Muktamar Pemikiran NU: dari Fenomena Jebakan Formalitas Akademik hingga Tekanan Masa Depan

Muktamar Pemikiran NU: dari Fenomena Jebakan Formalitas Akademik hingga Tekanan Masa Depan

Arina.id ~ Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kemenag, Prof Ahmad Zainul Hamdi menginginkan agar insan-insan akademis tidak terjebak pada formalitas akademik, seperti urusan angka kredit dosen atau Kum. 

“Sekarang di perguruan tinggi itu, orang diwajibkan untuk mempublikasikan karya tulis ilmiah berdasarkan regulasi. Kalau tidak, tidak bisa menjadi profesor,” ungkapnya pada Muktamar Pemikiran NU 2023 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (1/12/2023). 

“Di perguruan tinggi diwajibkan untuk presentasi di international conference. Akhirnya kita banjir international conference, yang kita semuanya banyak tahu, banyak sekali international conference yang diselenggarakan itu hanya agar para dosennya memiliki pengalaman sebagai presenter di international conference. Ada hal yang buruk dengan regulasi itu,” kata Prof Inung sapaan akrabnya.

Oleh karena itu, ia berinisiatif untuk mengatasi hal tersebut melalui sebuah upaya terobosan dengan sinergi bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU agar aktivitas akademik tidak terkungkung oleh regulasi yang menjadikan pelaksanaannya hanya bersifat formalitas.

“Saya membayangkan apa yang bisa kita lakukan kembali untuk breakthrough situasi seperti ini, di mana ketika mahasiswa dengan dosen datang tidak untuk demonstrasi, tapi kita bisa berbicara apa adanya. Para aktivis tidak terjebak aktivisme dan para akademisi tidak terjebak pada formalitas akademik tapi kita bisa duduk tanpa harus memikirkan tentang kum,” harapnya.

Mengingat pentingnya forum pemikiran seperti ini, Prof Inung menginginkan program ini dijadikan sebagai agenda tahunan dengan tema-tema strategis yang akan disiapkan.

Ketum PBNU Buka Acara

Muktamar Pemikiran NU 2023 dibuka langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf. Dalam sambutannya, ia berharap tujuan dari forum tersebut bisa tercapai mengingat upaya mewujudkan masyarakat yang ideal yang saat ini tengah dihadapkan dengan tekanan yang cukup berat berkenaan dengan masa depan. 

"Kita ini sedang menghadapi tekanan yang cukup berat dari apa yang kita bayangkan sebagai kemungkinan-kemungkinan masa depan. The future is present and becoming even more present. Sederhana saja, karena masa depan itu tiba-tiba lebih cepat datangnya. Dulu itu masa depan datangnya agak lambat sehingga kita masih bisa enak mikirnya," ucapnya.

Dalam kurun waktu beberapa bulan, masyarakat harus diterpa oleh beragam teknologi baru. Tidak hanya itu, perubahan yang berlalu begitu cepat juga menyebabkan masyarakat semakin tertekan oleh masa depan. Dalam kaitannya dengan hal itu, Gus Yahya menilai Muktamar Pemikiran NU bermanfaat untuk mendiskusikan perihal tersebut.

"Sehingga mungkin ada gunanya kita perbincangkan masa depan ini. Ya yang penting diobrolkanlah, soal hasilnya bagaimana, itu nanti. Saya selalu bilang sejak awal, tidak perlu takut kepada ketidaksempurnaan, yang penting jadi dulu," ujar dia.

Menurutnya, jika Muktamar Pemikiran NU berisi diskusi terkait kekhawatiran (concern) yang nyata dari kalangan yang umum, maka perhelatan itu memiliki manfaat. Namun jika sebaliknya, Gus Yahya justru berpikir bahwa ada yang salah dengan acara tersebut. Kendati demikian, ia menyampaikan kesediaannya untuk menanti hasil dari Muktamar Pemikiran NU ini.

Muktamar Pemikiran NU 2023 mengusung tema Imagining the Future Society. Forum ini akan berlangsung selama tiga hari di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta dimulai sejak 1-3 Desember 2023.

Forum ini diikuti oleh para cendikiawan, pemikir, aktivis sosial, santri dan kiai, juga masyarakat umum.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo