Arina.id ~ Kehidupan manusia seringkali diliputi kegelisahan. Keadaan ini menyebabkan kehidupan manusia menjadi tidak bahagia. Kegelisahan terjadi biasanya karena adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Keadaan ini banyak dialami manusia baik pada orang kaya, orang miskin, orang dewasa, maupun remaja.
“Kegelisahan dalam kehidupan manusia berakar dari hatinya. Jika manusia memperturutkan keinginan hatinya, dengan membesar-besarkan persoalan yang dihadapi, maka kegelisahannya akan semakin menyiksa diri, bahkan dapat berakibat fatal, ada yang sampai gila dan bahkan bunuh diri,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan.
Menurutnya, puasa merupakan ibadah yang disyariatkan Allah kepada umat manusia, tidak hanya kepada umat Islam, yang salah satu tujuannya adalah untuk mengikis sifat resah dan gelisah pada hati manusia. Bahkan Allah Swt menyatakan puasa itu untuk menjadikan pelakunya menjadi orang-orang-orang yang bertakwa.
“Orang yang bertakwa berarti orang-orang yang hatinya hanya terpaut kepada Allah Swt, dan takutnya juga hanya kepada Allah Swt. Orang yang bertakwa tidak pernah takut dengan keadaan apapun juga karena dalam dirinya telah tertanam keyakinan bahwa Allah Swt memberikan beban kepada manusia sesuai dengan kemampuannya,” jelasnya dikutip Arina.id pada Rabu (20/3/2024).
Dengan berpuasa, sejatinya Allah melatih manusia untuk hanya percaya kepada Allah Swt dalam segala hal, dan memercayai bahwa segala beban hidup dan cobaan hidup manusia masih dalam batas-batas kemampuan manusia.
Dengan menjadi orang bertakwa, manusia tidak lagi dihantui rasa khawatir dan resah dalam hatinya. Maka dari itu, jiwa orang bertakwa adalah jiwa yang tidak kikir, sehingga dalam kondisi apapun ia masih mau beramal.
Puasa menentramkan hati, dapat dilihat juga dalam sabda Rasulullah Saw saat menasihati para pemuda yang sudah berkeinginan untuk menikah tetapi belum memiliki kemampuan. Beliau bersabda, “Wahai para pemuda barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah dikarenakan dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dan barangsiapa tidak mampu menikah maka baginya untuk berpuasa hal itu sebagai tameng baginya“ (HR. Bukhari).
“Tidak diragukan lagi baik dari tinjauan teks maupun fakta, telah terbukti bahwa dengan berpuasa hati manusia akan menjadi tentram,” pungkasnya.
Editor:


