Arina.id - Pemimpin tertinggi monarki Britania Raya, Raja Charles III membacakan Hadits Nabi Muhammad saat menjamu Sultan Oman, Raja Haitham bin Tariq al Said dalam jamuan kenegaraan di Kastil Windsor, Inggris pada Selasa (20/10/2026).
Raja Charles menyambut kunjungan 3 hari Sultan Oman dengan pidato kurang lebih 11 menit. Di menit ke-6, ia mengutip Hadits Nabi Muhammad yang menerangkan karakteristik masyarakat Oman dengan redaksi bahasa Arab. “As the Prophet Mohammed Said of the character of the people of Oman” ungkap Raja Charles sebelum mengutip Hadits Nabi.
Hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya no. 2544 sebagaimana berikut:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ ، حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ ، عَنْ أَبِي الْوَازِعِ جَابِرِ بْنِ عَمْرٍو الرَّاسِبِيِّ ، سَمِعْتُ أَبَا بَرْزَةَ يَقُولُ: « بَعَثَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا إِلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَسَبُّوهُ وَضَرَبُوهُ، فَجَاءَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَوْ أَنَّ أَهْلَ عُمَانَ أَتَيْتَ مَا سَبُّوكَ وَلَا ضَرَبُوكَ
Artinya: "Jābir bin ‘Amr al-Rāsibi berkata, aku mendengar Abu Barzah berkata, Rasulullah mengutus seorang pria kepada salah satu orang dari masyarakat Arab tetapi dia memaki dan memukulnya. Kemudian dia kembali kepada Rasulullah dan mengabari beliau tentang kejadian itu. Kemudian Rasulullah bersabda “jika penduduk Oman datang kepadamu, mereka tidak akan memaki dan memukulmu.”
Hadits tesebut secara spesifik ditulis oleh Imam Muslim dengan judul Bāb Faḍli Ahli Ummān (Bab menerangkan keutamaan penduduk Oman). Imam Nawawi dalam Al-Minhāj Syarḥ Saḥīḥ Muslim bin Ḥajjāj, [Beirut: Dar Ihya Turats Arabi, vol. 16, hlm. 98] menyebutkan bahwa hadits ini berbicara tentang keutamaan dan pujian Rasulullah kepada penduduk Oman (wa fihi al-Ṡanā’u ‘alaihim wa faḍluhum).
Catatan hadits terkait pujian kepada penduduk Oman juga terekam dalam Musnad Ahmad no. 308 sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ، أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، أَخْبَرَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ الْخِرِّيتِ، عَنْ أَبِي لَبِيدٍ، قَالَ: خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ طَاحِيَةَ مُهَاجِرًا، يُقَالُ لَهُ: بَيْرَحُ بْنُ أَسَدٍ، فَقَدِمَ الْمَدِينَةَ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِأَيَّامٍ، فَرَآهُ عُمَرُ، فَعَلِمَ أَنَّهُ غَرِيبٌ، فَقَالَ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: مِنْ أَهْلِ عُمَانَ. قَالَ: مِنْ أَهْلِ عُمَان؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رضي الله عنه، فَقَالَ: هَذَا مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ الَّتِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: " إِنِّي لَأَعْلَمُ أَرْضًا يُقَالُ لَهَا: عُمَانُ، يَنْضَحُ بِنَاحِيَتِهَا الْبَحْرُ، بِهَا حَيٌّ مِنَ الْعَرَبِ لَوْ أَتَاهُمْ رَسُولِي مَا رَمَوْهُ بِسَهْمٍ وَلا حَجَرٍ "
Artinya: "Dari Abu Labid berkata, sorang pria bernama Bayrah bin Asad keluar dari daerah Ṭāḥiyah untuk hijah, dia sampai di kota Madinah selang beberapa hari dari wafatnya Rasulullah SAW. Umar memandanginya, Umar menyadari bahwa dia adalah orang asing, Umar bertanya, siapa kamu? Dia menjawab, dari penduduk Oman, Umar bertanya, dari penduduk Oman? Dia menjawab, Iya. Kemudian Umar membawanya bertemu Abu Bakar, kemudian Umar berkata, orang ini adalah penduduk daerah yang aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Sungguh aku telah mengetahui suatu daerah yang disebut dengan Oman, di kanan kirinya lautan, masyarakatnya dari orang Arab yang jika didatangi oleh delegasiku, mereka tidak akan membidiknya dengan panah maupun batu.”
Ahmad bin Umar al-Qurṭubi (578-656 H) menjelaskan dan berpendapat bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah adalah penduduk Oman yang dari arah Yaman, sebagaimana catatannya berikut:
ويعني: أن أهل عمان قوم فيهم علم وعفاف وتثبُّت، والأشبه: أنهم أهل عمان التي قِبل اليمن، لأنَّهم ألين قلوبًا، وأرق أفئدة، وأما أهل عمان الشام فسلامة لك منهم وسلام
Artinya: "Yakni bahwa penduduk Oman adalah kaum yang terdidik, terhormat, dan mempunyai keteguhan. Pendapat yang lebih sesuai adalah bahwa mereka merupakan penduduk Oman yang dari arah Yaman, sebab mereka adalah orang-orang yang berhati lembut, sedangkan penduduk Oman Syam, maka keselamatan bagimu dari mereka dan ucapan salam." (Ahmad bin Umar al-Qurṭubi, Al-Mufhim li Mā Asykala min Talkhīṣi Kitābi Muslim, [Beirut: Dar Ibn Kathir, 1996], vol. 6, hlm. 520.).
Catatan al-Qurṭubi menegaskan bahwa terdapat dua penafsiran terkait teritori yang dimaksud dalam hadits Rasulullah tesebut, antara Oman yang dekat Yaman dan Oman Syam. Keduanya seakan mempunyai karakeristik masyarakat yang berbanding terbalik dalam catatan tersebut.
Akan tetapi, penafsiran para ulama menegaskan bahwa yang dimaksud Rasulullah adalah Oman Yaman, sebagaimana catatan Muhammad Amin al-Harari (1929-2019 M) berikut:
بضم العين وتخفيف الميم معروف من قبل اليمن وهي الآن دولة مستقلة عاصمتها مسقط وقد ضبطه بعضهم بفتح العين وتشديد الميم وأراد به عمان البلقاء التي كانت بالأردن ولكنه أخطأ والصحيح أن المراد به هنا عمان باليمين
Artinya: "Oman dengan membaca ḍammah ‘ain dan tidak mentasydid mim, negara yang terkenal dari arah Yaman yang sekarang berbentuk sebuah negara yang berdaulat dengan ibu kota yang bernama Muscat. Sebagian ulama membaca fathah ‘ain dan mentasydid mim dan menafsirkannya sebagai Amman al-Balqa’ yang ada di Yordania, tetapi pernyataan itu salah, dan yang sahih adalah Oman yang berdampingan dengan Yaman." (Muhammad Amin al-Harari, Al-Kaukabul Wahhāj wal Rauḍul Bahhāj fi Syarḥ Ṣahīṣ Muslim bin Ḥajjāj, [Jeddah: darul Minhaj, 2009], vol. 24, hlm. 246.).
Oman Yaman lebih pas dengan penyebutan hadits yakni dengan membaca dhammah ‘ain dan tidak mentasydid mim. Sedangkan Oman Syam dibaca dengan memfathah ‘ain dan mentasydid mim. Catatan al-Harari ini mengarah kepada Amman ibu kota Yordania, mengingat Yordania di era kuno termasuk dalam bagian dari wilayah Syam.
Selain al-Harari, ulama kekinian Dr. Musa Syahin Lasyin (1920-2009) juga menegaskan bahwa Oman tetangga Yaman adalah yang dimaksud oleh Rasulullah. Simak catatannya sebagai berikut:
وهكذا كان أهل عمان في هذا الزمن أرق أفئدة، وأنقى لسانا، وأنظف يدا من كثير من أحياء العرب. فأثنى عليهم صلى الله عليه وسلم، ليقتدي بهم من عاصرهم، ومن يسمع بحسن أخلاقهم
Artinya: "Demikianlah penduduk Oman di era kini, mereka adalah orang-orang yang berhati lembut, bertutur kata yang halus, dan bertangan bersih dari pda orang Arab lainnya. Maka Rasulullah SAW memuji mereka agar orang yang se-era dengan mereka mengikuti prilaku mereka dan orang yang mendengar informasi tentang kebaikan akhlak mereka meniru mereka." (Musa Syahin Lasyin, Fatḥul Mun’im Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, [Darul Syuruq, 2002], vol. 9, hlm. 599.).
Penulis menilai kutipan hadits yang dibacakan oleh Raja Charles III adalah sebuah bentuk diplomasi politik untuk menyambut tamu sesuai dengan identitas mereka, yaitu identitas keislaman dan kebangsaan Arab. Secara tidak langsung Sultan Haitham merasakan kehangatan dan keramahan sambutan dari pimpinan tertinggi monarki Britania tersebut.
Diplomasi identitas dan bahasa kerap kali digunakan oleh para pimpinan negara. Seperti Barack Hussein Obama yang menyapa masyarakat Indonesia dengan beberapa kalimat berbahasa Indonesia ketika berpidato di Universitas Indonesia pada 10 November 2010. Sapaan ini sontak mendapatkan gemuruh atensi dari para hadirin. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


