Jakarta, Arina.id — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu dimulai berbulan-bulan sebelum musim kemarau melalui pemantauan kondisi iklim dan pengendalian muka air tanah di lahan gambut.
Pakar mitigasi bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati, mengatakan pemerintah sebenarnya dapat mengantisipasi risiko kebakaran dengan memanfaatkan prakiraan iklim dan prediksi musim yang diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurutnya, informasi tersebut semestinya menjadi dasar untuk menentukan lokasi prioritas serta waktu pelaksanaan pembasahan lahan. Dengan demikian, pemerintah tidak perlu menunggu munculnya titik panas untuk memulai tindakan.
“Upaya pencegahan dapat dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Sistemnya sudah ada, begitu juga peralatannya. Yang diperlukan adalah pemantauan, pengoperasian, dan pengelolaan secara berkelanjutan,” ujar Dwikorita dalam tayangan wawancara Kompas TV diakses Minggu (25/10/20260).
Ia mencontohkan wilayah Riau yang berdasarkan pengalamannya kerap menghadapi periode rawan kebakaran pada Februari dan Juli. Kondisi tersebut, kata dia, semestinya menjadi dasar untuk menyusun jadwal pencegahan lebih awal.
Apabila potensi kekeringan telah diketahui sejak akhir tahun sebelumnya, pengendalian muka air tanah dapat dimulai sebelum memasuki periode rawan. Pembasahan dapat dilakukan melalui berbagai metode, termasuk modifikasi cuaca ketika kondisi awan memungkinkan.
Dwikorita menegaskan bahwa pengelolaan lahan gambut harus berlangsung sepanjang tahun. Ketika pemantauan menunjukkan muka air tanah mulai menurun, tindakan pembasahan perlu segera dilakukan agar lahan tetap memiliki kandungan air yang cukup.
Menurutnya, titik panas merupakan indikator bahwa risiko kebakaran sudah meningkat. Karena itu, pemantauan titik panas lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari kesiapsiagaan dan deteksi dini, bukan sebagai fondasi utama pencegahan.
“Kalau kita berhasil mencegah kebakaran, titik panas seharusnya muncul sangat sedikit. Semakin banyak titik panas, berarti upaya pencegahan kita semakin kurang berhasil,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan sistem pemantauan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, termasuk penggunaan instrumen, teknologi Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI).
Data yang terkumpul dapat membantu pemerintah mengenali perubahan kondisi lahan dan menentukan tindakan yang sesuai sebelum kebakaran terjadi.
Dwikorita berharap, seluruh perangkat tersebut dioperasikan secara konsisten dengan melibatkan lembaga terkait dan pemerintah daerah.
Menurutnya, keberhasilan pencegahan tidak cukup diukur dari kecepatan memadamkan api, tetapi juga dari kemampuan menekan kemunculan titik panas sejak awal.
Editor: Kendi Setiawan


