Bogor, Arina.id—Ada pemandangan menarik dalam panggung pentas kompetisi Robotik Madrasah di Living World, Kota Wisata Cibubur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/11/2025) siang. Empat robot kecil berwarna putih turut menari bersama band madrasah.
Di seberang panggung, sejumlah siswa juga tengah memamerkan karyanya di hadapan juri. Dua siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Jakarta, Razka dan Amira, menceritakan keberhasilannya melaju ke babak final.
Mereka mengikuti kompetisi mobile robot labirin dengan menciptakan robot transporter yang mampu memindahkan empat kubus dari kotak hitam ke kotak putih, lalu dilanjutkan oleh robot kedua menuju save arena. Robot ini dilengkapi lima sensor ultrasonik untuk navigasi, sensor RGB untuk mendeteksi warna objek, dan sensor inframerah untuk mengenali lingkungan sekitar.
"Senang bisa ikut kompetisi sampai 10 besar. Semoga dapat yang terbaik," ujar Amira.
Ada pula Tim Paradox dari MAN Insan Cendekia Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang membuat inovasi robot Z-Rone untuk memudahkan para petani jagung di daerahnya.
"Waktu kami lagi fase design thinking, pas tahapan emphasize, kami lihat petani jagung menyiram tanaman masih satu-satu. Para petani lokal bilang ini lumayan memakan waktu yang lama,” ujar Fatah Hanafi.
Menariknya, robot Z-Rone yang sedang dikembangkan berupa drone heksacopter cerdas yang berfungsi sebagai pengendali hama dan penyiraman presisi pada lahan pertanian jagung (Zea mays). Drone ini dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI).
"Saya bikin drone untuk menyiram otomatis pakai AI. Jadi, robot ini terbangnya sudah tidak perlu pakai remot lagi,” tambah Malik.
Kompetisi MRC 2025 yang diikuti 616 tim dari berbagai jenjang madrasah di seluruh Indonesia ini bukan kali pertama digelar. Lomba yang pertama kali diadakan pada 2015 itu sempat redup dua tahun akibat pandemi.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, mengatakan penyelenggaraan MRC tahun ini menjadi momentum kebangkitan inovasi madrasah setelah dua tahun vakum akibat pandemi.
"Tahun ini kami hadir dengan semangat baru. Tema Robotic Technology for a Green Future kami pilih untuk menegaskan bahwa teknologi juga harus berpihak pada keberlanjutan lingkungan," ujarnya.
Suyitno menegaskan, lomba robotik ini bukan sekadar ajang adu kecanggihan, melainkan ruang untuk menunjukkan kreativitas dan kepedulian terhadap isu lingkungan.
"Sekaligus untuk menunjukkan bahwa madrasah bukan hanya mencetak ulama, tapi juga calon ilmuwan dan insinyur yang berakhlak mulia," tambahnya.
Senada dengan itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar berharap siswa madrasah tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga dalam teknologi.
"Anak-anak madrasah jangan hanya bisa mengaji dan berdoa, tapi juga harus mampu menciptakan robot, meneliti, dan berinovasi. Itu baru madrasah masa depan,” ujar Nasaruddin.
Ia berharap akan lahir generasi madrasah yang ahli dalam bidang robotika dan mampu mengharumkan nama bangsa.
"Buktinya, kalau saya memperhatikan tadi satu per satu, itu benar-benar luar biasa. Tidak masuk akal anak sekecil itu mampu menciptakan sebuah robot yang sudah sangat produktif," jelasnya.
Wacana Masuk Kurikulum Madrasah
Nasaruddin menjelaskan, robot merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam setiap mata pelajaran.
"Robot itu kan sama dengan komputer, jadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap mata pelajaran. Jadi nanti tidak perlu ada mata pelajaran khusus karena setiap mata pelajaran bisa menggunakan teknologi," katanya.
Menurutnya, robot bukan sekadar alat bantu fisik, tetapi juga dapat mendukung aktivitas kecerdasan dan spiritual manusia.
"Robot itu alat bantu untuk memudahkan aktivitas manusia, baik aktivitas fisik, intelligence, bahkan mungkin juga aktivitas spiritual. Robot bisa berkontribusi pada kehidupan manusia," pungkasnya.
Editor:


