Sejarah dan Peran Sunan Kudus dalam Tradisi Dandangan

Sejarah dan Peran Sunan Kudus dalam Tradisi Dandangan

Arina.id ~ Tradisi Dandangan yang dilakukan masyarakat Kudus, Jawa Tengah menjadi sebuah momentum pengumuman awal bulan suci Ramadhan. Masyarakat Kudus senantiasa menyambutnya dengan semangat dan suka cita. Tidak hanya itu, Tradisi Dandangan juga sarat akan nilai-nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) seperti Sejarah, Ekonomi, Antropologi, Sosiologi, Politik, dan Psikologi Sosial. 

Demikian terungkap dalam penelitian yang dilakukan Erik Aditia Ismaya dan Santoso dari Universitas Muria Kudus. Penelitian berjudl Tradisi dandangan sebagai Kajian Pembelajaran dalam Mendukung Pencapaian Visi Universitas Kebudayaan (Studi pada Mata Kuliah Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial), dimuat dalam jurnal Refkleksi EdukatikaL Jurnal Ilmiah Kependidikan Volume 10 Nomor 1, Desember 2019.

Para peneliti mengungkapkan, jika biasanya Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus ramai oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah maka pada sampai dua minggu sebelum bulan suci Ramadhan ada suasana yang berbeda di sekitar Masjid “Al Aqsho” Menara Kudus, di Kudus Jawa Tengah. Suasana menjadi semakin ramai dan meriah dengan adanya pedagang musiman yang datang dari berbagai daerah yang menjual berbagai jenis barang dagangan. 

Para pedagang tidak hanya berjualan di sekitar Masjid “Al Aqsho” Menara Kudus tetapi meluas hingga sepanjang jalan Sunan Kudus sampai Alun-alun Simpang Tujuh dan jalan Kudus-Jepara. Kehadiran para pedagang dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dikenal sebagai Tradisi Dandangan. 

Peneliti menyebutkan narasumber Denny Nur Hakim (juru bicara Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus) yang menjelaskan pengertian Tradisi Dandangan berasal dari suara bedug yang ditabuh. Suara bedug yang berbunyi “dang dang dang” ketika dipukul pada bagian tengah dan berbunyi “dug dug dug” ketika dipukul pada bagian pinggir bedug kemudian menjadi tanda dimulainya bulan suci Ramadhan serta dikenal sebagai Dandangan.

Sementara Khasanah (2011) memiliki pendapat lain mengenai Tradisi Dandangan. Dandangan berasal dari kata Ndang, yang diperoleh dari bunyi/suara Bedhug yang ditabuh, sehingga mengeluarkan bunyi Ndang-Ndang (ayo) yang didengar oleh semua masyarakat Kudus maupun diluar Kudus untuk datang dan berbondong-bondong berkumpul di Masjid Menara guna menerima penjelasan dari Sunan Kudus dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Pengumuman datangnya bulan Ramadhan disambut suka cita oleh para santri dan masyarakat yang hadir waktu itu. Mereka pun mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat tarawih dan sahur pertama. Kebutuhan makan sahur inilah yang kemudian ditangkap oleh masyarakat sekitar Masjid “Al Aqso” Menara Kudus untuk berjualan makanan sehingga muncul pasar rakyat dadakan yang kemudian terkenal dengan sebutan Dandangan.

Peran Sunan Kudus
Dari perspektif Sejarah, peneliti menyebutkan bahwa kemunculan Tradisi Dandangan tidak bisa dilepaskan dari sosok Sunan Kudus yang merupakan founding father Kota Kudus. 

Peneliti mengutip Salam (1960) yang menyatakan bahwa Sunan Kudus sebagai anggota Walisongo merupakan sosok yang sangat alim serta pandai dalam ilmu fiqih dan ilmu falak (astronomi). Keahlian Sunan Kudus dalam ilmu falak inilah yang kemudian melahirkan Tradisi Dandangan. Kemudian mengutip Jatmiko (2012) berpendapat bahwa Tradisi Dandangan pertama kali digelar pada tahun 1549 Masehi.

Disebutkan juga bahwa Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa dalam agama Islam sehingga umat Muslim sangat merindukan dan antusias menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Tradisi Dandangan merupakan sebuah momentum pengumuman awal bulan suci Ramadhan pada era Sunan Kudus. Masyarakat yang sudah rindu dengan bulan Ramadhan berdatangan ke Masjid “Al Aqso” untuk mendengarkan pengumuman dari Sunan Kudus bahwa bulan Ramadhan telah tiba.

Pengumuman datangnya bulan Ramadhan oleh Sunan Kudus dilakukan setelah sholat Ashar terakhir di bulan Ruwah. Masyarakat yang datang untuk mendengarkan pengumuman datangnya bulan Ramadhan ternyata tidak hanya berasal dari Kudus saja.

Namun para santri yang merupakan murid Sunan Kudus seperti Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Sultan Hadirin dari Jepara, hingga Aryo Penangsang dari Blora datang ke Kudus. Para santri ini biasanya datang antara dua sampai tiga hari sebelum pengumuman dimulai.

Kehadiran masyarakat dan para santri dari berbagai daerah dengan jumlah mencapai puluhan bahkan ratusan orang untuk menunggu pengumuman datangnya bulan Ramadhan oleh Sunan Kudus dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Masjid “Al Aqso” untuk berjualan makanan ala kadarnya.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo