Madinah, Arina.id — Kementerian Agama merilis data terbaru, hari ini, Senin (13/5/2024) telah ada 4.500 jemaah haji yang mendarat di Madinah. Mereka juga telah berada di hotel-hotel pemondokan yang telah terbagi berdasarkan asal embarkasi.
Pembimbing Ibadah yang tergabung dalam Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah, Prof. KH. Aswadi menjelaskan bahwa selama di Madinah, aktivitas utama jemaah adalah beribadah. Hal ini bisa dilakukan di Masjid Nabawi atau di hotel, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kesehatan jemaah.
Menurut KH Aswadi, nilai pahala salat di Masjid Nabawi mencapai 1.000 kali lipat. Selain salat wajib, jemaah juga bisa melakukan ibadah sunnah lainnya, misalnya: salat sunnah, membaca Al-Quran, bahkan jika mampu hingga menghatamkan.
“Jemaah haji selama berada di Kota Madinah diharapkan memperbanyak bacaan Salawat kepada Rasulullah. Kita semua berharap bisa mendapatkan syafaat Rasulullah, kelak di Yaumul Akhir,” ucapnya di Madinah, Jumat (10/5/2024).
Meski banyak keistimewaan, KH. Aswadi menekankan, bahwa amalan yang dilakukan harus tetap sesuai kemampuan. Jemaah diimbau tidak memaksakan diri.
“Contohnya, jemaah lanjut usia, sebaiknya melihat kondisi kesehatan. Jika kondisi kesehatannya fit dan merasa sanggup, bisa beribadah di Masjid Nabawi. Jika kondisi kesehatannya tidak mendukung untuk berangkat ke Masjid Nabawi, alangkah baiknya untuk tetap melakukan amalan di hotel tempat menginap,” paparnya.
“Jemaah haji lansia, dengan beribadah di hotel dapat menjaga kondisi hingga puncak haji. Meskipun demikian, fadilah dan pahala yang didapatkan sama dengan ibadah yang dilakukan di Masjid Nabawi,” terang KH. Aswadi.
Bagi jemaah haji yang ingin tetap melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi, ada sejumlah panduan atau tips agar tetap aman dan nyaman.
Berikut ini beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:
1. Catat nama dan nomor pemondokan
Pada saat jemaah meninggalkan hotel, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencatat nama dan nomor pemondokan. Hal ini penting dilakukan agar jemaah haji tidak tersesat ketika hendak balik ke pemondokan.
2. Beri tahu dan catat nomor kontak PPIH
Selalu memberi tahu petugas PPIH yang berjaga di pemondokan. Pemberitahuan ini bisa dilakukan setiap melakukan aktivitas di luar pemondokan. Tujuannya agar jemaah haji bisa dipantau keberadaaannya. Selain itu, penting juga mencatat nomor telp petugas agar jika terjadi sesuatu bisa mendapatkan layanan cepat
3. Kenakan identitas pengenal
Jemaah haji memang seharusnya selalu mengenakan identitas pengenal, terutama gelang haji. Jangan pula tukar menukar gelang dengan jemaah lainnya.
4. Pergi dan pulang secara berkelompok
Jika ingin bepergian sebaiknya dilakukan bersama-sama teman atau rombongan. Hal ini jelas akan membuat lebih aman. Jika tersesat bersama, paling tidak terhindar dari penipuan dan bisa berdiskusi, sama-sama mengingat.
5. Gunakan pelembab kulit dan bibir
Untuk menghindari iritasi akibat cuaca panas, jemaah haji disarankan menggunakan krim pelembap kulit dan bibir. Bisa juga menggunakan topi atau kain handuk untuk menutup kepala.
6. Gunakan Alas Kaki
Selalu gunakan alas kaki dan kaos kaki untuk menghindari kaki melepuh. Jika kehilangan alas kaki, jangan memaksakan diri pulang ke hotel tanpa sandal di siang hari. Sebab, jalanan yang dilalui sangat panas. Hubungi petugas yang ada di sekitar Masjid Nabawi.
7. Selalu bawa air
Jemaah haji diharuskan membawa dan minum air mineral 200 ml/jam secara teratur untuk menghindari dehidrasi.
8. Atur Waktu
Atur irama keberangkatan dan kepulangan dari pemondokan menuju Masjid Nabawi, dan sebaliknya. Ini untuk menghindari penumpukan antrian lift di hotel.
9. Membawa alat komunikasi
Alat komunikasi sangat penting. Jika tersesat, bisa menghubungi kerabat atau teman-teman yang berada di hotel.
Editor:


