Saat Mahasiswa ITB Menyoal Rendahnya Ketahanan Sosial-Budaya, Begini Jawaban Wamenag

Saat Mahasiswa ITB Menyoal Rendahnya Ketahanan Sosial-Budaya, Begini Jawaban Wamenag

Bandung, Arina.id - Indeks Ketahanan Nasional (IKN) 2024 berada di angka 2,87, dalam kategori cukup tangguh. Dari delapan gatra utama (asta gatra), aspek sosial budaya mendapatkan nilai 2,55. 

Sebaliknya, demografi menempati posisi tertinggi dengan skor 3,20. Hal itu mencerminkan kekuatan dari jumlah penduduk usia produktif/bonus demografi. Data IKN ini juga sempat dirilis oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI beberapa waktu lalu.

Menurut Wakil Menteri Agama RI Romo R Muhammad Syafii, salah satu aspek yang penting dan perlu digarisbawahi dalam masalah ketahanan adalah sosial budaya. Aspek itu, kata dia, adalah fondasi persatuan bangsa. 

"Sebagai salah satu syarat memperkuat capaian ekonomi, politik, hingga pertahanan" tegas Wamenag Romo Syafii saat menghadiri Studium Generale bertajuk "Mewujudkan Ketahanan Nasional: Sinergi Generasi Muda dalam Mendukung Visi Indonesia Emas 2045" di Institute Teknologi Bandung (ITB), Rabu (16/04/2025).

Penjelasan Wamenag tersebut merespon pertanyaan seorang mahasiswa dalam sesi diskusi, ketika mempersoalkan kenapa ketahanan sosial budaya masih rendah, serta menanyakan langkah konkret pemerintah ke depan untuk mengatasi masalah tersebut.

Wamenag menjelaskan, salah satu langkah strategisnya ialah pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai upaya awal untuk memperkuat jati diri bangsa, nilai-nilai luhur, dan memperluas program sosial kebudayaan.

"Ketahanan sosial budaya dibangun dari kesadaran akan siapa kita sebagai bangsa. Inilah mengapa Kementerian Kebudayaan menjadi pijakan awal untuk menjaga persatuan dan keberagaman," katanya menambahkan.

Syafii juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional melalui pemahaman sejarah, konstitusi, serta penguatan nilai-nilai Pancasila. Ia mengajak generasi muda untuk mewaspadai doktrin kolonialis seperti "The strong do what they can, and the weak suffer what they must", serta "devide et impera" dengan memperkuat solidaritas lintas identitas dan generasi. 

Salah satu poin penting yang disinggung dalam paparannya terkait urgensi penerapan Ekonomi Pancasila sebagai dasar pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945. Menurut dia, ekonomi nasional tidak boleh hanya berpihak pada inovasi pasar, tetapi harus menjamin keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. 

"Ekonomi Pancasila mendorong inovasi dan kebebasan pasar, namun tetap menempatkan negara sebagai pelindung kelompok masyarakat paling rentan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan ini, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk hadir aktif—terutama melalui social safety net—yakni perlindungan sosial bagi kelompok lemah, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 34 UUD 1945. Negara wajib memelihara fakir miskin dan anak terlantar, serta mengembangkan sistem jaminan sosial yang inklusif.

Romo Syafii menilai bahwa program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis dan sekolah rakyat yang diusung Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo-Gibran, merupakan contoh konkret implementasi prinsip tersebut. 

"Konstitusi kita menegaskan bahwa negara bukan hanya pelindung, tapi juga menjadi 'orang tua' bagi mereka yang tidak memiliki daya. Artinya, negara tidak boleh netral terhadap ketimpangan. Negara harus hadir, memberi makan, pendidikan, dan perlindungan bagi mereka yang paling rentan," katanya.

Program-program tersebut dinilainya sejalan dengan cita-cita menuju negara kesejahteraan (welfare state) yang berkeadilan dan bermartabat. Visi Indonesia Emas 2045, lanjut Romo Syafii, hanya bisa terwujud jika pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat bersinergi membangun fondasi perubahan sejak dini, mulai dari periode Asta Cita 2025–2029.

"Ketahanan nasional tidak hanya soal militer atau keamanan, tapi juga soal ketahanan ekonomi, sosial, dan moral. Di sinilah generasi muda memegang peran strategis sebagai agent of change," tukasnya.

Dalam acara tersebut, Romo Syafii sempat berkelakar dengan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara yang baru menjabat sebagai Rektor ITB periode 2025–2030.

"Cuaca cerah hari ini menyambut kita di Bandung. Mungkin ini pertanda bahwa masa depan Indonesia juga akan cerah," ujarnya dalam acara yang digelar secara luring dan disiarkan lewat Youtube dan bisa diikuti seluruh mahasiswa ITB tersebut.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo