Arina.id — Kanal WhatsApp bernama Exercito do Lula atau Pasukan Lula menjadi salah satu instrumen penting dalam kebangkitan Luiz Inacio Lula da Silva pada Pemilihan Presiden Brasil 2026. Dalam waktu sekitar tiga pekan, kanal yang digerakkan Andre Janones itu berkembang dari puluhan ribu pengikut menjadi hampir 11 juta pelanggan.
Mobilisasi digital tersebut menguat setelah Lula tertinggal dari pesaingnya, Flavio Bolsonaro, pada putaran pertama pemungutan suara. Lula kemudian membalikkan keadaan dan memenangi putaran kedua pada Minggu, 25 Oktober 2026, dengan perolehan sekitar 51,8 persen suara, unggul sekitar 4,4 juta suara dari rivalnya.
Dikutip dari BBC News Brasil, jaringan WhatsApp tersebut membantu mengonsolidasikan pendukung Lula, memperluas jangkauan pesan kampanye, dan meningkatkan aktivitas politik di media sosial.
Dari Puluhan Ribu Tembus Jutaan
Kanal Exército do Lula dikelola Andre Janones, anggota Kongres Brasil yang ditugaskan membantu menggerakkan kampanye digital Lula. Setelah hasil putaran pertama diumumkan, Janones mengintensifkan aktivitas kanal tersebut untuk menggalang dukungan bagi presiden petahana.
Menurut laporan Al Jazeera pada 27 Oktober 2026, kanal itu memiliki sekitar 60.000 pengikut setelah putaran pertama. Jumlahnya melonjak hingga hampir 11 juta pelanggan pada hari pemungutan suara putaran kedua.
Strategi Janones tidak berhenti pada penyebaran materi kampanye. Ia memberikan tugas-tugas sederhana kepada para pendukung, mulai dari merekrut teman untuk bergabung, membagikan video Lula, hingga mendorong penggunaan tagar tertentu agar pesan kampanye menjangkau lebih banyak pengguna internet.
Pola komunikasi itu dibuat intensif dan berulang. Janones mengirimkan instruksi kepada para pendukungnya, yang kemudian dapat meneruskan pesan tersebut ke jaringan pertemanan dan komunitas masing-masing.
Pendekatan ini mengubah pendukung yang sebelumnya hanya menjadi penonton menjadi peserta aktif dalam kampanye digital. Mereka tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga diberi tindakan konkret untuk memperluas jangkauan pesan politik.
Dalam pidato kemenangan Lula, Janones mendapat pengakuan langsung dari sang presiden. Lula menyebutnya sebagai “jenderal” dan berterima kasih atas perannya dalam menjaga semangat para pendukung selama kampanye.
Strategi Lama Gerakan Baru
Penggunaan WhatsApp dalam kampanye Brasil bukan fenomena baru. Sejak kemenangan Jair Bolsonaro pada Pilpres 2018, jaringan pesan instan dan komunitas daring telah menjadi bagian penting dari komunikasi politik kelompok konservatif di negara tersebut.
Namun, dalam Pilpres 2026, kubu Lula berusaha mengejar ketertinggalan di ruang digital. Selama bertahun-tahun, kelompok konservatif dinilai memiliki keunggulan dalam mobilisasi daring, termasuk melalui WhatsApp dan Telegram.
Kehadiran Exercito do Lula memberi kubu kiri sebuah kanal terpusat untuk menyatukan pendukung yang sebelumnya tersebar di berbagai komunitas internet.
Menurut laporan ABC News Australia, strategi ini mengadopsi pola komunikasi yang agresif, intensif, dan terus-menerus. Materi kampanye dirancang agar mudah dibagikan, sementara ajakan kepada pendukung dikemas dengan bahasa yang mendesak dan identitas kolektif sebagai bagian dari “pasukan”.
Dosen hubungan internasional Oliver Stuenkel, sebagaimana dikutip ABC News, menilai pendekatan tersebut memungkinkan kubu Lula menandingi gaya komunikasi politik yang sebelumnya identik dengan kelompok kanan.
Meski demikian, strategi itu juga memiliki risiko. Pendekatan yang konfrontatif dan penggunaan materi yang asal-usulnya tidak selalu jelas dapat memunculkan persoalan mengenai akurasi informasi dan kualitas perdebatan politik.
Karena itu, besarnya jangkauan pesan digital tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh konten yang beredar akurat atau bahwa setiap penerimanya kemudian memilih Lula.
WhatsApp dan Pesan Kampanye
Kebangkitan Lula tidak dapat dijelaskan hanya melalui pertumbuhan kanal WhatsApp. Sejumlah analis yang diwawancarai media internasional menyoroti perubahan cara kampanye Lula menyampaikan pesan kepada pemilih.
Salah satu perubahan terlihat pada penggunaan video yang lebih informal. Lula tampil melalui rekaman swafoto, berbicara langsung kepada masyarakat, dan menunjukkan sisi personal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kampanye itu juga menghubungkan pengalaman hidup Lula sebagai pekerja dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ketika Flavio Bolsonaro menyinggung Lula yang kehilangan satu jari dalam sebuah debat, Lula merespons dengan mengisahkan kecelakaan kerja yang dialaminya ketika masih muda.
Pesan tersebut kemudian diperluas melalui tagar #SomosTodos9Dedos, yang berarti “Kita Semua Sembilan Jari”. Para pendukung ikut menyebarkan pesan solidaritas itu di media sosial.
Menurut analisis yang dikutip Al Jazeera, perubahan komunikasi tersebut membantu menghubungkan rekam jejak Lula dengan pengalaman konkret para pemilih, bukan sekadar menampilkan prestasi masa lalu sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
Dengan kata lain, WhatsApp berfungsi sebagai pengganda distribusi pesan, sementara perubahan narasi kampanye menyediakan materi yang dapat dibagikan dan dibicarakan.
Mobilisasi Digital Bertemu Gerakan Lapangan
Besarnya jaringan WhatsApp menjadi penting karena kampanye digital Lula berjalan bersamaan dengan mobilisasi di dunia nyata.
ABC News melaporkan bahwa sekitar 14,1 juta lebih pemilih menggunakan hak suara pada putaran kedua dibandingkan putaran pertama. Sejumlah analis memperkirakan sekitar tiga perempat suara tambahan tersebut mengalir kepada Lula.
Angka itu membantu menjelaskan perubahan hasil pemilu, tetapi tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa WhatsApp secara langsung menghasilkan suara-suara tersebut. Pemilih yang kembali memberikan suara bisa dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kampanye tatap muka, perubahan pesan politik, pilihan kebijakan, serta kekhawatiran terhadap kembalinya keluarga Bolsonaro ke pemerintahan.
BBC News Brasil juga mengutip pandangan analis yang menekankan pentingnya menghubungkan aktivitas di media sosial dengan kerja lapangan. Antusiasme daring perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata, seperti mengajak pemilih datang ke tempat pemungutan suara dan meyakinkan mereka yang belum menentukan pilihan.
Dalam konteks itu, Exército do Lula lebih tepat dipahami sebagai salah satu bagian dari operasi kampanye yang lebih luas, bukan faktor tunggal penentu kemenangan.
Seberapa Besar Pengaruh WhatsApp
Pertanyaan mengenai dampak langsung kampanye WhatsApp masih terbuka. Besarnya jumlah pelanggan menunjukkan kapasitas distribusi pesan, tetapi tidak otomatis menggambarkan jumlah pemilih yang berubah pilihan akibat pesan tersebut.
Seorang akademisi yang dikutip Al Jazeera mengingatkan bahwa hubungan empiris antara keberadaan kanal itu dan hasil akhir pemilu sulit dipastikan. Tidak semua pelanggan merupakan pemilih aktif Lula, dan tidak semua orang yang menerima pesan akan terpengaruh oleh isinya.
Selain itu, hasil pemilu dipengaruhi banyak variabel. Perubahan tingkat partisipasi, dinamika kampanye putaran kedua, citra kandidat, serta persoalan sosial dan ekonomi ikut membentuk keputusan pemilih.
Karena itu, capaian Exército do Lula lebih kuat dibaca sebagai bukti kemampuan mengorganisasi dan memperluas komunikasi politik dalam skala besar. Seberapa besar kontribusinya terhadap kemenangan tetap membutuhkan penelitian yang menghubungkan paparan pesan dengan perilaku pemilih.
Bagi Lula, keberhasilan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pertarungan politik Brasil tidak hanya berlangsung di panggung debat, rapat umum, dan tempat pemungutan suara. Perebutan perhatian publik melalui aplikasi pesan instan juga menjadi bagian penting dari strategi elektoral.
Kemenangan Lula pada akhirnya merupakan hasil dari sejumlah faktor yang saling berinteraksi. WhatsApp menyediakan jaringan, Janones mengorganisasi pendukung, dan perubahan komunikasi kampanye membantu membawa pesan politik kepada pemilih. Namun, menentukan bobot masing-masing faktor memerlukan bukti yang lebih kuat daripada sekadar pertumbuhan jumlah pelanggan kanal digital.
Editor:


