Saat Robot Mengekstrak Jimat Kalimasada dalam Diri Semar

Saat Robot Mengekstrak Jimat Kalimasada dalam Diri Semar

Arina.id - Buat para penggemar teater, pekan ini ada suguhan menarik dari Teater Koma. Judul pementasannya "Mencari Semar". Cerita akan mengangkat kritik terhadap artificial Inteligent (AI), ketika dunia para robot menghadapi kekacauan sistem akibat etika luhur yang ditanam sebagai prompt atau kode perintah pada kecerdasan mereka mengalami kerusakan.

Pementasan bakal digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 13 sampai 17 Agustus 2025. Dalam sinopsisnya, seperti dikutip dari laman website teaterkoma.org, cerita bakal menyentil isu AI atau kecerdasan buatan yang semakin canggih dan berpotensi menggantikan peran-peran penting dalam kehidupan manusia.

Lantas Semar--sang panakawan bijak--pensiun membawa serta Jimat Kalimasada bersama dirinya. Tugasnya kini mencari pewaris Jimat tersebut. Tapi Semar sangat menikmati masa pensiunnya, sehingga Jimat Kalimasada mengurungnya dalam dimensi putaran waktu. Semar terus menjalani masa pensiunnya berulang-ulang.

Zaman bergulir, manusia menciptakan robot. Sayangnya, prompt atau perintah utama dalam inti kecerdasan robot, yakni kode-kode tentang etika luhur dirusak para oknum yang haus kekuasaan. Para robot bisa menyakiti bahkan membunuh manusia serta menghancurkan robot lain. Sampai akhirnya manusia punah.

Sekilas alur ini mirip kisah dalam fiksi film holywood: "The Terminator", yang mengangkat cerita tentang pertarungan antara robot dan manusia. Bedanya, dalam judul "Mencari Semar" ini ceritanya lebih Indonesia sebab melibatkan simbol-simbol budaya Nusantara.

Kemudian cerita berlanjut ketika robot-robot lantas mendirikan Kekaisaran Nimacha. Tapi karena perintah utamanya rusak, kekacauan dan perang tetap ada. Tanpa adanya manusia untuk memperbaiki perintah utama itu, para robot sadar, mereka terancam punah. Mereka lalu mencari solusi, dan menemukan catatan sejarah tentang Jimat Kalimasada.

Sampai akhirnya para robot berhasil melacak posisi Jimat Kalimasada, dan juga keberadaan Semar. Mereka pun menangkap Semar. Tujuan mereka, menarik keluar Jimat Kalimasada dari dalam Semar, mengekstraknya agar kekuatan jimat itu bisa dipakai untuk memulihkan perintah utama.

Sutiragen, istri Semar, kemudian mengumpulkan panakawan lain: Petruk, Gareng dan Bagong, untuk menyelamatkan Semar. Apakah mereka mampu menghadapi kekuatan para robot dari Kekaisaran Nimacha? Tonton saja langsung di Ciputra Artpreneur. Untuk tiketnya bisa dipesan melalui laman website mereka.

Sementara itu, seperti dikutip dari Antara, Sutradara Rangga Riantiarno dalam pra-pementasan langsung mempertanyakan, "Apakah AI akan menggantikan Semar?" Dalam konteks cerita, kata dia, Semar adalah simbol kebijaksanaan, pembimbing moral, dan penasihat yang melindungi manusia dari jalan yang salah.

Jika manusia kehilangan sosok pembimbing seperti Semar dan hanya mengikuti perintah dari AI yang memiliki tujuan tidak jelas, peradaban bisa terancam punah secara moral. Pementasan itu menghadirkan refleksi kemerdekaan sejati di mana manusia diajak untuk tetap menghormati nilai-nilai luhur dan tidak mudah terombang-ambing oleh kemajuan zaman.

Meski demikian Rangga mengatakan Semar tidak memandang AI sebagai musuh dalam pementasan ini. "Saya melihatnya Semar menghargai semua bentuk kehidupan dan itu disebutkan dalam dialog saat pra-pementasan tadi," kata Rangga.

Pementasan "Mencari Semar" melibatkan sejumlah aktor Teater Koma antara lain Budi Ros (Semar), Rita Matu Mona (Dewi Sutiragen), Emmanuel Handoyo (Gareng), Dana Hasan (Petruk), dan Nino Bukir (Bagong). Jadwal pementasan dimulai Rabu (19.30 WIB), Kamis (19.30 WIB), Jumat (19.30 WIB), Sabtu (13.30 dan 19.30 WIB), serta ditutup pada Minggu (13.30 WIB).


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo