok yang dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Sudan--selama perebutan Kota el-Fasher di wilayah Darfur. Data ini diungkap oleh kelompok medis dan peneliti yang berada di sana.

Dikutip dari Aljazeera, RSF yang telah memerangi militer Sudan untuk merebut kendali negara tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.500 orang selama tiga hari terakhir. Pembunuhan ini terjadi ketika warga sipil mencoba melarikan diri dari kota yang terkepung. 

Kelompok-kelompok medis dan organisasi sipil yang menaruh perhatian pada perang saudara di negara itu, menggambarkan situasi tersebut sebagai "genosida sejati".

"Pembantaian yang disaksikan dunia saat ini merupakan kelanjutan dari apa yang terjadi di el-Fasher lebih dari satu setengah tahun yang lalu, ketika lebih dari 14.000 warga sipil terbunuh akibat pemboman, kelaparan, dan eksekusi di luar hukum," kata kelompok tersebut.

Menurut mereka, serangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kampanye pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja dan sistematis.

Pernyataan tersebut muncul saat bukti baru pembunuhan massal terungkap dari Laboratorium Penelitian Kemanusiaan (HRL) Yale, yang melaporkan bahwa citra satelit el-Fasher, yang diambil setelah RSF bergerak masuk, menunjukkan gugusan objek yang ukurannya sesuai dengan tubuh manusia, serta area luas berwarna merah di tanah.

Sebelumnya, RSF telah terjebak dalam perang saudara berdarah dengan tentara Sudan sejak 2023, dalam konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan 12 juta orang mengungsi. Pasukan paramiliter RSF menyerbu el-Fasher, kota yang menjadi benteng terakhir tentara pro-pemerintah di Darfur setelah 17 bulan pengepungan.

Pemerintah Sudan mengatakan, sedikitnya 2.000 orang telah tewas di kota itu, sementara lembaga-lembaga bantuan mengatakan mereka telah menerima laporan yang dapat dipercaya tentang kekejaman, termasuk eksekusi singkat, serangan terhadap warga sipil di sepanjang rute pelarian, dan penggerebekan dari rumah ke rumah.

Kekerasan seksual khususnya terhadap wanita dan anak perempuan, juga dilaporkan terjadi di kota itu. Jatuhnya El-Fasher membuat RSF memegang kendali penuh atas wilayah Darfur yang luas dan telah memunculkan kekhawatiran akan perpecahan Sudan lagi, lebih dari satu dekade setelah pembentukan Sudan Selatan.

Pemerintah Sudan yang bersekutu dengan tentara juga menuduh RSF menyerang warga sipil di masjid selama pengambilalihan kota tersebut baru-baru ini.

"Lebih dari 2.000 warga sipil tewas selama invasi milisi ke el-Fasher, yang menargetkan relawan di masjid dan Bulan Sabit Merah," ujar Mona Nour Al-Daem, seorang petugas bantuan kemanusiaan untuk pemerintah Sudan.

Hiba Morgan dari Aljaazeera, melaporkan dari Khartoum, video di media sosial yang diambil oleh RSF menunjukkan para pejuang menembak warga sipil yang mencoba melarikan diri.

"Video terbaru dan paling meresahkan yang muncul adalah video para pejuang ketika berkeliaran di tempat yang diidentifikasi sebagai Rumah Sakit Saudi di kota el-Fasher, mengeksekusi pasien," kata Morgan.

Para penyintas yang melarikan diri dari kota mengatakan sedikitnya 500 orang telah mencari perlindungan di rumah sakit. Di antara mereka yang tewas adalah petugas Kesehatan.

Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan lebih dari 460 orang meninggal di Rumah Sakit Bersalin Saudi. WHO sangat terkejut Ketika mendapatkan laporan tersebut.

Jaringan Dokter Sudan mengatakan para pejuang RSF pada hari Selasa "dengan kejam membunuh semua orang yang mereka temukan di dalam Rumah Sakit Saudi, termasuk pasien, pendamping mereka, dan siapa pun yang ada di bangsal".

Sinyal bahaya tragedi kemanusiaan bagi dunia 

Arab Saudi, Mesir, Qatar, Turki dan Yordania mengutuk pelanggaran yang dilakukan oleh RSF di Sudan.  Arab Saudi menyatakan "keprihatinan mendalam" atas pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan mendesak RSF untuk melindungi warga sipil. 

Mesir menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera dan menjanjikan dukungan berkelanjutan untuk membantu Sudan mengatasi krisis.

Turki menuntut diakhirinya permusuhan di el-Fasher dan jalur aman bagi bantuan kemanusiaan, sembari mengutuk "kekejaman terhadap warga sipil" dan mendesak dialog untuk solusi damai. Qatar juga mengecam "pelanggaran mengerikan" tersebut dan menyerukan negosiasi untuk mengakhiri konflik.

Mesir, Turki, dan Qatar menegaskan kembali dukungan mereka terhadap persatuan dan kedaulatan Sudan. Yordania juga mengutuk kekerasan tersebut dan menyerukan pengekangan dan gencatan senjata segera untuk melindungi warga sipil.

Pasukan paramiliter ini tumbuh dari milisi Janjaweed yang terkenal kejam dan terkait dengan pemerintah, yang melakukan genosida selama konflik Darfur pada tahun 2000-an. Amerika Serikat juga telah menyatakan bahwa RSF dan sekutunya telah melakukan genosida dalam perang yang sedang berlangsung.

Secara terpisah pada hari Selasa, HRL Yale menerbitkan sebuah laporan yang mengandalkan citra satelit dengan menyatakan bahwa pasukan RSF melakukan dugaan pembunuhan massal setelah merebut el-Fasher.

Nathaniel Raymond, direktur eksekutif HRL, menggambarkan kekerasan di el-Fasher sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Keterlibatan negara lain

Seiring berjalannya waktu, muncul dugaan keterlibatan negara lain yang memperparah situasi di sudan saat ini. Uni Emirat Arab (UEA) dituding memasok senjata kepada RSF, meskipun telah dibantah sbelumnya.

Namun, laporan Dewan Keamanan PBB menemukan adanya peralatan militer buatan Inggris yang disuplai melalui jalur UEA. Selain itu, juga adanya dukungan finansial hingga pasukan bayaran kepada RSF dari UEA.

Di sisi lain, Iran dan Turki diduga mendukung SAF dengan mengirim senjata dan drone tempur melalui penerbangan kargo militer, termasuk Mohajer-6, sejak akhir 2023.

Konflik ini berakar dari sejarah panjang ketidakstabilan politik Sudan. Sejak merdeka pada 1956, Sudan diwarnai ketegangan antara wilayah utara yang lebih makmur dan selatan yang terpinggirkan.

Perang saudara yang berlangsung sejak 1983 berakhir dengan pemisahan Sudan Selatan pada 2011. Namun, kekacauan politik tetap berlanjut di Sudan utara di bawah rezim Omar al-Bashir, yang berkuasa lewat kudeta pada 1989 dan membentuk RSF dari milisi Janjaweed untuk menumpas pemberontakan di Darfur pada 2003.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo