Martha Tilaar dan Warisan Industri Kecantikan Indonesia

Martha Tilaar dan Warisan Industri Kecantikan Indonesia

Jakarta, Arina.id—Kepergian Martha Tilaar pada usia 89 tahun menutup perjalanan seorang perintis yang membangun bisnis kecantikan dari salon kecil di garasi rumah. Lebih dari sekadar produk kosmetik, ia meninggalkan gagasan tentang pentingnya mengangkat pengetahuan tradisional dan kekayaan alam Indonesia ke dalam industri modern.

Martha Tilaar memulai perjalanan bisnisnya dari sebuah garasi berukuran 4 x 6 meter di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Pada 1970, ia membuka salon kecantikan di kediaman orang tuanya. Dari ruang sederhana itu, ia merintis usaha yang kemudian berkembang menjadi Martha Tilaar Group, dengan bisnis yang mencakup kosmetik, jamu, pendidikan kecantikan, hingga layanan spa dan salon.

Martha Tilaar meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) dalam usia 89 tahun. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan industri kecantikan Indonesia, terutama melalui upayanya mengembangkan produk lokal dengan mengangkat kekayaan alam dan tradisi Nusantara.

Bagi Martha, kecantikan bukan semata urusan penampilan. Pengetahuan tentang tanaman herbal, ramuan tradisional, dan kebiasaan merawat diri yang diwariskan antargenerasi menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya. Ia berupaya membawa pengetahuan tersebut ke dalam industri modern tanpa melepaskan identitas Indonesia.

Dari Salon Kecil Menuju Industri Kosmetik

Perjalanan Martha di dunia kecantikan tidak berlangsung secara instan. Perempuan kelahiran 4 September 1937 itu terlebih dahulu menempuh pendidikan di bidang kecantikan, termasuk di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.

Bekal pendidikan tersebut menjadi salah satu modalnya ketika mengembangkan usaha setelah kembali ke Indonesia. Namun, pengetahuan modern bukan satu-satunya pijakan yang ia gunakan. Martha juga menaruh perhatian pada tradisi perawatan tubuh dan pemanfaatan tanaman herbal yang dikenal masyarakat.

Pada 1972, ia membuka Martha Griya Salon di Menteng. Salon ini menjadi tempat pengembangan perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal yang kemudian menjadi salah satu ciri usahanya.

Lima tahun kemudian, Martha bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady mendirikan PT Martina Berto. Pada tahun yang sama, perusahaan tersebut meluncurkan Sariayu sebagai produk kecantikan dan jamu modern.

Langkah itu menjadi titik penting dalam perjalanan bisnis Martha. Usahanya tidak lagi terbatas pada pelayanan salon, tetapi mulai bergerak ke produksi kosmetik yang dapat menjangkau konsumen lebih luas.

Pada 1981, PT Martina Berto mendirikan pabrik di kawasan industri Pulogadung, Jakarta. Dua tahun kemudian, perusahaan kembali membangun pabrik kedua di kawasan yang sama. Perkembangan tersebut memperlihatkan perubahan skala usaha yang dirintis Martha, dari salon rumahan menjadi bisnis produksi dan distribusi kosmetik.

Perusahaan kemudian mengembangkan berbagai merek, di antaranya Biokos, Caring Colours, Belia, dan Professional Artist Cosmetics (PAC). Di bawah kelompok usaha Martha Tilaar, bidang pendidikan kecantikan dan layanan spa juga menjadi bagian dari pengembangan bisnis.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa industri kecantikan bukan hanya berkaitan dengan produk yang digunakan konsumen. Di dalamnya terdapat kebutuhan akan riset, tenaga terampil, pendidikan, produksi, dan jaringan distribusi yang saling mendukung.

 

Mengangkat Tradisi Kecantikan Nusantara

Salah satu hal yang membedakan perjalanan Martha adalah pilihannya menjadikan kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inspirasi pengembangan produk.

Dalam pengembangan Sariayu, Martha menaruh perhatian pada tradisi perawatan kecantikan perempuan Jawa, termasuk pengetahuan yang tercatat dalam manuskrip kuno Keraton Yogyakarta. Ia mempelajari bagaimana tradisi tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi produk kecantikan yang dikembangkan dengan pendekatan modern.

Pilihan itu menempatkan budaya bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari identitas produk. Tanaman herbal, ramuan tradisional, dan pengetahuan mengenai perawatan tubuh menjadi sumber yang dapat dipelajari serta dikembangkan untuk kebutuhan masa kini.

Pada 1987, Sariayu mulai memperkenalkan tren warna tata rias yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, keragaman Nusantara hadir dalam pengembangan produk kosmetik.

Upaya Martha juga memperlihatkan bahwa produk lokal dapat dibangun dengan karakter yang berbeda. Di tengah perkembangan industri kecantikan yang dipengaruhi berbagai tren internasional, ia berusaha memperkenalkan kekayaan alam dan tradisi Indonesia sebagai bagian dari daya tarik produk.

Tentu, mengembangkan produk berbasis tradisi ke dalam industri modern membutuhkan lebih dari sekadar mengambil bahan alami. Pengetahuan lokal perlu dipelajari, sementara produk yang dihasilkan harus dikembangkan sesuai kebutuhan konsumen. Namun, gagasan Martha memperlihatkan bahwa tradisi dapat menjadi titik awal bagi inovasi, bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika masyarakat memasuki kehidupan modern.

Warisan inilah yang membuat perjalanan Martha tidak hanya berkaitan dengan sejarah sebuah perusahaan, tetapi juga dengan upaya membangun identitas industri kecantikan lokal.

Perempuan yang Membangun Jalannya Sendiri

Perjalanan Martha Tilaar juga menjadi bagian dari kisah perempuan Indonesia yang membangun usaha melalui pendidikan, ketekunan, dan keberanian mengambil keputusan.

Ia memulai dari ruang yang terbatas, kemudian mengembangkan bisnis secara bertahap. Salon, pabrik kosmetik, merek produk, hingga lembaga pendidikan kecantikan tumbuh menjadi bagian dari perjalanan usaha yang berlangsung selama puluhan tahun.

Pada 2016, Martha menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Indonesia. Penghargaan tersebut menjadi salah satu pengakuan atas kontribusinya di bidang budaya.

Namun, pencapaian Martha tidak hanya dapat dilihat melalui penghargaan atau besarnya usaha yang dibangun. Perjalanan hidupnya juga memperlihatkan bagaimana seorang perempuan dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya menjadi usaha yang memiliki jangkauan lebih luas.

Di bidang kecantikan, ia membangun ruang bagi pengetahuan tradisional untuk bertemu dengan pendidikan, teknologi, dan kebutuhan pasar. Melalui pengembangan usaha, ia turut membentuk ekosistem yang melibatkan tenaga profesional dan pendidikan keterampilan.

Warisan yang Perlu Diteruskan

Martha Tilaar telah berpulang, tetapi perjalanan yang ia tinggalkan menjadi bagian dari sejarah industri kecantikan Indonesia. Dari salon kecil di Menteng, ia membangun usaha yang mempertemukan kosmetik modern dengan inspirasi tradisi dan kekayaan alam Nusantara.

Industri kecantikan terus berubah mengikuti perkembangan teknologi, selera konsumen, dan persaingan pasar. Karena itu, warisan Martha tidak cukup dikenang melalui nama merek atau produk yang pernah populer. Gagasan yang ia bawa juga relevan untuk melihat bagaimana kekayaan budaya dapat terus dikembangkan tanpa kehilangan akar identitasnya.

Tradisi perawatan tubuh dan pengetahuan mengenai tanaman herbal merupakan bagian dari kekayaan masyarakat Indonesia. Pengembangannya membutuhkan penelitian, inovasi, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Dalam perjalanan Martha, tradisi tersebut menjadi salah satu sumber inspirasi untuk membangun bisnis kecantikan.

Kepergiannya sekaligus mengingatkan bahwa membangun industri lokal membutuhkan keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk mengembangkannya. Apa yang bermula dari sebuah garasi menunjukkan bahwa usaha yang dirintis dari ruang sederhana dapat tumbuh menjadi bagian dari perjalanan industri nasional.

Martha Tilaar meninggalkan warisan berupa usaha, pengetahuan, dan gagasan tentang kecantikan yang berakar pada identitas Indonesia. Perjalanan hidupnya akan dikenang sebagai bagian dari upaya membawa kekayaan Nusantara ke dalam industri modern, sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk terus mengembangkan potensi lokal.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo