Arina.id - Media Rusia, RIA Novosti, menyebut Indonesia menolak segala bentuk neokolonialisme. Narasi ini muncul di tengah memanasnya peta politik global, terutama ketegangan hubungan antara blok Rusia CS vs Amerika dan sekutunya: Nato.
Media rusia itu mengutip pernyataan Politisi Golkar Mokhtar Ali Ngabalin saat berkunjung ke Rusia sebagai utusan atau delegasi dari partainya. Ngabalin yang juga Kepala Departemen Hubungan Internasional dan Kebijakan Luar Negeri Partai Golkar Indonesia itu sempat meladeni wawancara dengan RIA Novosti.
"Semangat penolakan terhadap neokolonialisme sudah mengakar kuat dalam banyak kebijakan nasional Indonesia. Di parlemen, prinsip-prinsip melindungi kedaulatan dan mencegah campur tangan asing berfungsi sebagai pedoman ketika membahas RUU yang terkait dengan kebijakan luar negeri, ekonomi dan keamanan," kata Ngabalin.
Ia menambahkan, kekuatan Indonesia terletak pada kesadaran dirinya sebagai negara berdaulat dan konsistensi pemerintah dan parlemen dalam melindungi prinsip-prinsip tersebut.
"Sejujurnya, saya merasa sulit untuk menemukan kata-kata untuk menggambarkan betapa hangat, terorganisir, dan ramah negara ini (Rusia)," kata Ngabalin melanjutkan.
Infrastruktur kota, kata dia, dipikirkan dengan baik, transportasi nyaman, dan orang-orangnya sangat baik, warga sipil, maupun perwakilan lembaga penegak hukum – ramah dan selalu siap membantu.
"Ke mana pun kami pergi, orang-orang dengan rela menyapa dan menanggapi permintaan. Rusia yang saya lihat ternyata jauh lebih terbuka, hangat dan manusiawi daripada citra yang sering terbentuk dari kejauhan," katanya menegaskan.
Editor:


