Teknologi Es Kering Dinilai Bukan Solusi Permanen Atasi Karhutla

Teknologi Es Kering Dinilai Bukan Solusi Permanen Atasi Karhutla

Jakarta, Arina.id — Penggunaan teknologi es kering atau dry ice untuk membantu penanganan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai dapat menjadi salah satu langkah darurat. Namun, teknologi tersebut tidak dapat menggantikan pencegahan kebakaran secara berkelanjutan.

Pakar mitigasi bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa upaya penanganan kabut asap melalui teknologi tersebut perlu dipahami sebagai respons terhadap kondisi darurat, bukan sebagai cara permanen untuk mencegah kebakaran berulang.

“Kalau berbicara tentang permanen, itu berarti pencegahan. Yang kita lakukan sekarang bukan pencegahan, melainkan pemadaman. Karena itu, langkah ini tidak bisa disebut sebagai solusi permanen,” ujar Dwikorita ujar Dwikorita dalam tayangan wawancara Kompas TV diakses Minggu (25/10/20260).

Ia menjelaskan, berdasarkan pemaparan dalam wawancara tersebut, penggunaan es kering oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BMKG diarahkan untuk membantu mengurangi ketebalan kabut asap di atmosfer. Kabut yang terlalu tebal dapat menghambat masuknya radiasi matahari dan mengganggu proses pembentukan awan hujan.

Dengan berkurangnya kabut asap, diharapkan proses penguapan dan evapotranspirasi dapat berlangsung lebih baik sehingga mendukung pembentukan awan hujan. Hujan kemudian diharapkan membantu penanganan kebakaran yang masih berlangsung.

Meski demikian, Dwikorita menilai efektivitas upaya tersebut bergantung pada kondisi atmosfer. Ketebalan kabut asap yang telah terakumulasi di lapisan tengah dan atas atmosfer menjadi salah satu faktor yang memengaruhi waktu penanganan.

“Semakin tebal kabut asap yang menumpuk, semakin sulit menguranginya. Kondisi itu juga membuat proses pengendalian kebakaran menjadi lebih berat,” katanya.

Dwikorita mengakui bahwa penggunaan teknologi es kering untuk kondisi kabut asap setebal itu merupakan langkah yang belum pernah ia saksikan selama sekitar satu dekade keterlibatannya dalam penanganan kebencanaan. Karena itu, ia memandang upaya tersebut sebagai terobosan yang patut dikembangkan untuk menghadapi situasi darurat.

Ia juga mendorong BMKG, BNPB, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeksplorasi teknologi alternatif agar penanganan kebakaran dan kabut asap dapat dilakukan secara lebih efektif.

Namun, menurutnya, teknologi darurat harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem pencegahan. Pemerintah tetap perlu menjaga kelembapan lahan gambut, memantau muka air tanah, serta menyiapkan langkah antisipasi berdasarkan prakiraan musim.

Dwikorita menegaskan, tujuan akhirnya bukan sekadar mempercepat hilangnya kabut asap ketika kebakaran terjadi, melainkan memastikan kejadian serupa tidak terus berulang pada musim kemarau berikutnya.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo